Di antara Debu debu Jalanan

Di Antara Debu-Debu Jalanan: Sebuah Refleksi Perjalanan Hidup
🔊 BACA ARTIKEL

WARKASA

PREMIUM MEMBER AREA
Di antara Debu debu Jalanan

Di antara Debu debu Jalanan

Wanita berparas ayu yang mengatakan masih baru di sini itu cukup menarik perhatianku saat ini. Cukup lama kuperhatikan wajah cantik Wanita berhidung bangir ini sebelum Aku tadi memutuskan untuk bertanya, "Asalnya dari mana?"

Penampilan Melly memang berbeda dari yang lainnya, bahkan menurutku terlihat sedikit mencolok untuk ukuran kedua mataku yang sudah terbiasa mengamati penampilan orang-orang yang biasa tinggal di daerah terpencil seperti ini. Gaya bicara dan penampilannya berbeda dari Orang-orang yang biasa kutemui di daerah sini.

⌛ PENAWARAN TERBATAS
Rp 125.000

SUDAH PUNYA KODE AKSES?

👁️
LOGIN BERHASIL ✓
Akses premium Anda telah aktif secara otomatis di perangkat ini.

Di antara Debu debu Jalanan

 

Hujan baru saja turun ketika kupacu laju kendaraan Roda dua yang tengah kunaiki di atas jalanan bertanah kuning yang jika di musim panas biasanya membuat debu-debu jalanan beterbangan menutupi penglihatan mata saking tebalnya. Jalan tanah yang tengah kulalui ini adalah jalanan milik Perusahaan pemilik HPH.

Jalanan ini biasanya hanya di lewati oleh Mobil-mobil besar milik perusahaan pemegang izin HPH yang berada di tempat ini.  Di bawah siraman air hujan, jalanan yang biasa berdebu ini terasa begitu licin sekali. Kupacu laju kendaraan tapi masih di batas kecepatan yang aman ketika melewati jalanan ini. Di ujung sana, terlihat bangunan yang sepertinya adalah sebuah Warung Kopi. Di bawah derasnya air hujan, kupacu kendaraan tuk  datangi bangunan yang sepertinya adalah satu-satunya Warung yang ada di jalan tol-nya Perusahaan ini.

Setelah memarkirkan kendaraan, setengah bergegas aku masuk ke dalam Warung yang terlihat begitu minim cahaya itu. Sambil mengibas-ngibaskan air di rambut dan pakaian yang tengah kukenakan saat ini, kutatap isi bangunan semi permanen yang semuanya dindingnya terbuat dari lembaran papan ini.

“Ada Aqua?” tanyaku pada salah seorang Wanita yang kulihat tengah tersenyum ke arahku.

“Ada,” jawab Wanita berparas ayu itu sambil menganggukan kepalanya ke arahku.

 

Penampilanku terlihat begitu kotor sekali, selain berdebu, sebagian Celana dan Sepatu yang kukenakan sudah hampir tertutup lumpur yang berasal dari tanah kuning akibat kecipratan lumpur di sepanjang jalan tadi.

Setelah membuka tutupnya, segera kuteguk sampai habis setengah botol air mineral yang baru saja di berikan oleh seorang wanita muda  yang cuma tersenyum melihatku karena terlihat begitu haus sekali. Sebelum duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, kukeluarkan sebungkus Rokok dari dalam saku Baju-ku dan menaruhnya di atas Meja.

 

“Melly,”

 

Kusambut uluran tangan Wanita cantik berkulit kuning langsat di depanku yang baru saja memperkenalkan dirinya sambil menjabat erat tangan kanan-ku tanpa merasa khawatir orang yang di ajaknya bersalaman itu bakal menularkan Covid-19 yang lagi booming saat ini.

“Kopi ada Mel?” tanyaku pada Wanita cantik yang memiliki rambut panjang sebahu dan warna rambutnya sedikit pirang ini.

“Enggak ada Bang, yang ada cuma Bir dan beberapa minuman kaleng disini, kalau mau Melly ambilikan,” jawab Melly sambil tersenyum menatapku.

“Minuman kaleng, apa yang ada?” tanyaku pada Wanita berparas cantik yang yang memilik bentuk tubuh tergolong plus size ini.

“Kratingdaeng ada,” kata Wanita cantik yang saat ini tengah memakai Kaos ketat berwarna hitam dan memiliki resleting pas di belahan dadanya itu.

 

“Oh gitu? Abang gak biasa minum Bir, kratingdaeng aja boleh Mel,” kataku lagi sambil menatap ke arah wanita cantik yang memakai Rok mini sedikit kembang dan memiliki bibir tebal dan terlihat begitu sensual ini sambil tersenyum ramah.

“Melly satu ya Bang?” kata Melly lagi sambil beranjak dari tempat duduknya. 

ketika beranjak dari tempat duduknya, Wanita cantik yang penampilannya mirip artis Ibu kota ini seperti sengaja memamerkan payudaranya kepadaku. Sepertinya ukuran payudaranya sekitar 34 -36. Range paling favorit di kalangan para Pria-pria dewasa pada umumnya.

“Iya, boleh.” kataku lagi meng-iyakan permintaan Melly barusan sambil memperhatikan Rok mini warna hitam yang di kenakannya itu seperti tidak mampu untuk menutupi pinggulnya yang terlihat membusung kebelakang itu.

 

Setelah sosok Melly menghilang ke balik ruangan, kutatap seisi Warung yang memilik beberapa Meja dan Kursi serta satu TV besar yang tergantung di dinding bangunan semi permanen ini. Saat berkeliling ruangan ini, Mata-ku sempat melirik ke arah beberapa Wanita cantik yang kulihat hanya mengenakan Piayama dan Celana pendek di atas lutut yang saat ini tengah bercanda satu sama lainnya.

Melly datang membawa dua minuman kaleng lalu duduk di sebelahku sambil membuka minuman kaleng yang di bawanya, sambil memberikannya kepadaku, Melly bertanya.

“Dari mana mulai kehujanan tadi Bang?” 

Di luar Warung ini hujan masih terlihat deras, suaranya lumayan berisik saat air hujan itu mengenai atap bangunan semi permanen ini.  

“Dari Bukit di seberang itu,” jawabku pelan sambil mengambil sebatang Rokok Mild di atas Meja, meyelipkan ke bibir, membakar-nya dan menghisap asap-nya dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan-lahan.

“Mau kemana sih Bang?” tanya Melly sedikit penasaran saat melihat ke arah Celana dan Sepatu kets-ku yang sedikit tertutup lumpur basah.

“Mau ke Desa,” jawabku pelan.

“Baru pertama kali ke tempat ini ya?” tanya Melly penuh selidik sambil tertawa.

“Iya,” jawabku pelan.

“Soalnya Melly baru sekali melihat Abang melewati tempat ini,”

“Iya, memangnya Melly hapal siapa-siapa saja yang pernah melintas dan datang ke tempat ini?” tanyaku mulai teretarik untuk mengorek sedikit saja keterangan dari Wanita cantik berparas ayu ini.

"Hapal sih nggak, tapi ingat! Hahaha.." Melly menutup jawabannya sambil tertawa lebar, memperlihatkan barisan gigi-nya yang terlihat begitu bersih dan rapi dengan hiasan behel berwarna hijau daun untuk mempercantik tampilan gigi-nya.

"Bisa ingat gitu ya?"

"Ya iyalah, masak udah siap "dipake" bisa lupa."

"Maksudnya?"

"Hemm, Abang ini pura-pura lugu apa  pura-pura gak tau sih? Kalau gak tau kok kayaknya udah biasa datang ke tempat-tempat seperti ini. Hihihi... pasti pura-pura lugu biar di sangka anak baru ya?"

"Gak paham Abang Mel,"

"Hemm,.." Melly memelototiku sejenak, melihatku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, lalu tersenyum-senyum sendiri.

"Kenapa, Mel?" tanyaku heran, saat melihat Melly senyum-senyum sendiri melihatku.

"Nggak, Abang dari mana Sih?"

"Dari Kota ...,"

"Ha! Sama donk, Melly juga dari situ, kok bisa nyasar kemari? Hihihi.."

"Lah! Melly sendiri ngapain sampe ke tempat ini?"

"Biasalah Bang, tuntutan ekonomi."

"Kerja?"

"Iya,"

"Jadi pelayan di Warung Makan ini?"

"Ini bukan Warung Makan, Bang."

"Trus, Warung apa?"

"Hmmm, pura-pura lugu nih?" kata Melly lagi seperti orang yang tengah menyelidi-ku.

"Emang gak tau kok," jawabku kalem.

"Masak Melly harus ngomong terus terang kalau  di tempat ini ada jualan "Ini" sih Bang?" kata Melly lagi sambil berusaha menahan tawanya sendiri saat ekor matanya berusaha menuntun pandangan kedua mataku ke bagian paha-nya yang saat ini terpampang dengan jelas di depan mataku.

"Hmmm,"

"Iya, biasanya yang pura-pura lugu kayak Abang ini malah lebih laju kalau udah tau rasanya 'itu', hahaha.." kata Melly tertawa lebar melihat keluguanku.

"Hmm!"

"Hihihi..,"

"Kita ngobrol-ngobrol aja ya Mel, sambil Abang nunggu hujannya reda,"

"Mau lebih dari sekedar ngobrol juga boleh kok, Bang.., Melly iklas lahir batin. Hahaha..."

"Abang gak punya duit, Mel,"

"Ih, Emang duit bisa ngomong?"

"Bisa,"

"Ha! Duit bisa ngomong? Dimana Abang liat?"

"Di dalam Film Kartun anak-anak,"

"Gokil, ah!"

"Hahaha..."

"Tapi Melly gak enak sama "Ayah dan Bunda" kalau cuma nemanin Abang ngobrol disini,"

"Trus?"

"Kalau Abang gak mau "Makek" Melly, ambil "sepasang" ya Bang, biar kita leluasa bercerita di tempat ini."

"Apa yang sepasang?"

"Bir,"

"Oh, Abang gak "Minum" tapi bolehlah, berapa sepasang?"

"Rp. 150 ribu Bang, Melly cuma dapat fee Rp.25 ribu sepasangnya, lumayan Bang, buat tambah-tambahan kalau lagi sepi pelanggan kayak gini,"

"Iya, boleh, ambilah sepasang, tapi nanti Melly yang minum ya, biar Abang yang bayar,"

"iya,"

Bagian Dua

 

Wanita cantik berkulit kuning langsat yang memiliki potongan rambut model Blunt Bob yang meletakkan dua botol B** di atas Meja itu namanya Melly.

 

Wanita berparas ayu yang mengatakan masih baru di sini itu cukup menarik perhatianku saat ini. Cukup lama kuperhatikan wajah cantik Wanita berhidung bangir ini sebelum Aku tadi memutuskan untuk bertanya, "Asalnya dari mana?"

 

Penampilan Melly memang berbeda dari yang lainnya, bahkan menurutku terlihat sedikit mencolok untuk ukuran kedua mataku yang sudah terbiasa mengamati penampilan orang-orang yang biasa tinggal di daerah terpencil seperti ini. Gaya bicara dan penampilannya berbeda dari Orang-orang yang biasa kutemui di daerah sini.

 

Dari tanggal, bulan dan tahun kelahiran yang dia sebutkan. Aku tau bahwa Melly saat ini telah berusia 35 tahun. Dua tahun lebih muda dari usiaku saat ini.

 

Sambil menghembuskan asap Rokok dari bibir-nya yang terlihat merah basah dan sedikit tebal merekah, Wanita berkulit kuning langsat yang saat ini tengah memakai Kaos ketat berwana hitam di padu dengan Rok mini sedikit mengembang itu terlihat begitu seksi di mataku.

 

Setelah membuka sepasang tutup botol B** dan menuangkannya ke dalam satu Gelas, Melly meneguknya secara perlahan sebelum memulai cerita tentang perjalanan hidupnya.

 

"Sebelum sampai ke tempat ini, dulunya Melly adalah seorang Ibu rumah tangga. Melly mempunyai seorang anak laki-laki dari Suami pertama. Saat ini anak Melly yang pertama sudah duduk di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)."

"Iya," jawabku pelan sambil melihat Rokok yang terselip di jari tangan kanan-nya.

"Pernikahan Melly dengan suami pertama kandas di tengah jalan, diam-diam Suami Melly memiliki istri simpanan di luar Kota. Saat itu Melly nggak bisa terima dan marah besar hingga menggugatnya cerai di Pengadilan Agama."

"Trus?"

"Setelah berpisah dengan suami pertama, Melly kemudian menjalin hubungan dengan seorang Pria yang usiaya jauh lebih tua dari usia Melly. Namanya Jhon. Usianya 55 tahun. Pada awalnya Melly kira Jhon adalah seorang pengusaha. Sebab mulai dari awal Melly berkenalan dengannya, Jhon selalu royal. Apa saja permintaan Melly dia penuhi."

"Maksudnya?"

"Melly kan udah punya anak dari Suami pertama, Melly kan butuh biaya buat beli Susu anak dan kebutuhan hidup lainnya,"

"Emang anak Melly gak minum ASI?"

"Nggak Bang, Biar gak kendor, hihihi..." Melly cekikikan saat menjawab pertanyaan yang menurutnya gak begitu penting.

"OO gitu, hehehe.. Masih kenceng donk. Trus Melly di nikahi sama Jhon?"

"Masih donk.. Mau liat? Hehehe... Walau tidak pernah di nikahi secara resmi oleh Jhon tapi Melly merasa bahwa Jhon saat itu begitu menyayangi Melly dan juga anak Melly dari suami pertama. Makanya Melly setuju menjadi istri simpanannya karena saat itu dia bersedia untuk ikut merawat Lucky,"

"Lucky itu nama anak Melly?"

"Iya. Jhon mengontrakkan Rumah yang ukurannya lumayan cukup besar buat Melly dan Lucky. Walau sudah cukup lama berhubungan dengan Jhon, tapi Melly tidak pernah tau apa pekerjaan Jhon. Melly hanya tau dengan jadwal Jhon yang setiap seminggu dua kali pasti akan datang mengunjungi Melly dan Lucky di Rumah Kontrakan."

"Jadi kalau Jhon nggak datang ke Kontrakan, Melly cuma berdua aja dengan Lucky?"

"Iya,"

"Sama Jhon Melly gak punya anak?"

"Nggak Bang,"

"Kenapa?"

"Jhon sepertinya tidak mau punya anak dari Melly. Jhon orangnya tertutup. Dia tidak pernah cerita tentang pekerjaan ataupun tentang kehidupannya. Melly sendiri nggak tau dia punya Istri dan anak apa nggak. Walau minim informasi tentang Lelaki yang cuma mendatangi Melly setiap hari Saptu dan Minggu tapi Melly cukup bersyukur dengan kehadiran Jhon yang saat itu bersedia menjadi ayah bagi Lucky. Setidaknya semenjak menjadi istri simpanan Jhon, Melly tidak pernah pusing memikirkan biaya hidup bersama Lucky."

"Jhon sayang sama Lucky?"

"Gak terlalu sih,"

"Cuma sayang sama Ibu-nya aja ya? hehehe.."

"Gak juga Bang. Lima tahun lalu, tepatnya pas Malam pergantian tahun baru, Melly baru tau siapa Jhon yang sesungguhnya. Lelaki yang selama ini Melly hormati karena Melly anggap sebagai orang yang telah meyelamatkan kehidupan Melly, ternyata adalah Lelaki brengsek! Sama seperti suami pertama Melly yang seorang penghianat!"

"Maksudnya?"

"Jhon lebih parah malahan dari suami pertama Melly."

"Gimana?"

"Malam itu Jhon membawa "Teman minumnya" pulang ke rumah kontrakan Melly. Dan malam itu adalah malam pertama Melly terjerumus ke dalam Lembah hitam hingga berlanjut hingga saat ini.

"Trus?"

"Malam itu Jhon meminta Melly untuk melayani teman Lelakinya. Melly sempat menolak permintaan Jhon yang meminta Melly melayani temannya itu di atas Ranjang di dalam kamar tidur tempat Melly biasa melayani Jhon ketika datang ke Kontrakan itu."

"Hemmm,"

"Sambil menangis, malam itu Melly terpaksa Melayani temannya Jhon,"

 

"Jhon nungguin Melly melayani temannya itu di luar Kamar?"

"Nggak,"

"Trus, ikut masuk ke dalam kamar lalu menonton Melly yang sedang melayani temannya?"

"Mereka berdua memperlakukan Melly seperti seorang Pelacur. Malam itu Melly di paksa melayani mereka berdua yang sedang merayakan pergantian malam tahun baru dengan Pesta Seks di dalam Rumah Kontrakan,"

"Hemmm, trus setelah kejadian itu Melly gak melaporkannya ke Polisi?"

"Nggak,"

"Ke Ortu atau saudara Melly?"

"Nggak Bang, percuma Melly melaporkan Jhon ke Polisi atau kepada orangtua dan saudara-saudara Melly"

"Kenapa?"

"Karena pasti nasib Melly bakal lebih parah, bisa-bisa Jhon membunuh Melly dan Lucky,"

"Hmm, sulit juga ya?"

"Hari berganti minggu, minggu berganti bulan hingga tahun-pun berganti. Melly lama-lama terbiasa melayani Pria hidup belang di dalam Rumah Kontrakan dan juga di Hotel-hotel berbintang. Saat itu Jhon menjadikan Melly sebagai seorang Pelacur panggilan."

"Hemmm,"

"Kadang Jhon membawa Pria hidung belang yang ingin "Memakai" Melly ke Rumah Kontrakan, kadang Melly di antar Jhon ke kamar Hotel untuk melayani Pria-pria hidung belang yang membooking Melly melaluinya, pokoknya Melly benar-benar di berdayakan oleh Jhon."

"Kenapa Melly gak mencoba lari saat ada kesempatan, selagi Jhon nggak berada di dekat Melly?"

"Lari kemana Bang? Selama Melly masih hidup di Kota itu, Melly tidak berdaya, Jhon itu teman-temannya banyak, bukan cuma Preman, Oknum-oknum Aparat keamananan juga banyak yang menjadi 'pelanggan' Melly dan mereka itu berteman dengan Jhon"

"Sulit ya? Seperti masuk ke dalam lingkaran Setan,"

"Sampai pada akhirnya Melly jatuh cinta pada salah seorang pelanggan, namanya Ardi, dia sudah memiliki istri dan dua orang anak tapi terlanjur jatuh cinta sama Melly. Ardi bersedia menikahi Melly, Kami saling mencintai, setiap kali melayani Ardi, Melly tidak pernah menggunakan alat pengaman,"

"Trus? Melly jatuh sakit karena Ardi mempunyai penyakit kelamin?"

"Bukan! Melly hamil,"

"Oo, trus?"

"Jhon waktu itu marah besar dan menyuruh Melly menggugurkan kandungan,"

"Trus, Melly gugurkan?"

"Nggak."

"Trus?"

"Waktu itu Melly di paksa Jhon minum-minuman keras sampai mabok biar kandungan Melly rontok,"

"Trus? Melly keguguran?"

"Nggak, Alhamdulillah anak itu berhasil lahir dengan selamat dan sekarang Melly titipkan sama Neneknya,"

"Berapa usia anak Melly yang paing kecil?"

"Sekarang sudah 3 tahun,"

"Iya, Sehat?"

"Siapa?"

"Anak Melly. Masak Abang nanya Ibu-nya sih? kan Ibu-nya lagi ngobrol sama Abang di sini? Hehehe.."

"Alhamdulillah sehat Bang,"

"Iya, trus gimana kelanjutan cerita Jhon tadi?"

"Ketika Jhon lagi berusaha menggugurkan janin yang ada di dalam perut Melly, Ardi datang. Ardi waktu itu sempat meminta Melly secara baik-baik pada Jhon, tapi Jhon menolak mentah-mentah permintaan Ardi"

"Iya, trus gimana?"

"Ardi masuk Penjara,"

"Jhon melaporkan Ardi ke Polisi?"

"Bukan, pas mereka ribut, Jhon mati tertusuk Pisau belati di tangan Ardi,"

"Iya,"

"Setelah Jhon mati, Melly bebas dan Melly pulang ke rumah orangtua Melly,"

"Iya, setelah Ardi masuk Penjara ya?"

"Iya, waktu itu Melly sempat beberapa kali menjenguk Ardi di dalam Penjara,"

"Sampe sekarang?"

 

"Ardi di tuntut dengan hukuman Penjara seumur hidup, beberapa kali Melly sempat menjenguk Ardi di dalam Penjara, tapi semenjak Melly di lecehkan sama Oknum-oknum Sipir yang ada disitu, Melly gak pernah menjenguk Ardi lagi."

"Kok bisa? Melly gak laporin mereka ke Polisi atau kemana gitu?"

"Buat apa Bang? Percuma, karena sebagian Oknum itu dulunya ada yang pernah "make" Melly juga, waktu masih menjadi barang dagangan Jhon,"

"Hemm, sulit ya? Mereka semena-mena sama Melly, meski Melly sudah tidak dipekerjakan lagi oleh Jhon,"

"Begitulah, permainan mereka tertutup rapi.  Rata-rata yang pernah 'make' Melly itu orang-orangnya terlihat baik, baik di mata istri maupum di lingkungan tempat tinggalnya,"

"Munafik ya,"

"Nggak heran Bang, sekarang ini Melly cuma mau cari duit buat membiayai kebutuhan kedua anak Melly,"

"Iya, harus! Bagaimanapun juga, kedua anak Melly itu adalah anak-anak yang gak punya salah dan tidak mengerti apa-apa atas penderitaan Ibu-nya,"

"Setelah Jhon mati dan Ardi masuk Penjara, Melly pulang ke rumah orangtua Melly, Melly sudah berusaha untuk bekerja seperti Wanita baik-baik lainnya, tapi karena himpitan ekonomi, akhirnya Melly terpaksa harus menjual diri seperti ini,"

"Hmm, sulit buat mencari kerja lain ya Mel?"

"Melly udah pernah mencoba kerja lain Bang. Melly pernah kerja menjadi pelayan di salah satu Kafe, tapi Melly malah di perkosa sama atasan Melly yang kurang ajar itu,"

"Hmmm, apes banget hidupmu ya Mel.."

"Idih! Abang ini,"

"Sorry, Abang cuma bercanda,hehehe..."

"Tega banget sih Abang sama Melly,"

"Maaf Abang cuma bercanda, tapi jujur aja, Melly memang cantik banget. Jadi wajar kalau banyak laki-laki normal yang kepingin nyobain 'itu'nya Melly,"

"Hmm, kalau memang Abang kepingin "make" Melly nggak perlu ngegombal kayak ginilah Bang.., kalau Abang mau, boleh kok, gak ada yang marah, hihihi..."

"Abang gak punya duit Mell, maaf, memang berapa sih biasanya Mel?"

"Tergantung Abang mau Melly layananin kayak gimana?"

"Maksudnya?"

"Maksudnya, kalau Sortem, Sorong di tempat gak pake nginap cukup Rp.300 ribu, dan kalau mau satu malam penuh make Melly, Abang cukup ngeluarin duit Rp.600 ribu,"

"Ooh gitu,"

"Iya, Yuuk... Kalau cuma mau makan Sate Kambing, ngapain mesti beli Kambing sih bang, ada banyak yang jualan Sate kambing di pinggir jalan dan Abang gak perlu repot-repot melihara Kambing buat makan Sate Kambing, hihihi.."

"Memang Melly Sate Kambing? Hihihi... Pingin sih, tapi Abang gak punya duit Mel,"

"Hmm, kapan Abang pulang ke Kota?"

"Seminggu lagi kayaknya, kenapa?"

"Yang Melly sebutin tadi itu harga yang di patok sama Ayah dan Bunda disini, Melly gak bisa ngasih kurang dari itu, tapi kalau di kasih lebih Melly terima, hihihi... Melly tiap bulan pasti pulang ke Kota untuk ngantarin uang biaya hidup Anak-anak Melly, nanti pas Melly pulang kita ketemuan ya Bang?"

"Boleh, tapi Abang gak janji."

"Kok?"

"Mana tau pas pulang dari sini Abang mati,"

"Hmmm, bilang aja Abang malu dan nggak mau berteman sama orang kayak Melly,"

"Nggak! Ngapain malu, Abang gak pernah membeda-bedakan orang di dalam berteman kok, toh Melly melakukan ini karena keadaan. Melly berada di tempat ini karena merasa bahwa ini adalah pekerjaan, salah satu cara Melly menjemput rezeki yang di berikan oleh Tuhan, kita sama-sama lagi bekerja ketika ketemu di tempat ini dan menurut Abang biasa aja kok. Masalah dosa kan urusan masing-masing, lagian kita gak pernah tau juga kelak kita bakal dimasukin Tuhan ke dalam Surga apa ke dalam Neraka."

"Iya Bang, terima kasih udah nerima keadaan Melly dan gak ikut merendahkan Melly kayak orang-orang yang selama ini make Melly,"

"Tidak ada yang perlu di rendahkan, apalagi sampai memandang sebelah mata kepada mahkluk ciptaan Tuhan yang sedang berusaha mencari rezeki untuk menghidupi Anak-anak yang Tuhan titipkan kepadanya. Toh Melly bisa seperti ini, tentu saja atas izin dan kehendak-Nya bukan? Bahkan sehelai daun yang jatuh ke muka bumi ini pun sudah pasti terjadi atas izin-Nya. Apalagi makhluk hidup seperti kita ini yang kata orang, hidup di dunia ini cuma untuk melakoni jalan ceritaNya. Ibarat cerita sinetron di TV kita ini cuma aktor yang sedang memainkan sandiwara di Dunia ini.

Abang doakan semoga Melly mendapatkan rezeki yang banyak, biar bisa menghidupi Anak-anak Melly dan syukur-syukur Melly bisa segera mendapatkan seorang Suami yang baik, agar bisa segera keluar dari Lembah hitam ini.

Melly masih muda dan cantik lagi, pasti banyaklah yang mau sama Melly. Memang betul kata Melly tadi, bagi sebagian Lelaki memang lebih praktis membeli Sate Kambing di pinggir jalanan kayak gini dari harus pada repot-repot memelihara Kambing biar bisa makan Sate Kambing. Tapi yakinlah, nggak semua Laki-laki berpikiran seperti itu."

"Iya Bang. Aamiin."

"Hujan udah reda, Abang pamit dulu ya. Oh iya, berapa semuanya Mel?"

"Bentar Bang, Melly panggilkan Bunda,"

 

Selesai

QUANTUM AUDITOR V8.5
CORE: ACTIVE
INITIALIZING SEO PROTOCOLS...
AI PROMO COPIED! ⚡
NEURAL LINK ACTIVE
×
1919 COMMAND CENTER
LATENCY: ANALYZING...
NETWORK: 0
ARTICLES: 0
INITIALIZING MULTI-DOMAIN SYNC...
AI CONTEXT COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...