Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kontemplasi

 


Apa yang kita alami belum tentu dialami orang lain,  baik suka maupun duka. 

Apa yang kita rasakan belum tentu juga dirasakan oleh orang lain,  senang atau sedih. 

Namun setiap orang pasti pernah mengalami bahagia, pernah sengsara, pernah beruntung,  pernah senang dan gembira, juga dalam kesedihan. Tinggal berapa besar prosentasinya,  setiap orang berbeda. 


Kehidupan yang diberikan pada manusia,  bagaikan hak pakai semata,  tidak akan pernah menjadi hak milik. Kita seperti menyewa,  menyewa waktu yang akan dilalui.  Apakah akan dimanfaatkan sebaik mungkin atau disia-siakan begitu saja,  tergantung pemakainya. 


Ada usia berarti ada batasan. Terkadang banyak manusia yang kurang memahami bahwa setiap kejadian sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. Tidak berlebihan saat memohon agar selalu diberi kemudahan dan keberhasilan,  karena pada dasarnya posisi manusia itu adalah peminta. 


Ketika permintaan telah terpenuhi, ada yang selalu ingat dan semakin bersyukur,  ada yang lupa sehingga sedikit ngawur. Sering kita dengar dongeng tentang keberhasilan anak manusia dan tidak sedikit cerita kesedihan, kehilangan dan sejenisnya. 


Saat harus memandang jauh ke depan sesekali tengoklah ke belakang,  karena mungkin ada bagian dari masa lalu yang bisa menjadi penyemangat atau amunisi untuk meraih masa depan. Seperti mendaki sebuah kesuksesan, kalaupun takbisa meraih puncaknya setidaknya bisa menikmati perjalanannya. 


Dalam kecemasan pasti akan ada kelapangan, ikhtiar dan pengharapan akan kebaikan harus terus dilakukan.  Kehidupan ini dikatakan singkat, sesingkat apa? dikatakan lama, selama apa?  bagaimana masing-masing melaluinya. Ada yang menyukai ada yang membenci itu hanya hiasan semata,  yang silih berganti mengiringi. 


Bagaimana dunia saat ini? 

Lihat ada yang tertawa terbahak sambil memegang perutnya

Dia berhasil mengecoh dunia dengan tingkah dan keberhasilan konspirasinya. Banyak lelucon yang terjadi takjauh berbeda dengan kartun kucing dan tikus .  Hidung dan mulut kami sudah ditutup rapi,  takperlu juga mata kami.


Bagaimana keberkahan bisa kita dapat,  bila hati setiap jiwa mulai berkarat,  menyikut,  menipu dan berbuat curang sudah menjadi bagian dari kehidupan. Bermandi keuntungan dari banyak penderitaan.  Lantas diletakkan di mana pikiran? 


Setiap pohon yang tumbuh tak pernah menghitung berapa daunnya yang jatuh. Bunga yang bermekaran tidak memikirkan aroma apa yang menguar. Burung yang mencicit tak peduli di mana sarang akan ditempati. Padi taklagi menguning bukan urusan para petinggi.  Dunia sudah kehilangan peduli. 


Meja makan yang ada sudah siap dengan menu berita,  ada gorengan bencana,  ada semur kemiskinan,  ada rica-rica perseteruan, urap-urap tragedi juga ada,  tinggal pilih mana suka. makanlah dengan tenang tanpa ada keributan.


Lihatlah langit yang biru berhias riak-riak awan putih

Semilir angin yang sejuk sore ini mungkin bisa sedikit menghilangkan gerah di kepala yang dari kemarin mengendap,  berseteru dengan kutu yang menghisap darah

Lihat juga rerumputan yang mulai berteriak nerindukan hujan,  padahal baru beberapa minggu ditinggalkan


Jangan pernah lelah melesatkan kata indah dan puja pada semesta

Biarkan lingkaran waktu menggiring pada kehendaknya

Simpanlah asa walau hanya secuil saja,  mungkin rahmat akan turun segera




Jumat,  23 Juli 2021



Gambar pixabay


3 komentar untuk "Kontemplasi"

  1. Keren mbak, inspiratif😊👍

    BalasHapus
  2. Renunganya dalem banget mas, saya jadi inget dosa.

    BalasHapus
  3. Keren banget asli, parah-parah apalagi bagian perihal perihal para pemegang perut dengan segala konspirasinya

    BalasHapus
 Banner ukuran 800 x 100