Detik-detik berlalu, aku semakin tergugu. Aku tidak mengenal
diriku, entah apa yang terjadi di masa lalu. Aku biarkan mengalir
seperti air sungai. Dimana nantinya bila bertemu muara. Apakah aku
menemukan jati diri darimana asal usul kampung halaman.
Hidup
ini sepertinya ada yang aneh, dari cara bicara sepertinya aku orang
bangsawan. Bahkan sekeliling kampung menegur tutur kata yang sering
kuucapkan sangat kasar dan itu bisa menjerumuskan ke jeruji besi.
Di saat aku tidak mengenal diriku ini siapa, engkau hadir menghiasi hidup. Dan aku merasa nyaman.
Kutemukan
pelangi di pelupuk matamu. Bahkan senyumanmu seindah bunga sakura yang
sedang mekar. Hatiku melambung terbang tinggi seperti layang-layang
tinggi di awan. Kekasih, aku berjanji tetap menjaga hati ini hanya
untukmu. Percayalah, entah kenapa aku merasa sangat mengenalmu semenjak
kita bertemu lagi di acara pesta panen raya.
Senyumanmu
melekat di sanubari sehingga tidur pun tak pernah lelap. Bayang-bayang
dirimu menghantui. Di setiap ruangan engkau selalu hadir. Jiwa ini
sangat tersiksa.
Segera aku berlari secepat mungkin lincah seperti kijang. Hati ini berkata engkau berada di sana sedang menunggu kehadiranku.
Rasanya
raga ini terbang melintasi awan hingga tak berapa lama aku sudah sampai
di tempat kita pernah memadu janji. Hati ini berbunga-bunga engkau
telah tiba sedang menungguku. Tetapi wajahmu tidak seindah bunga sakura,
jantung ini berdebar dan bertanya-tanya, apa yang terjadi denganmu.
Senyum itu telah berubah menjadi kelam serta pekat.
Bibir
indah seindah kelopak bunga mawar berkata " maafkan aku, ini terakhir
kita bertemu, jurang di antara kita terlalu dalam. Bagaikan bumi dan
langit. Hal yang tidak mungkin bisa bersatu,"
Aku
hanya bisa terdiam dan terpaku tanpa bisa berkata-kata. Janji yang
telah kuikrakan engkau ragukan. Padahal aku rela berbuat apapun asal
hidup bersama denganmu. Aku bisa menyesuaikan perbedaan ini. Kekasih aku
merasa rembulan turut bersedih, sinarnya yang syahdu tertutup kabut
legam. Gelap gulita, bahkan angin pun ikut berdesir meninggalkan gigil
yang membuat tubuh ini membeku.
Tapi aku tidak
menyerah kekasih, aku pasti bisa meraih impian yang telah kita ikrarkan.
Aku pasti bisa menemukan engkau kembali. Biarlah malam ini menjadi
kelam dan pekat. Tenanglah hai jiwaku, kemana pun kekasihku berada aku
pasti datang suatu hari nanti. Melabuhkan asmara sehidup semati. Seperti
surya yang selalu hadir tepat waktu. Tunggu aku kekasih.
Prosa terinspirasi dari drama Korea 100daymyprinces
Erina Purba
Bekasi, 06072021
Bagikan:
Diposting oleh:
Meduster
Lesterina Purba lahir di Sumatera Utara desa Merek Raya Simalungun. Guru di SMA Yadika 11 Jatirangga. Ingin suatu hari nanti menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang lain. Tetap dikenang walaupun sudah di alam berbeda.