Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

 Selamat Datang

Engkau dan Sang Waktu (Bagian Dua)

Engkau dan Sang Waktu
Engkau dan Sang Waktu

Bumi terus berputar, menciptakan putaran roda kehidupan, meninggalkan masa lalu, menuju ke masa kini dan berhenti di Masa depan.
Pena Sang Waktu menggoreskan kata, membentuk satu catatan, tentang perubahan zaman, juga cerita tentang anak – anak manusia yang sesungguhnya tak luput dari perbuatan salah dan dosa.

Kita

Bagian Dua

 

<< Sebelumnya

******

Tiba di Jalan sunyi, jalanan yang pada akhirnya mampu membuat engkau melihat dan mendengarkan semuanya dengan rasa, dari Sang Waktu akhirnya engkau paham bahwa yang selama ini menjadi misteri dan mustahil akan terpecahkan selama engkau masih melihat semuanya dengan kacamata dunia, ternyata saat ini bisa engkau lihat dengan begitu jelas rasa.

Dari Sang Waktu akhirnya engkau belajar dan memahami, bahwa sesungguhnya Rasa Sedih dan Rasa Bahagia yang selama ini engkau yakini sebagai teman - teman sejatimu, semua itu hanyalah fatamorgana.

Apakah engkau tau? Bagiku, Rasa Sedih dan Rasa Bahagia itu hanyalah pakaian. Pakaian yang hanya di pakai oleh anak –anak manusia yang masih berada di  dunia. Dan di mata-ku, semua pakaian-pakaian itu tak lebih hanya untuk mempercantik penampilan mereka saja.

 

Pada Akhirnya, dari Sang Waktu engkau paham, bahwa sesungguhnya hal - hal yang selama ini begitu memberatkan langkah kedua kaki-mu, ketika hendak menuju ke jalan sunyi, itu semua tak lebih hanyalah pakaian duniawi semata, pakaian anak – anak manusia yang hanya berguna ketika masih berada di alam manusia biasa, pakaian yang diciptakan oleh Tuhan hanya sebagai pelengkap untuk memperindah panggung sandiwaranya.

 

Tiba di jalan sunyi, engkau sadar, bahwa sesungguhnya engkau tidak memiliki bekal apa-apa yang pantas untuk engkau bawa ke alam ke keabadianmu nanti . Hal ini berbanding lurus dengan keyakinan yang selama ini engkau miliki.

 

 

Dalam diam, engkau mampu berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah makluk lemah yang tidak memiliki daya dan upaya tanpa pertolongan dari Tuhanku, Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang tidak ada satu makhlukpun yang mampu menyerupainya.

 

 

Di jalan sunyi, jalanan yang selalu dilewati oleh para Sufi dan Para Penyair kehidupan. Jalanan yang bahkan Setan pun enggan untuk melewatinya di pagi dan petang, engkau terdiam, sadar bahwa sesungguhnya engkau hanyalah satu dari sekian banyaknya noda-noda kehidupan anak manusia.

Dalam keheningan, di pusaran waktu, engkau tersentak, saat menyadari ternyata Sang Waktu tak lagi berada di sisimu. 

Dalam diam, engkau lihat keadaan yang ada di sekelilingmu. Dan lagi - lagi engkau kembali takjub dam diam, saat menyadari, bahwa engkau tengah berdiri, tegak lurus dipusaran waktu. Tepat diantara masa lalu, masa kini dan masa depan yang bahkan dalam hayalpun tak mampu engkau jangkau selama ini.

 

******

Di ruang waktu, tempat yang hanya mampu engkau jangkau dengan rasa-mu, engkau tersentak saat sadar bahwa sesungguhnya engkau hanyalah makhluk yang begitu lemah dan tidak memiliki daya upaya tanpa pertolongan Tuhanmu. 


Engkau hanyalah setitik debu yang tak memiliki daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.

Dalam ketidak berdayaanmu, engkau kembali tersentak, saat mendengar ada satu suara dari dasar keheninganmu. Suara yang menyapamu dari suatu tempat, tempat yang selama ini tidak mampu engkau jangkau dengan panca indramu.

Dan..

Sebelum engkau sempat bertanya pada seraut wajah di dalam Cermin buram yang menyapamu, tiba-tiba para "sahabat" yang berasal dari masa lalumu datang menyapa terlebih dahulu. 

Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira datang secara bersamaan, 

“Apa yang sudah engkau lakukan di tempat ini?”

Dalam diam, engkau bertanya pada diri sendiri lalu menangis dan tertawa, menahan rasa  amarah sekaligus bahagia.

 

“Apakah aku sudah gila?”

 

Pertanyaan itu kembali engkau ucapkan secara berulang-ulang sambil terus menggoyang-goyangkan kepalamu. laksana orang-orang yang tengah larut dalam kenikmatan berzikir menyebut nama Tuhan.

Engkau kembali tatap Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira yang berusaha kembali mengingatkanmu, bahwa engkau hanyalah manusia biasa dan bukan tempatmu untuk berada di tempat yang bukan menjadi haknya seorang anak manusia.

 

Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira adalah sahabat – sahabat terbaikmu ketika engkau masih berada di alam dunia, kedekatanmu kepada mereka semua tidak pernah ada yang meragukannya, sebab mereka selalu terbukti ada untukmu.

 

“Haruskah aku tinggalkan mereka semua?”

 

Dalam bimbang, engkau kembali menangis, tertawa, meratap dan juga marah kepada semuanya.

Kini, engkau harus menghadapi kenyataan, bahwa pada akhirnya,  semua hal-hal yang selama ini begitu dekat denganmu saat ini harus engkau tinggalkan demi cinta sejatimu.

 

“Pergilah, aku ingin menemui cintaku yang sejati di tempat ini,” 

 

Begitu dingin engkau berkata kepada Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira ketika keinginanmu yang begitu kuat untuk menemui cinta sejatimu itu pada akhirnya bisa mengalahkan semuanya.

 

“Setelah sekian lamanya kami menemanimu selama hidup di dunia, ternyata demi cinta sejati, engkau rela mengusir kami begitu saja dari dalam kehidupanmu,” 

Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira berkata secara bersamaan.

 

Terengah – engah, engkau coba hadapi semuanya.

 

Dalam ketidakberdayaanmu, engkau mencoba memenangkan pertempuran terakhirmu, mengalahkan Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira yang selama ini menjadi bahagian dari kehidupanmu selama engkau berada di dunia fana ini.

 

******

Darah dan air mata masih terus keluar bekas luka, bekas sisa-sisa pertempuranmu memenangkan perang besar melawan Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira yang pada akhirnya harus menjadi musuh terakhirmu di tempat ini.

Di tempat yang saat ini hanya ada engkau, di jalan yang tak lagi ada doa dan pengharapan yang pantas untuk engkau panjatkan di tempat ini, dalam ketidakberdayaan, engkau terus berusaha membersihkan Cermin buram di hadapanmu.

Lagi - lagi engkau terdiam, saat merasakan semuanya terasa begitu ringan, tanpa beban, engkau tatap seraut wajah yang tadi menyapamu dari dalam Cermin buram.

Di dalam keheningan yang tidak biasa, di penghujung jalanan yang semakin terasa begitu sunyi, engkau akhirnya sadar, bahwa selain Sang Waktu, ternyata Setan dan Malaikat yang biasanya selalu datang menemuimu silih berganti, juga tak lagi ada di tempat ini.

Dalam diam, engkau lihat keadaan di sekelilingmu, saat ini tak lagi ada sekat dan jarak pandang yang engkau temui, saat ini semuanya terlihat begitu terbuka, bukan hanya Planet – planet yang berada di Tata Surya tapi bahkan aliran darah dan semua sel - sel yang masih aktif di dalam tubuhmu pun saat ini terlihat begitu jelas sekali.

 

“Nikmat sekali berada di tempat ini?” 

 

Engkau bergumam dan tanpa sadar melihat ke arah Alam semesta yang terlihat begitu tenang dari tempatmu berdiri saat ini.

Selanjutnya penglihatanmu bergeser ketempat lainnya, melihat ke Bumi, menembus langit dunia, melihat anak – anak manusia yang masih terlihat seperti biasa, dan melihat dirimu masih berada di antara mereka.

 

“Berada di antara mereka? Berarti aku aku belum meninggal dunia?”

 

Tiba – tiba saja engkau lupa akan tujuanmu hingga sampai berada di tempat ini. Di tempat yang begitu tenang ini engkau merasa tanpa beban dan tanpa rasa. 

 

Saat ini engkau merasa sudah tidak lagi memilik rasa amarah, sedih dan juga bahagia, berbeda sekali dengan ketika engkau masih berada di dunia.

 

Di hadapan Cermin yang tak lagi buram di hadapanmu. Saat ini engkau merasa tidak lagi ada kenangan yang tersisa dari memori yang Tuhan tanamkan di dalam otak setiap anak manusia. Saat ini, yang bekerja adalah kekuasaan  alam bawahmu.

Semua kenangan buruk yang dahulu terasa begitu membebanimu, saat ini tiba-tiba  saja menghilang begitu saja dari dalam memori otakmu. Memori otak yang selama ini engkau pergunakan sebagai tempat untuk menyimpan semua kenangan yang terjadi di dalam kehidupanmu.

 

Hening.

 

Dalam kesendirian, tanpa Setan dan Malaikat, juga tanpa kehadiran Rasa Amarah, Rasa Bimbang, Rasa Takut, Rasa Sedih dan Rasa Gembira yang selama ini menjadi bagian dari kehidupanmu di alam dunia, engkau mulai mampu melihat dengan jelas, siapa sosok suara dari dalam Cermin yang tadi menyapamu di tempat ini.

"Engkau adalah aku dan aku adalah engkau" katamu pelan, sambil menatap sosok yang tadi menyapa kehadiranmu di tempat ini.

“Ya, saat ini, tak ada lagi sebutan aku dan engkau, yang ada adalah kita sebab engkau adalah aku dan aku adalah engkau” 

Seraut wajah di dalam Cermin yang tak lagi buram itu berkata. Sebelum semuanya tiba - tiba saja berubah menjadi cahaya.

 

******

Ketika kuputuskan untuk membuka lembaran ini, aku menyebutnya ini adalah lembar perjalanan hidup Kita, sebab engkau dan aku adalah satu kesatuan. Jika aku adalah Pena Sang Waktu, maka engkau adalah Lembaran kertas Sang Waktu,  atas izin Tuhanku dan Tuhanmu yang satu. Kita adalah takdir yang menjadi bagian dari perjalanan Sang Waktu.

 

Tidak lagi ada masa lalu, masa kini dan masa depan di hadapan Kita, karena sesungguhnya Kita adalah Ruang Waktu, Ruang waktu yang tercipta sebelum Tuhan menciptakan Alam Semesta ini.

 

Kita adalah awal dan akhir dari kehidupan yang pernah ada, jika aku adalah Adam maka engkau adalah Hawa, dan jika aku adalah langit maka engkau adalah bumi yang jika di pisahkan, maka itu adalah awal mula dari kehancuran Dunia.

 

Kita adalah Pena dan Lembaran kertas di tangan Sang Waktu. Pena dan Lembaran yang akan mencatat dan akan terus di baca oleh anak – anak manusia di Dunia. Karena Kita adalah Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan nanti. 

Kita adalah  simbol akan cinta sejati. Cinta sejati yang akan terus ada, bahkan ketika dunia dan Alam Semesta ini tak lagi ada. Karena Kita bersama Tuhan. Tuhan yang akan tetap ada, walau Alam Semesta ini pada akhirnya kelak akan binasa.

 


Kaki Langit, 1919

 

Selesai

Catatan : Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani1919. Baca juga Bagian Satu yang di buat oleh Apriani Dinni. Jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan

 

Warkasa1919
Warkasa1919 Setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun di dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

23 komentar untuk "Engkau dan Sang Waktu (Bagian Dua)"

  1. Goresan pena yang penuh makna πŸ˜πŸ˜€πŸ‘πŸ‘ energi terkuras waktu menulis 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. ini kan karya kita berdua☺️😁

      Hapus
    2. 😁😁 iya 😁

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terimakasih sudah berkenan membacanya Om budi☺️

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terimakasih sudah berkenan membacanya mbak Nita☺️πŸ™

      Hapus
  4. Balasan
    1. Terimakasih atas kunjungannya mas Himawan☺️

      Hapus
    2. Sami-sami, mas Warkasa dan mbak Apriani.

      Hapus
  5. Luar biasa. Diksinya renyah dan maknyus. Selamat malam, Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang bu Nur, terimakasih sudah berkunjung kemari☺️πŸ™

      Hapus
  6. Wow, pilihan diksinya.
    Salam kenal, Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, terimakasih sudah berkunjung kemari☺️πŸ™

      Hapus
  7. DE una gran belleza y emociΓ³n espiritual. UN abrazo. Carlos

    BalasHapus
  8. Jangan sungkan untuk hadir ke blogku. artikelartikelterbaru.blogspot.com

    BalasHapus
 Banner ukuran 800 x 100