DUNIA TANPA SUARA

Dunia
Tanpa Suara
Dunia Tanpa Suara
| pembaca

Dunia Tanpa Suara – Dunia di mana setan dan manusia bisa saling melihat dan berbicara antara satu dengan yang lain-nya.

**

Mungkin sebentar lagi aku akan mati dengan alur cerita yang kubuat sendiri. Tubuh ini terasa begitu letih, tapi mata dan pikiran ini sepertinya tidak mau untuk kuajak berhenti barang sejenak, "mereka" begitu bersemangat dan terus memaksaku untuk tetap berada di sini.


Di depan laptop kesayanganku, di antara puntung-puntung rokok yang semakin "menggunung" di dalam asbak. Jemariku masih terus bergerak, menekan tombol dan angka di keyboard pada laptop yang begitu setia menemani malam-malam panjangku. 

Tanpa kusadari, beberapa malam ini aku begitu asik dengan dunia ku sendiri.

Seperti malam ini, sebelum kutinggal pergi kebalik dinding tipis yang membatasi antara duniaku dengan dunia-nya. Kulihat Ia masih begitu asik dengan mainan-nya. Dan tanpa kusadari, ternyata saat ini Ia sudah berada di samping-ku. Menarik-narik tangan kiriku, mengajakku menemaninya bermain seperti biasa. Tapi malam ini, kedua telingaku seperti nya terlalu jauh untuk bisa menangkap suara-suara kecil yang sedari tadi  terus memanggil - manggilku, sesekali kudengar suaranya merengek, memintaku untuk segera menemaninya bermain.

Dari balik dinding tipis dan tembus pandang ini, aku bisa melihat semuanya,  gerak lucu tubuh mungilnya, juga suara kecil yang masih terus memanggil-manggilku dari tempatnya bermain-main bersama teman-teman  imajinasinya.

“Ah..lagi-lagi aku mengabaikan bidadari kecil itu,” kataku pada sosok yang sedang membuat secangkir kopi susu.

Sesaat dia berhenti mengaduk kopi susu di dalam cangkir, menatapku sebentar lalu tersenyum gemas menatap bidadari kecilku yang terlihat begitu lucu dan tidak bisa melihat dirinya itu.

Saat ini aku sedang berada di Dunia Tanpa Suara, dunia di mana masing-masing karakter dari semua tokoh-tokoh yang pernah ku ceritakan dalam setiap naskah ceritaku itu begitu hidup. Mereka bukan saja cuma mengajakku bercanda, tapi juga terkadang menarik kedua telapak tanganku, menyentuhkannya ke dada mereka, seolah ingin membagikan semua rasa yang sedang mereka rasakan saat itu.


**

Malam ini, seperti biasa orang-orang yang biasanya ku jumpai dan selalu mengajaku pergi ke dunia nya itu sudah berada di depan kamarku, mengetuk perlahan pintu kamar tidurku, ketukan pada pintu kamar yang cuma aku saja yang mampu mendengarnya.

Dan seperti biasa, setelah kubuka pintu kamar tidurku, dia tersenyum manis di hadapanku, menarik tanganku, berjalan pelan menuju ke arah dapur, lalu segera membuatkan aku segelas kopi susu.

Seperti yang sudah-sudah, dia akan memintaku untuk segera duduk di atas kursi yang menghadap ke meja kayu itu. Meja kayu yang diatasnya ada laptop kesayanganku, dan seperti biasa juga dia akan memintaku untuk segera menghidupkan-nya dan meletakan secangkir kopi susu di sebelahnya, tak lupa meletakan sebungkus rokok sebelum dia pergi meninggalkan ku dan kembali lagi ke Dunia Tanpa Suara.

Dunia di mana setan dan manusia bisa saling melihat dan berbicara antara satu dengan yang lain-nya. Dunia di mana semua penghuni di dalamnya bisa berkomunikasi dengan semua bahasa. Dunia di mana suara bukanlah menjadi yang paling utama, Dunia di mana aku bisa melihat para penghuni di dalamnya tidak lagi berbicara dengan menggunakan bahasa manusia. Dunia yang perlahan-lahan mulai mengajariku untuk bisa mengerti bahasa mereka.

Seperti saat ini, di mana aku berbicara dengannya, dengan dengan menggunakan bahasa rasa. 


“Itu siapa?” tanyaku sambil menunjuk ke arah dua sosok yang kulihat sedang asik berbicara.

Di ujung sana. Di atas Sofa Minimalis, aku melihat dua sosok sedang duduk, yang satu memakai pakaian berwarna putih dan kulihat ada sayap yang juga berwarna putih menyembul dari balik punggungnya. Sedangkan yang duduk di sebelahnya adalah seorang lelaki setengah tua,
mengenakan jubah panjang berwarna hitam, wajahnya tidak terlihat begitu jelas dari tempatku saat ini, terhalang oleh jubah hitamnya yang menutupi sebagian wajahnya hingga ke bagian kepalanya.

Sesekali mereka kulihat tertawa, mereka berdua terlihat cukup akrab, terbukti dari bahasa tubuh mereka yang begitu santai.

Samar-samar, bisa kulihat mereka sepertinya sedang bercanda, masing-masing sedang memegang cangkir di tangannya.

 “Yang satu itu Malaikat,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah sosok yang mengenakan pakaian serba putih.

“Dan yang itu?" tanyaku lagi sambil menunjuk ke arah sosok yang sedang duduk di sebelahnya, sosok yang mengenakan jubah panjang bewarna hitam.

“Itu Iblis," katanya, tanpa menoleh ke arahku.

“Ayo cepat,” katanya lagi seraya menarik jari tanganku agar secepat-nya menghidupkan laptop di depanku. Ku ikuti permintaan nya, segera kunyalakan laptop di atas meja.

Sambil menunggu sampai proses loading-nya selesai, kubakar sebatang rokok, lalu  kembali menatap ke arah dua sosok yang sedari tadi kulihat sedang bercerita, sesekali kulihat mereka mendekatkan ujung cangkir nya ke bibirnya masing-masing.

"Mungkin mereka sedang minum kopi," pikirku, sambil melihat ke arah secangkir kopi susu buatan wanita berkerudung hitam yang terletak di samping laptop-ku.

Kulihat kesamping, ternyata wanita berkulit hitam manis itu sudah tidak lagi berada di situ. Seperti biasa, dia terlihat begitu tidak sabar menunggu hingga laptop ku menyala, dan seperti biasa, dia selalu pergi duluan, meninggalkan ku di tempat ini seorang diri, sambil berpesan, agar aku segera menyusulnya, pergi ke tempatnya, di dunia tanpa suara.

Setelah sekian lama menunggu, sepertinya malam ini aku sedikit kesulitan untuk menyusulnya, ke tempat biasa kami bertemu.


Sayup-sayup, bisa kudengar suara tawa dari dua sosok yang kulihat masih asik bercerita sambil duduk santai di atas kursi Sofa Minimalis. 

Kuambil cangkir kopi buatan wanita berkerudung hitam yang masih terasa begitu hangat di tanganku, sedikit menggeser kursi yang sedang kududuki,  aku segera beranjak, pergi  meninggalkan laptop yang masih menyala di atas Meja.

Melangkahkan kaki secara perlahan, kudatangi dua sosok yang seperti-nya adalah dua sahabat lama, mereka terlihat begitu asik ngobrol, sampai-sampai sepertinya tidak menyadari kalau sedari tadi aku sedang memperhatikan mereka berdua dari tempat ini.

**

Kutatap lelaki berbaju putih yang tersenyum menatap ke arah-ku, aku tersenyum balik menatap-nya, dia mengangkat cangkir di tangan kanan-nya ke-arahku, kubalas mengangkat cangkir kopi susu yang ada di dalam genggamanku.

Aku terus berjalan pelan, mendekat ke arahnya.

Sambil duduk di sebelah pria tua yang mengenakan jubah berwarna hitam, kutaruh cangkir kopi susu yang berada dalam genggamanku tepat di sebelah cangkir kopi hitam milikmya.

Lelaki setengah tua yang memakai jubah panjang berwarna hitam itu tersenyum menatapku. Menatap wajah lelah orang yang sedang duduk di sebelahnya.

“Sudah selesai ceritanya?" tanyanya padaku.

Sesekali matanya melihat ke arah laptopku yang masih menyala di atas meja sana.

“Aku tidak tahu bagaimana harus menutup alur ceritanya,” jawabku pelan sambil menghela nafas panjang, mencoba melepaskan semua rasa penatku di atas kursi sofa ini, kursi sofa yang juga di duduki oleh sosok berjubah hitam dan sosok berjubah putih itu.


“Ha..ha..” tiba-tiba dia tertawa sambil melihat ke arah teman-nya yang memakai pakaian serba putih di depanku.

Sambil menepuk-nepuk pundak-ku dengan tangan kanan nya, dia kembali berkata, "Mungkin dia lelah," 

“Apa yang bisa kubantu?" tanya lelaki yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam di sebelahku setelah tawanya sedikit reda.

“Iya apa yang bisa kami bantu?" tanya lelaki berpakain serba putih yang ada sayap di punggung-nya itu, raut mukanya terlihat serius sambil menatap wajah lelahku.

“Aku masih belum tau bagaimana cara mengakhiri alur ceritanya,” kataku pelan, sesekali kuhembuskan asap rokok-ku begitu perlahan, s
eolah sedang bicara dengan diriku sendiri.

“Tentang Wanita berkerudung merah marun  itu?" tanya lelaki setengah tua yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam sambil tersenyum menatapku.

“Bukan,” jawabku pelan sambil tersenyum menatapnya.

Tanpa sadar aku kembali menguap, mataku melihat ke arah rasa kantuk yang baru saja datang. 

"Sepertinya beberapa malam belakangan ini dia begitu sibuk, sampai-sampai tidak sempat untuk datang menjengukku di tempat ini," pikirku sambil melirik ke arah rasa kantuk yang baru saja duduk di sebelahku.

“Yang mana?” tanya lelaki berpakaian serba putih itu sedikit penasaran.

Kepalanya sedikit mendongak saat melihat ke arahku. Pandangan-nya memang sedikit tertutup oleh rasa kantuk yang tepat duduk di sebelahku.

“Apa wanita berkulit hitam manis yang mengenakan kerudung hitam yang tadi membuatkan segelas kopi susu untukmu?” tanya lelaki tua yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam di sampingku itu sambil kembali tersenyum melihatku.

Entah kenapa saat ini mataku terasa begitu berat. jangankan untuk menjawab pertanyaan lelaki tua yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam barusan, untuk membuka kelopak mataku saja, saat ini sudah terasa begitu berat bagiku.


Rasa kantuk beranjak dari tempat duduknya, menarik tanganku, mengajak ku segera pergi, meninggalkan dua sosok sahabat lama yang sepertinya sudah lama tidak pernah punya waktu untuk ngobrol berdua seperti itu.

Di antara suara dua sosok sahabat lama yang kembali bercerita, sayup-sayup telingaku masih mendengar pelan suara dan alunan musik yang berasal dari laptop yang masih menyala di atas meja sana.  

Alunan musik tembang Lir Ilir yang digubah oleh Sunan Kalijaga pada jaman kerajaan Jawa Islam, sebagai sarana dakwah/syiar agama Islam di pulau Jawa pada masa itu masih terdengar pelan di antara hembusan angin malam.

***

Banyak versi musik yang pernah dibuat/diaransemen untuk tembang ini. Dan beberapa tahun yang lalu, kelompok kesenian Kyai Kanjeng yang dipimpin oleh seniman & budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun), turut pula menyemarakkan blantika musik Indonesia dengan mengaransemen ulang tembang Lir Ilir ini dengan nuansa yang lebih religius dan sakral.

Cerita fiksi ini dibuat dan terinspirasikan dari kekaguman akan kedalaman makna tembang Lir Ilir; serta penjiwaan aransemen musiknya yang nyaris sempurna. 

Dunia Tanpa Suara, 6/26/2018

Bagikan artikel ini jika bermanfaat, dan jangan lupa baca artikel menarik lainnya di Warkasa1919.com.
📢 Dukung Warkasa1919 dengan membagikan artikel ini ke temanmu! Temukan juga inspirasi lainnya.


Tanya AI

Google
ChatGPT
Meta
×

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti