Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lawang Sewu Sebagai Saksi Bisu




Birunya langit menambah keanggunan gedung Lawang Sewu yang konon terkenal mistis. Berdua denganmu aura mistis gedung tua tidak terlalu menakutkan. Kekasih membeberkan keindahan yang dimiliki gedung ini. Sehingga aku memberanikan diri untuk terus berjalan menikmati guratan kesedihan terlukis di setiap gedung meskipun sudah diperbaiki menjadi lebih baik.


Bagunan peninggalan  Belanda terdiri dari beberapa pintu. Bila dilihat dari kejauhan seolah-olah jendela yang besar-besar itu menyerupai pintu. Jendela itu menjelma menjadi pintu sejauh mata memandang. Menjadikan gedung Lawang Sewu mendapatkan julukan seribu pintu.


Langit masih merona keemasan ketika sepasang kaki mulai menapaki gedung berikutnya. Mempesona seperti bidadari turun dari kayangan Lawang Sewu berdiri megah setelah direnovasi beberapa waktu lalu. Lawang Sewu kini menjadi tempat wisata yang mewah dan indah.


Sebelum menjelma menjadi bidadari terdengar berbagai cerita mistis tentangnya. Penuh dengan kekuatan magis. Jeritan pilu bila senja telah redup. Kehidupan di masa lalu yang penuh kekejian. Kekuasaan penjajahan Belanda dan Jepang. Gedung ini merupakan tempat bersejarah. Setiap gedung memiliki cerita sejarah. Bahkan terdapat sumur tua dan ini terkunci. Sering terdengar jeritan, tangisan, bila malam tiba. Tangan-tangan tergapai minta tolong. Sekilas mata memandang roh-roh halus sekelabat melintas.


Tanganku mulai merinding melintasi pintu berikutnya. Segera kugenggam erat tanganmu. Tangan yang kokoh dan hangat menentramkan hatiku. Dan aku mulai memberanikan diri lagi. Rasa takut yang sempat hinggap perlahan-lahan sirna. Hanya karena sentuhanmu. Setelah lelah menjejaki gedung demi gedung. Rasa penasaran tentang keangkeran Lawang Sewu mulai pudar. Hatiku bersorak gembira ketika sepasang kaki telah berada di luar gedung.


Aku menatap wajahmu, mata itu seolah-olah memenjarakan ragaku. Aku menerima lamaranmu disaksikan gedung tua Lawang Sewu. Bersama sehidup semati, bumi berguncang, laut bergelora, walaupun badai menghadang aku tetap setia bersamamu. Seperti gedung Lawang Sewu yang tetap berdiri kokoh . Sekokoh itu cinta yang aku miliki hanya untukmu. 

 

Engkau menghubungi pengelola gedung Lawang Sewu untuk tempat mengukuhkan cinta. Tempat yang syahdu dan teduh berfoto praweding. Foto untuk halaman depan undangan pernikahan. Kekuatan cinta yang magis seperti gedung yang anggun nan indah Lawang Sewu.


Aku mencintaimu dengan hati yang tulus dan kokoh seperti gedung Lawang Sewu yang telah bertahun-tahun berdiri masih megah, kokoh dan memesona.


Sepertinya gedung Lawang Sewu telah memberikan ruang untuk berbagi, mengucapkan janji sehidup semati. Sampai maut memisahkan. Lawang Sewu disertai cakrawala biru adalah saksi bisu ikatan cinta yang mulai berlabuh.

 

Erina Purba


Bekasi, 15072021


Sumber gambar

https://semarangpedia.com/gedung-tua-lawang-sewu-semarang-dari-masa-ke-masa/

Sumber referensi
https://travel.kompas.com/read/2018/03/29/120000227/berapakah-jumlah-sebenarnya-pintu-di-lawang-sewu

9 komentar untuk "Lawang Sewu Sebagai Saksi Bisu"

  1. Saya pernah ke Lawang Sewu agak merinding

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pernah ke sana, penasaran juga mba Dini

      Hapus
  2. Semarang ya. Keren nih gedung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Pak, gedung Lawang Sewu gagah dan memesona

      Hapus
  3. Belum pernah ketempat ini..

    BalasHapus
  4. Wah saksi bisu, izin menyimak dalam bisu, Bu Ester

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Pak Katedrarajawen salam hangat

      Hapus
  5. Lawang sewu memang memiliki arsitektur yang indah banget ya, untuk menjadi sebuah tempat foto sepertinya cukup terkenal juga, walaupun terdapat kisah-kisah mistis yang dipercayai.
    Oh yah, untuk teman-teman yang ingin mencari tempat untuk guest post bisa banget loh, di web kami Yoexplore . co . id

    BalasHapus
 Banner ukuran 800 x 100