Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerai

Cerai

Cerai 
Sumber gambar
https://pin.it/6Sq4blh


Ketika layang-layang putus tak tentu arah, seperti aku ketika bibir mungil merah merekah dipadu dengan gigi berbaris rapi dan putih.

 Berkata " Mas, kita cerai, aku sudah tidak tahan lagi berlabuh denganmu tanpa tujuan yang pasti."

Aku hanya terdiam menyadari kesalahan yang telah berlalu. Kemampuan diriku untuk memenuhi kebutuhannya bersama dengan kedua anakku setiap hari semakin tercekik.

Flora Finandia istri yang sangat aku cintai , bahkan melebihi diriku sendiri.

"Apa alasanmu minta cerai istriku, bagaimana dengan kedua buah hati kita." Aku bertanya dengan dada berdebar-debar, belum siap untuk berpisah. Namun bila dipertahankan pun akan membuat mereka yang sangat aku sayangi sengsara.

"Ingat kan dulu janjimu pada ayahku, bahwa engkau berjanji akan selalu membuat kami bahagia tanpa kekurangan apapun. Sekarang aku sadari perkataan ayah waktu itu, cinta memang tidak cukup untuk membina hubungan rumah tangga. Aku mau kembali seperti dulu, menerima persyaratan ayah. Bila aku tidak sanggup lagi, kembali ke rumah dan melanjutkan kuliah yang dulu terbengkalai mengejar impian yang sedari dulu aku inginkan." Flora mengeluarkan isi hatinya tidak peduli Samuel semakin jatuh bahkan hampir melayang-layang di udara.

"Istriku, apakah engkau tidak bisa bersabar lagi, sebentar lagi proyek yang di Bandung berhasil. Kita bisa beli rumah yang asri dan nyaman. Tinggal pilih mau di Jakarta apa di Bandung. " Samuel masih berusaha membujuk istrinya agar mengurungkan niatnya untuk menunda perceraian.

"Apakah engkau tega untuk memisahkan anak-anak dari ayahnya, padahal mereka selama ini begitu dekat denganku." Samuel sambil memegang tangan istrinya.

"Aku tetap minta cerai Mas, besok aku tunggu di pengadilan. Nih surat keterangannya," Flora menahan kuat-kuat isak tangisnya. Sebenarnya dia tidak rela berpisah dengan suaminya tetapi karena tekanan dari sang ayah akhirnya dia rela bercerai. Bumitro Dirgantara  nama yang sangat agung dan angkuh memiliki perusahaan ternama di Indonesia. Bahkan tujuh turunan pun hartanya tidak habis-habis.

 Dia tidak rela putri satu-satunya menderita terlalu lama bersama dengan menantunya. Dia mengacam akan menghancurkan perusahaan menantunya bila Flora tidak mengajukan surat cerai. Entah apa yang ada dipikirannya padahal Samuel seseorang yang sangat bertanggung jawab. Hanya saja Bumitro Dirgantara malu, Samuel berasal dari keluarga tidak mampu. 

Samuel dan Flora beberapa tahun lalu berhasil kawin lari dan sekarang sudah memiliki dua buah hati. Tetapi sang ayah tidak berhenti mencari mereka dan sekarang walaupun sudah punya cucu dari putrinya dengan segala cara akan diceraikannya. Dia mengancam Flora, jika tidak menuntut cerai, perusahaan dan keluarga Samuel akan hancur. Bumitro Dirgantara memang tidak punya perasaan, dia angkuh dan sombong. Dia lupa surya tetap terbit dari timur. Roda akan berputar.

"Hari ini kami pergi Mas, jam sepuluh dijemput oleh Pak Suryo sopir pribadi Bumitro Dirgantara. " Flora melepas perlahan- lahan tangan suaminya, dia berhasil berakting memasang wajah datar agar Samuel percaya atas semua perkataannya padahal hatinya hancur dan remuk. Seperti mobil yang kelindas truk tak berbentuk lagi. Flora tidak berdaya melawan ayahnya saat ini. Suatu hari nanti pasti bisa membuat ayah mendengarkan keluhanku dalam hatinya. Aku pasti bisa membuat ayah menerima menantunya kembali. 

Samuel tidak berdaya lagi untuk mengejar mereka. Hatinya kosong melompong. Tapi dari sudut hati yang terdalam berjanji akan membuat sang mertua menerimanya suatu hari nanti. Samuel bangkit dari keterpurukan. Mengejar mimpi tak peduli onak duri menghadang. Hampir tidak ada senyum di wajah yang tampan. Kelak kerinduan yang semakin berakar akan berjumpa lagi dengan keluarga kecilnya. Samuel bertekad dan memohon kepada-Nya agar memberikan jalan yang lapang.

 
Erina Purba
Bekasi, 08072021

10 komentar untuk "Cerai"

 Banner ukuran 800 x 100