Refleksi Kehidupan: Antara Waktu, Syukur, dan Realitas Dunia
Refleksi Kehidupan: Memaknai Waktu dan Hak Pakai Semesta
Sumber Gambar: Pixabay / Warkasa1919.com
Apa yang kita alami belum tentu dialami orang lain, baik suka maupun duka. Apa yang kita rasakan belum tentu juga dirasakan oleh orang lain, senang atau sedih. Namun, setiap orang pasti pernah mengalami bahagia, sengsara, beruntung, hingga kesedihan. Perbedaannya hanya terletak pada besaran persentasenya.
Kehidupan yang diberikan pada manusia bagaikan hak pakai semata, tidak akan pernah menjadi hak milik. Kita seperti menyewa waktu yang akan dilalui. Apakah akan dimanfaatkan sebaik mungkin atau disia-siakan begitu saja, semua tergantung pada penggunanya.
Ada usia berarti ada batasan. Terkadang banyak manusia yang kurang memahami bahwa setiap kejadian sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. Tidak berlebihan saat memohon agar selalu diberi kemudahan, karena pada dasarnya posisi manusia adalah seorang peminta.
Ketika permintaan telah terpenuhi, ada yang selalu ingat dan semakin bersyukur, namun ada pula yang lupa sehingga menjadi abai. Sering kita mendengar dongeng tentang keberhasilan anak manusia, namun tidak sedikit pula cerita tentang kehilangan dan kesedihan.
Saat memandang jauh ke depan, sesekali tengoklah ke belakang. Mungkin ada bagian dari masa lalu yang bisa menjadi amunisi untuk meraih masa depan. Layaknya mendaki puncak kesuksesan, kalaupun tak bisa meraih puncaknya, setidaknya kita bisa menikmati perjalanannya.
Dalam kecemasan pasti akan ada kelapangan. Ikhtiar dan pengharapan akan kebaikan harus terus dilakukan. Kehidupan ini dikatakan singkat, namun seberapa singkat? Dikatakan lama, namun selama apa? Semua tergantung bagaimana masing-masing melaluinya.
Potret Dunia Hari Ini
Lihatlah bagaimana dunia saat ini. Ada yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengecoh dunia dengan keberhasilan konspirasinya. Banyak lelucon yang terjadi tak jauh berbeda dengan kartun kucing dan tikus. Hidung dan mulut kami sudah ditutup rapi, tak perlu lagi mata kami.
Bagaimana keberkahan bisa didapat bila hati mulai berkarat? Menyikut, menipu, dan berbuat curang seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan. Bermandi keuntungan di atas penderitaan orang lain. Lantas, di mana letak nurani dan pikiran?
Setiap pohon yang tumbuh tak pernah menghitung daun yang jatuh. Bunga yang mekar tak memusingkan aroma yang menguar. Burung tak peduli di mana sarang akan ditempati. Namun manusia? Seolah dunia sudah mulai kehilangan rasa pedulinya.
Meja makan kini telah siap dengan menu "berita". Ada gorengan bencana, semur kemiskinan, rica-rica perseteruan, hingga urap-urap tragedi. Tinggal pilih mana yang disuka, dan makanlah dengan tenang tanpa keributan.
Lihatlah langit biru berhias awan putih. Semilir angin sejuk sore ini mungkin bisa sedikit menghilangkan penat di kepala yang mengendap sejak kemarin. Jangan pernah lelah melesatkan doa dan puja pada semesta. Biarkan lingkaran waktu menggiring pada kehendak-Nya. Simpanlah asa walau hanya secuil, mungkin rahmat akan turun segera.
.jpg)