Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

 Selamat Datang

Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Tiga Belas)

 

Kisah Si Belah Mencari Tuhan
Kisah Si Belah Mencari Tuhan

<<Bagian Dua Belas

“Hehehe, mau dilanjutin gak ceritanya nih?”

“Iya, lanjutin,”

“Di dalam Kamar Wanita tua itu ternyata ada satu Meja, Satu kursi dan satu Tempat Tidur,”

“Iya, kalau ada dua Tempat Tidur di dalam Kamar milik titisan Nenek di pinggir Kali itu namanya Kamar Kos-kos an, bukan kamar tempat begituan,”  jawab Oneng mangkel, sebab Ia merasa bahwa Lelaki di depannya ini tengah “mengerjainnya” dengan cerita tentang Si Belah dan Wanita tua itu.

“Hehehe.. kok tau? Pernah ketempat-tempat begituan ya?” tanya Jabrik masih terus berusaha menggoda Perempuan muda di depannya ini.

“Auk ah! Gelap!”

“Si Belah duduk di kursi dan Wanita tua itu duduk di pinggir tempat tidurnya,”

“Iya,”

“Si Belah mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya,”

“Iya, terus?”

“Si Wanita tua yang pertama kali melihat Si Belah ini merasa seperti Dejavu, lupa-lupa ingat, seperti pernah melihat wajah Si Belah tapi lupa dimana itu mendengarkan cerita Si Belah sambil berbaring di tempat tidurnya,”

“Hemm, iya, terus?”

“Si Belah terus bercerita tentang perjalanannya berkeliling dunia, sampai akhirnya Ia bertemu dengan seorang Wanita ahli ibadah di pinggir Kali.”

“Iya, terus, apa kata Si Wanita tua di hadapan Si Belah?”

“Menangis,”

“Kenapa? Iya tau bahwa sosok Wanita tua di pinggir kali itu adalah dirinya di masa lalu?”

“Bukan,”

“Terus kenapa donk, Wanita tua itu bisa menangis saat tengah mendengar cerita Si Belah?”

“Wanita tua itu mengatakan bahwa nggak tau kenapa Ia merasa sedih dan ingin menangis saat mendengarkan cerita Si Belah tentang kisah Wanita ahli ibadah itu, padahal Ia sama sekali tidak kenal dengan sosok Wanita di pinggir kali tersebut,”

“Iya ya, terus?”

“Di akhir cerita, Si Belah mengatakan kepada Wanita itu bahwa Ia telah melunasi hutangnya untuk menyampaikan jawaban dari pertanyaan Wanita ahli ibadah di pinggir kali,”

“Iya terus apa reaksi dari Si Wanita tua yang ada di tempat pelacuran itu,”

“Tiba-tiba saja, Wanita tua itu seperti tengah melihat dirinya yang dahulu tengah berbicara dengan Si Belah di pinggir Kali,”

“Teruus..,” kali ini suara Oneng sedikit perlahan ketika meminta Jabrik kembali melanjutkan ceritanya.

“Wanita tua itu sadar bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau semata, termasuk apa yang tengah Ia lakoni saat ini,”

“Maksudnya?”

“Siapa yang mengenal “dirinya” seolah-olah dia "mengenal" Tuhannya,”

“Oneng gak paham,”

“Wanita tua itu seperti terbuka mata hatinya setelah mendengarkan semua cerita Si Belah tadi, padahal awalnya Ia mengiyakan “ajakan” Si Belah untuk bercerita itu dengan tujuan semata-mata untuk mencari rezeki di tempat ini, sebab Ia memang sudah sering mendapatkan “Tamu” terkadang hanya untuk mendengarkan mereka curhat di dalam Kamarnya,”

“Iya, terus?”

“Wanita tua itu mengajak Si Belah ML,”

“Ha! Bukannya bertobat setelah mendengarkan cerita Si Belah dari tadi, trus Si Belah mau?”

“Pendirianku masih tetap sama seperti yang dulu,”

“Maksudnya?”

"Itu jawaban si Belah kepada Wanita tua itu,"

"Iya,"

“Dulu Wanita tua di pinggir Kali itu mengajak agar Si Belah ikut bersamanya, beribadah di atas Batu Kali ini bersamanya, tapi saat itu Si Belah menolaknya dan tetap ingin meneruskan perjalannya mencari Tuhan sampai ketemu, sambil berkata; "Jikapun aku ingin melakukannya (Ibadah) di tempat ini, itu akan aku lakukan karena keinginan yang datang dari dalam hatiku, bukan karena ajakan,”



Selanjutnya>>


Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani Dinni. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Warkasa1919
Warkasa1919 Setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun di dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

2 komentar untuk "Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Tiga Belas) "

 Banner ukuran 800 x 100