Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aisyah

 

Aisyah
Ilustrasi gambar oleh: majelistausiyahcinta.com

 

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata kehidupan seorang Wanita tua, yang aku tahu hingga saat ini masih terus berusaha merawat Ilham  seorang diri, seorang anak yang telah disia-siakan oleh orang tua kandungnya sendiri.

Di dalam keterbatasannya dia jaga dan rawat amanah yang telah di titipkan Tuhan kepadanya, tanpa pernah sekalipun meminta-minta belas kasihan pada orang-orang yang berada di sekelilingnya.



 

****

Hari masih pagi ketika Aisyah menyapu halaman di depan Rumah semi permanen berdindingkan papan dan semen kasar sebagai lantainya. 

Menurut Aisyah, hari ini adalah hari dimana pada Delapan tahun yang lalu, suami Aisyah meninggalkan dirinya dan anak-anaknya di tempat ini.

Nurdin atau yang biasa di panggil 'Mak Itam' oleh para tetangganya itu meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya akibat kecelakaan.

Nurdin yang berprofesi sebagai Tukang Becak angkut barang di Pasar Pagi dekat rumahnya, saat itu di tabrak oleh orang yang tidak di kenal ketika sedang mengayuh Becak Dorong-nya.

Sebelum meninggal dunia, Nurdin adalah tulang punggung bagi keluarganya. Mencari nafkah untuk keluarga kecilnya itu dengan cara menjadi tukang Becak Dorong dan juga menjual hasil tanaman yang dia tanam sendiri di lahan kosong milik Martalena. 

Martalena adalah seorang Bidan yang mempercayakan lahan kosong miliknya itu untuk di tempati oleh Nurdin bersama istri dan anak-anaknya. Oleh Martalena, Bidan Puskesmas yang terkenal baik hati di lingkungan tempat tinggalnya itu, Nurdin bukan saja di perbolehkan membangun Rumah semi permanen di atas lahan kosong miliknya, tapi juga di beri izin untuk mengambil hasil tanaman yang mereka tanam di lahan tersebut.

Saat ini Aisyah hanya tinggal berdua dengan Ilham di dalam bangunan semi permanen yang di bangun oleh mendiang suaminya.

Aisyah memiliki dua orang putra. Anaknya yang pertama biasa di panggil "Boy". Boy adalah anak hasil pernikahannya dengan Nurdin. Sedangkan anaknya yang kedua bernama Ilham. Ilham adalah anak angkat yang dia adopsi dari Panti Asuhan sekitar 26 tahun yang lalu. 

Empat tahun setelah kematian ayahnya, Boy memutuskan untuk pindah dari rumah yang selama ini dia tempati bersama ibu dan adik angkatnya. Tepatnya setelah Enam tahun dia menikah dengan wanita berkulit hitam manis asal Sumatera Barat yang saat ini telah memberinya dua orang putra dan satu orang putri.

Menurut Aisyah. "Boy memilih untuk pindah ke Rumah-nya sendiri dengan alasan agar lebih dekat ke tempatnya bekerja. Saat ini Boy bekerja menjadi Sopir pribadi salah seorang pengusaha yang tinggal di pinggiran kota ini."

 

Setelah Boy pindah ke Rumah-nya sendiri, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Aisyah mengambil upah mengupas bawang merah di salah salah satu Usaha Keluarga milik tetangganya.

Selain mendapatkan upah dari mengupas bawang merah, untuk mencukupi kebutuhan makan dan minumnya, terkadang Aisyah dan Ilham mendapatkan bantuan dari tetangga yang berada di kanan-kiri tempat tinggalnya.  

Aisyah dan Ilham sering di beri lauk pauk dan juga beras oleh para tetangga yang merasa simpati melihat kehidupan mereka berdua. Sebab, Boy yang dulu sempat menjadi tulang punggung keluarga ini setelah ayahnya meninggal dunia, saat ini hanya sesekali menjenguk ibu dan adik angkatnya itu di tempat ini.

 

****

Di antara keremangan cahaya lampu penerangan Rumah semi permanen ini. Kutatap wanita tua yang tengah duduk di sebelah seorang lelaki berusia sekitar 26 tahun, terbaring di atas kasur tipis, di atas lantai semen kasar di dalam bangunan Rumah semi permanen ini.

Dari Adek, nama panggilan lelaki kurus yang menemaniku berkunjung  ke kediaman janda tua ini, aku tahu, bahwa selain mengambil upah dari mengupas bawang merah yang hendak di jual lagi ke pasar oleh pemilik Usaha Keluarga di dekat rumahnya itu, dulu Aisyah juga suka berjalan kaki sambil berjualan daun ubi yang tumbuh di sekitar pekarangan rumahnya pada orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.

Saat ini, di karenakan kondisi kesehatannya yang sudah mulai sedikit menurun, keseharian Aisyah hanya merawat Ilham, anak malang yang dia adopsi dari Panti Asuhan dalam kondisi cacat karena di buang oleh kedua orang tua kandungnya pada 26 tahun yang lalu.

Menurut Adek, lelaki kurus yang selalu memanggil "Tante Isah" pada wanita tua yang saat ini kulihat tengah menyuapi Ilham, saat di ambil oleh keluarga Nurdin dari Panti Asuhan. Ilham kecil, selain lumpuh juga tidak mampu melihat dan berbicara seperti anak-anak kecil yang normal pada umumnya.

Ilham saat ini telah tumbuh besar dan memiliki tubuh yang bahkan lebih besar dari tubuh Aisyah sendiri, tetapi, walau pun saat ini Ilham telah tumbuh dewasa dan memiliki berat tubuh sekitar 70 kg. Keadaan Ilham besar itu saat ini tak lebih seperti Ilham kecil dulu. Sebab hingga saat ini, Ilham besar masih belum bisa mandi, makan dan minum sendiri tanpa bantuan orang lain di dekatnya.

Sambil sesekali menarik nafas, sekali lagi kutatap wanita tua berkerudung putih lusuh berusia sekitar 82 tahun, yang tengah menyuapi anak angkatnya yang saat ini kulihat terbaring lemah di sebelah kanannya itu

Melihat kondisi Aisyah yang semakin hari semakin terlihat rapuh di makan usia, aku bisa membayangkan bagaimana susahnya wanita tua ini merawat Ilham yang saat ini telah tumbuh menjadi "Bayi" besar itu seorang diri.

Di usianya yang telah senja. Wanita tua yang mulai terlihat bungkuk saat tengah berjalan itu, saat ini sepertinya telah meng-iklas-kan sisa-sisa umurnya untuk tetap merawat anak angkatnya itu.

Di tengah segala keterbatasannya, di usianya yang semakin menua, tanpa orang-orang yang dia sayangi berada di dekatnya, dari sorot matanya aku seperti tengah melihat seorang wanita tua yang saat ini tengah berjalan tertatih-tatih seorang diri, terus berjalan di jalan yang dahulu pernah dia lalui bersama mendiang suaminya.

Dari Adek dan para tetangganya aku tahu bahwa Aisyah adalah seorang wanita berhati mulia, ibu dari dua anak yang terlahir dari dua rahim yang berbeda. Walaupun Ilham terlahir bukan dari rahim-nya sendiri, tapi semua orang tahu bahwa dia tetap menyayangi dan merawat Ilham seperti halnya dia  menyayangi dan merawat anak kandungnya sendiri.

Sebelum pamit pada Aisyah dan Ilham, sekilas sempat kutatap foto tak berbingkai yang warnanya telah memudar di dinding papan. Foto lelaki yang menjadi ayah angkat lelaki yang terbaring lemah di atas kasur tipis ini. 

Kutatap senyuman tulus lelaki hebat yang berdiri di samping wanita berhati mulia ini. Juga foto Boy, anak kandungnya yang saat di foto terlihat masih kecil dan tengah memeluk adik angkatnya. Anak kandung pasangan lelaki hebat dan wanita berhati mulia yang di dalam foto itu terlihat begitu menyayangi adik angkatnya itu tapi saat ini demi 'kebaikan' istri dan anak-anaknya, akhirnyapun memutuskan untuk pergi meninggalkan ibu dan adik angkatnya itu di rumah semi permanen ini.

 

****

Saat kisah ini mulai kutuliskan, aku tahu, Aisyah, Wanita berhati mulia itu saat ini tengah berjalan sendirian, di dalam kepasrahan menjalani takdirnya, dia sadar, bahwa sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih lagi Penyayang, Maha Melihat lagi Maha Mendengar.

Di hari perpisahan sekaligus hari kasih sayang ini, aku sadar bahwa Tuhan telah menggerakan 'rasa'ku untuk mengunjungi janda tua ini.

Dari balik kerudung putih yang sudah terlihat begitu lusuh itu, aku seperti di ingatkan, "Jika Tuhan menghendaki, tidak ada yang tidak mungkin dan pasti itu bisa terjadi". Jalinan kasih sayang yang antara Aisyah dan Ilham itu seperti menyadarkanku, bahwa kasih sayang seorang ibu pada anaknya itu tidak hanya bisa terjadi pada ikatan darah semata.

Di tengah keterbatasannya, Aisyah sadar, bahwa hidup harus terus berjalan sebagaimana waktu yang terus berjalan. Siap tidak siap, saat ini dia harus berjuang sendirian, demi kelangsungan hidupnya dan juga demi kelangsungan hidup Ilham, anak angkatnya yang dia tahu hingga saat ini tidak mampu untuk mengurus dirinya sendiri tanpa uluran kedua tangannya.

Di dalam kesendiriannya, disisa-sisa usianya, menjelang akhir dari perjalanan hidupnya, Aisyah sadar, bahwa segala sesuatu yang dia butuhkan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama Ilham, saat ini harus dia cari dan kerjakan seorang diri tanpa perlu harus menengadahkan tangan, meminta belas kasihan pada orang-orang yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Sebab dia sadar bahwa Tuhan itu tidak pernah tidur dan  tidak pernah lalai di dalam menjaga makhluk ciptaannya.

Di kesunyian malam, di antara tumpukan puntung rokok di dalam asbak, di sebelah Laptop yang masih menyala di atas meja kerja. Sesaat, sebelum aku memutuskan untuk menayangkan cerita ini. Di antara hembusan angin yang bertiup kencang, sambil menghembuskan asap rokok-ku secara perlahan-lahan, entah kenapa aku seperti tengah mendengarkan'suara' Tuhan yang sedang berbicara kepadaku melalui perjalanan hidup Aisyah yang kutuliskan di dalam cerita ini.

"Walaupun Ilham kecil dulu pernah tidak di inginkan kehadirannya ke dunia ini oleh Ayah dan Ibu kandungnya. Tapi melalui tangan Aisyah, Aku buktikan! Bahwa Aku mampu menjaga makluk ciptaanku yang lemah dan tidak berdosa ini."

 

-Selesai-

 


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Aisyah", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/warkasa46919/5e32abb8097f361ebd18d1f2/wanita-berhati-mulia-itu-bernama-aisyah?page=all#section2

6 komentar untuk "Aisyah"

  1. Terimakasih cerpennya sangat mengena dan ada hikmah yang terkandung di cerpen ini ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkenan membacanya mbak Din ๐Ÿ˜Š

      Hapus
  2. Duh. .... Sedih membayangkan bagaiman nasib Ilham sekiranya Aisyah telah tiada. selamat siang, Mas Warkasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bu Nur.. semoga berakhir baik semuanya. Terimakasih sudah berkenan membacanya, salam hangat๐Ÿ™

      Hapus
  3. ini kisah nyata atau cerpen? amat menarik tentang ibu aisyah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah nyata yang ditulis dengan gaya cerpen, terimakasih atas kunjungannya Wak. Salam kenal๐Ÿค

      Hapus
 Banner ukuran 800 x 100