Kisah Inspiratif: Mengulas Karya Tere Liye dan Agnes Jessica | Literasi Kita
Perjalanan Literasi: Mengapa Karya Tere Liye dan Agnes Jessica Begitu Memikat?
Membaca telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya sejak kecil. Kegemaran ini bermula dari bangku sekolah dasar, di mana pelajaran Bahasa Indonesia selalu menjadi momen yang paling saya tunggu. Lembar demi lembar buku sekolah yang berisi dongeng dan legenda seolah membuka jendela dunia baru bagi saya.
Kenangan manis masa sekolah juga terekam di perpustakaan. Saat guru piket mengarahkan kami ke sana, rasanya seperti menemukan harta karun. Meski ada aturan peminjaman yang ketat dan denda bagi yang terlambat, antusiasme untuk melahap cerita tidak pernah surut.
Memasuki masa SMP, cakrawala literasi saya semakin luas berkat pengaruh teman sebaya. Dari sanalah saya mengenal novel—buku tebal yang memberikan kepuasan tersendiri saat berhasil menyelesaikannya. Tak hanya novel, majalah remaja legendaris seperti Anita dan Aneka Cemerlang pun menjadi konsumsi harian.
Menemukan Kedalaman Makna dalam Karya Tere Liye
Pertemuan saya dengan karya Tere Liye terjadi secara tidak sengaja melalui pemberian seorang siswa. Novel berjudul "Sepucuk Surat dan Angpao Merah" menjadi gerbang pembuka. Gaya bercerita yang memukau membuat saya mampu menghabiskan buku tersebut hanya dalam waktu tiga jam karena rasa penasaran yang tinggi.
Karya-karya Tere Liye dikenal memiliki latar budaya yang kuat, khususnya daerah Sumatra, dibalut dengan diksi yang menyentuh hati. Kedalaman emosi dalam ceritanya sering kali menginspirasi saya untuk merangkai kata dalam bentuk puisi.
Ayah, Kini Aku Tahu Kemana Aku Pergi
Ayah, kenapa engkau selalu marah padaku?
Apa yang salah denganku?
Hati ini bertanya-tanya, siapakah aku di matamu, Ayah...
Kini aku tahu semuanya,
Masa lalumu yang kelam dan pahit telah engkau lampaui.
Aku bangga padamu, walau masa kecilku penuh luka.
Kini aku melangkah di jalan yang lurus, mengikuti jejakmu yang tangguh.
Bekasi, 25 Februari 2019
Senyum Ibu
Ibu, kasihmu sepanjang Samudera Hindia.
Wajahmu selalu tersenyum, meredam badai dalam hidupku.
Engkau adalah tempat mengadu paling aman.
Terima kasih Ibu, aku akan selalu menjaga pesanmu.
Tetap bersih di tengah dunia yang mungkin kelam.
Bahagialah engkau di sana, bersama Dia.
Bekasi, 08 Maret 2019
Kedua puisi di atas lahir dari inspirasi mendalam setelah saya menyelami dunia dalam novel Pulang dan Pergi karya Tere Liye.
Agnes Jessica: Nasihat Tersirat dalam Setiap Kata
Selain Tere Liye, Agnes Jessica adalah pengarang lain yang sangat saya kagumi. Perkenalan saya dengannya dimulai saat menyusun skripsi, di mana saya menganalisis novel "Noda Tak Kasatmata" untuk membedah karakter tokohnya. Karyanya unik karena sering kali menyisipkan nilai-nilai spiritual dan nasihat kehidupan yang membuat pembaca merenung kembali tentang kebaikan.
Penutup: Menulis Adalah Proses
Hobi membaca ini akhirnya menuntun saya pada keinginan untuk menulis. Meski masih dalam tahap belajar, saya memegang prinsip dari Bang Bekti Seruansyah: "Menulis saja dulu, lupakan aturan." Seiring berjalannya waktu, saya percaya bahwa konsistensi akan mengasah kemampuan menulis menjadi lebih baik.
