Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

SEJARAH DAN KUMPULAN INFORMASI TENTANG KELAPA SAWIT DI INDONESIA

SEJARAH DAN LUAS TANAMAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA
Ilustrasi; Petani sawit sedang mengumpulkan TBS yang baru saja di panen di dalam kebun sawitnya di Riau_Dokpri WR1919


SEJARAH DAN LUAS TANAMAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA
Ilustrasi; Petani sawit sedang mengumpulkan TBS yang baru saja di panen di dalam kebun sawitnya di Riau_Dokpri WR1919

Apakabar Industri dan Perkebunan kelapa sawit hari ini? Berawal dari melihat Ibu-ibu rumah tangga yang terlihat seperti orang kalap ketika melihat minyak goreng yang beberapa waktu lalu sempat langka, Warkasa1919.com merangkumkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanaman yang menjadi sumber dari bahan baku untuk membuat minyak goreng ini.

Sudah banyak yang tau, bahwa kelapa sawit adalah jenis tanaman yang dapat  menghasilkan minyak, yang diantaranya dapat  diolah untuk membuat minyak goreng, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi.

 

APA ITU KELAPA SAWIT?

Tandan Buah Segar (TBS)
Ilustrasi; Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit milik petani di Riau_Dokpri WR1919

Dari Wikipedia, tanaman kelapa sawit ini termasuk kedalam genus Elaeis dan ordo Arecaceae. Tanaman ini banyak dipergunakan oleh usaha pertanian komersial untuk memproduksi minyak sawit. Genus sendiri memiliki dua spesies anggota yaitu.

  • Kelapa sawit afrika atau Elaeis guineensis adalah sumber utama minyak kelapa sawit.
  • Kelapa sawit amerika atau Elaeis oleifera adalah tanaman asli Amerika Selatan dan Tengah tropis, tanaman ini digunakan secara lokal untuk produksi minyak.

Tanaman kelapa sawit pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1848, atau tepatnya sudah 174 tahun bermigrasi ke negara ini. Tanaman sawit tingginya dapat mencapai hingga 24 meter.

Terdapat beberapa spesies kelapa sawit yaitu E. guineensis Jacq., E. oleifera, dan E. odora. Varietas atau tipe kelapa sawit sendiri digolongkan berdasarkan dua karakteristik yaitu, ketebalan endokarp dan warna buah. 

Jika dilihat Berdasarkan ketebalan endokarpnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu: Dura, Pisifera, dan Tenera.

Warna buah, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu : Nigrescens, Virescens, dan Albescens. 

Secara umum, kelapa sawit terdiri atas beberapa bagian yaitu : akar, batang, daun, bunga dan buah. 

Bagian dari kelapa sawit yang diolah untuk menjadi minyak adalah buahnya.

Arecaceae dewasa bertangkai tunggal, dan dapat tumbuh dengan ketinggian lebih dari 20 m (66 ft). Daunnya menyirip, dan panjang mencapai antara 3–5 m (10–16 ft). Bunganya diproduksi dalam bentuk padat; masing-masing bunga kecil, dengan tiga sepal dan tiga kelopak.

Buahnya berwarna kemerahan, seukuran plum besar, dan tumbuh dalam tandan besar. Setiap buah terdiri dari lapisan luar yang mengandung minyak (perikarp), dengan biji tunggal (inti sawit), juga kaya akan minyak.


SEJARAH TANAMAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA

 

SEJARAH DAN INFORMASI TENTANG KELAPA SAWIT DI INDONESIA
Ilustrasi; Hamparan perkebunan kelapa sawit di salah satu perusahaan di Riau_Dokpri WR1919

Warkasa1919.com merangkumkan untuk sobat sekalian, sejarah tentang budidaya tanaman kelapa sawit yang ada di Indonesia

Tanaman kelapa sawit ini bisa sobat jumpai di beberapa daerah yang ada di Indonesia, seperti; Jambi, Riau, Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Menurut Tungkot Sipayung dkk dalam Ekonomi Agribisnis Minyak Sawit (2019:14), menyebutkan bahwa Dr DT Price adalah orang yang pertamakali membawa masuk tanaman kelapa sawit ini ke Indonesia. Tanaman kelapa sawit sendiri berasal dari Afrika, memiliki nama botani Elaeis guineensis Jacq.

Awalnya, tumbuhan industri  penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar ini masuk ke Indonesia hanya sebanyak empat biji saja, saat itu tanaman ini ditanam di Kebun Raya Bogor, tepatnya pada tahun 1848 yang lalu.

Achmad Mangga Barani dkk di dalam Gambut, Sawit, dan Lingkungan (2021:109) mengatakan,

"Temuan arkeologi mengungkapkan bahwa buah, biji dan kelapa sawit sudah menjadi bagian integral makanan bangsa Afrika Barat sejak 5.000 tahun yang lalu,"

Jika di Indonesia, Orang-orang pribumi baru mengenal tanaman kelapa sawit ini pada tahun 1848, tidak demikian halnya dengan Orang-orang di Eropa, mereka sudah mengenal tanaman ini bahkan semenjak tahun 1400-an.

Tahukah sobat, bahwa tanaman kelapa sawit yang saat ini begitu banyak berada di beberapa daerah Indonesia ini, awalnya hanya empat biji saja, dimana dua benih tanaman sawit ini berasal dari Bourbon Mauritius dan dua benih lagi berasal dari Amsterdam.

Setijati D. Sastrapradja dalam Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia (2012:176) menuliskan,

"Belanda yang memperkenalkan kelapa sawit ke Indonesia pada 1848, sedangkan perkebunan di Sumatera dimulai pada 1911,"

Selanjutnya, Tungkot Sipayung dkk juga menuliskan,

"Melihat keberhasilan tersebut, pada 1911 perusahaan Belgia membuka usaha perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Pulau Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh). Pada tahun yang sama, perusahaan Jerman juga membuka usaha perkebunan perkebunan kelapa sawit di Tanah Itam Ulu (sekarang Kabupaten Batubara),"



LUAS LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT YANG PRODUKTIF DI INDONESIA PADA 2021

 

LUAS LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PRODUKTIF PADA 2021
Ilustrasi; Salah satu alat transportasi air untuk mengangkut TBS di salah satu perusahaan di Riau_Dokpri WR1919

Menurut Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), hingga 1980-an luas perkebunan sawit di Indonesia baru mencapai 200 ribu hektar dan itu pun masih berupa warisan dari perkebunan di era kolonial Hindia Belanda.

Dalam kurun waktu 30 tahun luas perkebunan itu bertambah. Pada 2009 perkebunan sawit di Indonesia diperkirakan telah mencapai 7,2 juta hektar. Ada perkiraan yang menyebut bahwa pada 2014 luas perkebunan sawit akan mencapai 10 juta hektar.

Mengutip dari databoks.katadata.co.id, Indonesia diketahui merupakan negara produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data laporan Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2019-2021 dari Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, total luas lahan kelapa sawit di Indonesia sendiri pada tahun 2021 sudah mencapai 15,08 juta hektare (ha).

Adapun luas lahan yang masuk ke dalam kategori produktif atau tanaman menghasilkan (TM) adalah seluas 12,59 juta ha atau 83% dari total luasnya yang mencapai 15,08 juta hektare (ha).

Adapun rincian luas lahan sawit produktif (TM) berdasarkan status pengusahaannya pada 2021 adalah sebagai berikut:

PERKEBUNAN

SWASTA hektare (ha).

RAKYAT hektare (ha).

NEGARA hektare (ha).

 7,25 juta ha

4,83 juta ha

506,7 ribu ha

 

Dari lahan produktif tersebut, Dirjen Perkebunan memperkirakan total produksi minyak sawit Indonesia mencapai 49,71 juta ton pada 2021, dengan rincian sebagai berikut:

 

PRODUKSI PERKEBUNAN

SWASTA hektare (ha).

RAKYAT hektare (ha).

NEGARA hektare (ha).

 30,72 juta ton 

16,75 juta ton

2,22 juta ton

 

Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), pada tahun 2021 sebagian besar persediaan minyak sawit Indonesia digunakan untuk kebutuhan ekspor.

 

KENAPA HARGA MINYAK GORENG BISA MELAMBUNG TINGGI?

Apakah bahan baku untuk membuat minyak goreng itu saat ini telah habis? Sehingga membuat minyak goreng bisa menjadi begitu langka di negeri ini.

Fakta bahwa minyak goreng ini bahan bakunya terbuat dari kelapa sawit, maka hal ini menjadi sangat kontras,  mengingat bahwa Indonesia  merupakan negara produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia saat ini.

"Langka, jikapun ada, harganya pun mahal sekali." keluh beberapa ibu rumah tangga yang mengaku kesulitan untuk mendapatkan minyak goreng beberapa waktu yang lalu.

Melihat kelangkaan minyak goreng di dalam negeri, pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan kebijakan tentang pelarangan ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng, hal ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan minyak goreng di dalam negeri.

“Hari ini saya telah memimpin rapat tentang pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, utamanya yang berkaitan dengan ketersediaan minyak goreng di dalam negeri. Dalam rapat tersebut, telah saya putuskan pemerintah melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng, mulai Kamis, 28 April 2022 sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian,” ujar Presiden dalam keterangan pers, Jumat (22/04/2022) secara virtual seperti yang penulis kutip dari setkab.go.id.

Mulai 28 April 2022 Presiden Joko Widodo melarang ekspor minyak goreng beserta turunan produk minyak sawit yang menjadi bahan bakunya, lantaran terjadi kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng di pasaran sejak awal 2022.

Sebelum adanya pelarangan ekspor, pemerintah telah menaikkan porsi kewajiban pasok produsen minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik (domestic market obligation/DMO) dari 20% menjadi 30%.

Pemerintah juga sempat menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng curah sebesar Rp11.400 per liter, HET minyak goreng kemasan sederhana Rp13.500 per liter, dan HET minyak goreng kemasan premium Rp14.000 per liter.

Namun, kebijakan HET itu kemudian dicabut dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 11 Tahun 2022. Aturan terbaru ini menetapkan bahwa HET minyak goreng curah menjadi Rp14.000 per liter, sedangkan harga minyak goreng kemasan diserahkan kepada mekanisme pasar.

 

SIAPA YANG BERMAIN HINGGA MENYEBABKAN KELANGKAAN MINYAK GORENG DI DALAM NEGERI?

Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung telah memeriksa dua petinggi perusahaan swasta sebagai saksi dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam pemberian fasilitas ekspor crude palm oil (CPO).

Mengutip dari TEMPO.CO, pada 19 April lalu, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menetapkan empat orang tersangka dalam perkara tersebut, yakni Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana, Senior Manager Corporate Affairs Permata Hijau Group Stanley M. A., Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia Master Parulian Tumanggor, serta General Manager bagian General Affairs PT Musim Mas Picare Togar Sitanggang.

Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah memastikan pihaknya akan memeriksa seluruh pejabat Kementerian Perdagangan dalam kasus tersebut. Kejagung memeriksa 88 perusahaan yang melakukan ekspor CPO terkait kasus korupsi hingga menyebabkan kelangkaan minyak goreng di Indonesia.


HARGA TBS PETANI SAWIT DROP SETELAH ADA LARANGAN EKSPOR MIGOR DAN BAHAN BAKUNYA

Mengutip dari KONTAN.CO.ID. Tak lama setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan rencana larangan ekspor minyak goreng sawit dan bahan bakunya mulai 28 April 202, diberitakan bahwa harga tandan buah segar (TBS) milik petani kelapa sawit langsung turun hingga 35%-45%.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat ME Manurung menyebutkan, pada hari Minggu (24/4) yang lalu, harga TBS petani anjlok hingga 60%. Padahal sebelumnya Apkasindo berharap, kebijakan larangan ekspor minyak goreng dan bahan bakunya akan memperbaiki harga TBS petani.

Masih menurut Gulat, rata-rata harga TBS petani secara saat ini sebesar Rp 1.600 per kilogram (kg). Namun, ada harga TBS petani yang hanya Rp 1.300 per kg.

Berdasarkan pantauan Gulat, dari informasi yang ia peroleh, kemungkinan poin-poin kebijakan pemerintah adalah larangan ekspor itu hanya pada RBD Palm Olein yang merupakan bahan baku minyak goreng sawit dan minyak goreng sawit (MGS).  Sedangkan CPO (crude palm oil) tidak ada larangan atau pembatasan.

Kemudian, gubernur/kepala dinas yang membidangi perkebunan di provinsi sentra sawit untuk mengawal proses penetapan harga TBS dimasing-masing provinsi, agar perusahaan maupun PKS tidak sepihak menetapkan harga TBS petani sawit. Harga TBS acuannya mengacu bursa CPO Internasional dan tender CPO KPBN (Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara).

Mau donasi lewat mana?

Paypal
Bank BNI - An.warkasa / Rek - 0223432494
Traktir creator minum kopi dengan cara memberi sedikit donasi. klik icon panah di atas

8 komentar untuk "SEJARAH DAN KUMPULAN INFORMASI TENTANG KELAPA SAWIT DI INDONESIA "

  1. Terimakasih artikelnya menambah wawasan tentang kelapa sawit, lengkap deh pembahasannya. Ternyata kelapa sawit banyak manfaatnya selain minyak goreng yang kemarin sempat heboh karena langka dan kalau ada harganya berkali-kali lipat. Alhamdulillah sekarang sudah mulai stabil lagi. Sukses untuk blog nya 👍👍🙏🙏🙏 ditunggu ulasan yang lainnya ya ☺️🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkenan membacanya Mbak Din, Alhamdulillah harga minyak goreng sudah turun ya😊

      Hapus
  2. 👍👍👍

    BalasHapus
  3. jika dinilai dari segi ekonomi, masyarakat yang fokus di dunia persawitan cenderung lebih stabil perekonomian nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, di Riau malah banyak petani yang awalnya menanam tanaman lain seperti karet dll, saat ini mereka tumbang dan mengganti nya dengan tanaman sawit

      Hapus
  4. Ouh sawit andai tidak dikuasai swasta, tapi bila dipegang BUMN pun apa aman-aman saja?

    BalasHapus