"Biarkan aku hanya menjadi muadzin
Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa
lagi," kata Bilal sambil menatap sang Khalifah di depanku.
Sesaat kutatap wajah Bilal di depanku, ada
kesedihan yang begitu mendalam di situ. Angin bertiup kencang, di tempat Azan
ini dulu pernah dikumandangkan, di lima waktu, di sebelah Sang Waktu, di bawah
langit yang menghitam, Aku melihat Bilal pergi meninggalkan sang Khalifah di
tempat ini seorang diri.
⌛ PENAWARAN TERBATAS
Rp 125.000
SUDAH PUNYA KODE AKSES?
👁️
LOGIN BERHASIL ✓
Akses premium Anda telah aktif secara otomatis di perangkat ini.
Lima Waktu
Samar-samar, di antara suara tembang
'Lir-ilir' yang di gubah oleh Sunan Kalijaga pada zaman kerajaan Jawa Islam,
sebagai sarana dakwah/syiar agama Islam di pulau Jawa pada masa itu, aku masih
sempat melihat diriku yang lainnya di dalam ruang kerjaku.
Sebelum aku sadar dengan apa yang baru saja
terjadi di tempat ini. Sekilas kedua mataku sempat melihat diriku sendiri,
tengah duduk menghadap Laptop yang masih menyala di atas meja sana, dari
tempatku berdiri saat ini, kulihat diriku yang lainnya, saat ini tengah
menikmati secangkir kopi susu sambil mendengarkan tembang 'Lir-ilir' yang terdengar
begitu pelan di tempat ini.
Di antara suara tembang yang sayup--sayup
masih terdengar pelan. Aku baru sadar, ternyata tembang
'Lir-ilir' gubahan Emha Ainun Najib (Cak Nun) ini, perlahan tapi pasti, telah
menarikkeluar sukmaku dari dalam
raga-ku sendiri.
Tembang yang oleh kelompok kesenian Kyai
Kanjeng di aransemen ulang dengan nuansa yang lebih religius dan sakral ini
telah membawa diriku yang lainnya ketempat ini. Ke Alam yang Aku rasakan begitu
hening dan membuatku merasa begitu tenang berada di tempat ini.
Di keremangan cahaya, di dalam kesendirian,
Aku tersentak, saat menyadari, ternyata saat ini Aku tidak sendirian di tempat
ini.
Samar-samar, di antara suara tembang
'Lir-ilir' yang di gubah oleh Sunan Kalijaga pada zaman kerajaan Jawa Islam,
sebagai sarana dakwah/syiar agama Islam di pulau Jawa pada masa itu, aku masih
sempat melihat diriku yang lainnya di dalam ruang kerjaku.
Sebelum aku sadar dengan apa yang baru saja
terjadi di tempat ini. Sekilas kedua mataku sempat melihat diriku sendiri,
tengah duduk menghadap Laptop yang masih menyala di atas meja sana, dari
tempatku berdiri saat ini, kulihat diriku yang lainnya, saat ini tengah
menikmati secangkir kopi susu sambil mendengarkan tembang 'Lir-ilir' yang terdengar
begitu pelan di tempat ini.
Di antara suara tembang yang sayup--sayup
masih terdengar pelan. Aku baru sadar, ternyata tembang
'Lir-ilir' gubahan Emha Ainun Najib (Cak Nun) ini, perlahan tapi pasti, telah
menarikkeluar sukmaku dari dalam
raga-ku sendiri.
Tembang yang oleh kelompok kesenian Kyai
Kanjeng di aransemen ulang dengan nuansa yang lebih religius dan sakral ini
telah membawa diriku yang lainnya ketempat ini. Ke Alam yang Aku rasakan begitu
hening dan membuatku merasa begitu tenang berada di tempat ini.
Di keremangan cahaya, di dalam kesendirian,
Aku tersentak, saat menyadari, ternyata saat ini Aku tidak sendirian di tempat
ini.
Samar--samar Aku melihatada orang lain di tempat ini. seseorang yang
dari balik kegelapan itu Aku tahu tengah memperhatikanku sedari
awal kedatanganku di tempat ini.
Di antara keremangan cahaya, samar--samar
kutatap seraut wajah yang begitu dingin, datar dan tanpa rasa. Tidak kutemukan
ada rasa sedih maupun gembira disana.
"Di mana Aku?" tanyaku pada sosok
berjubah putih keperakan yang tengah berjalan mendekat ke arahku.
"Di Lima Waktu." jawabsosok berjubah putih keperakan yang baru saja
muncul di depanku. Tanpa ekspresi menatap ke arahku.
Di ujung sana, di atas meja kerja, di antara
kepulan asap rokok, di sebelah cangkir kopi yang asap-nya masih mengepul dari
kopi yang berada di dalamnya. Secangkir kopi yang belum habis kuminum tadi.
Perlahan tapi pasti, diriku yang kulihat tengah meminum kopi itu, semakin lama
semakin terlihat memudar, sebelum akhirnya benar-benar menghilang dan tak
kulihat lagi dari tempatku berdiri saat ini.
Kutatap sosok berjubah putih keperakan di
depanku. Aku tahu dia adalah Sang Waktu.Sosok berjubah putih yang beberapa waktu yang lalu juga pernah
menjumpaiku, tak lama setelah aku meneguk habis secangkir kopi susu buatan
Wanita misterius berkerudung panjang warna hitam itu.
**
Kuikuti langkah kaki Sang Waktu. Di antara
suara tembang 'Lir-ilir'Aku dan Sang
Waktu terus berjalan, memasuki Alam Kesunyian. Terus berjalan, mendatangi suara
yang terdengar pilu dari kejauhan.
Langkah kaki-ku dan Sang Waktu terhenti. Di
ujung sana, samar-samar kulihat seseorang di kejauhan.Aku tercekat, ketika mengetahui bahwa sosok
yang tadi kulihat begitu samar itu ternyata adalah seseorang yang berasal dari
Masa Lalu. Seseorang yang secara akal sehat, mustahil bisa aku temui saat ini.
terlebih karena perbedaan usia yang terlalu jauh itu. Di sebelah Sang
Waktu,kutatap sosokyang pernah hidup pada zaman Rasulullah itu.
Aku baru sepenuhnya sadar tengah berada di
Masa Lalu, ketika Sang Waktu memperkenalkan kepadaku bahwa sosok yang saat ini
tengah berdiri di depanku itu adalah sosok Bilal. Sosok yang hidup pada zaman
Rasulullah dulu.
Saat ini Aku dan Sang Waktu tengah berada di
Masa Lalu. Tepatnya sesaat sebelum Bilal mengkumandangkan Azan untuk yang
terakhir kalinya di tempat ini.
Di bawah langit yang menghitam, di antara
hembusan angin yang bertiup kencang, dari kejauhan, samar--samar kedua mataku
menangkap satu sosok lainnya tengah berjalan ke tempat ini.
"Itu sang Khalifah," kata Sang
Waktu, sambil menunjuk ke arah lelaki yang tengah berdiri di depan Bilal.
Sang Khalifah menatap Bilal di depanku.
Menatap Bilal yang kulihat tengah berduka itu.
Di bawah langit yang menghitam, di antara
hembusan angin yang bertiup kencang. Kutatap sang Khalifah dan Bilal yang
sepertinya tidak menyadari kehadiranku dan Sang Waktu yang berada di dekat mereka saat ini.
Di antara hembusan angin yang bertiup kencang,
Sang Khalifah meminta Bilal untuk menjadi muadzin kembali. Dan di bawah langit
yang menghitam, Bilal menatap sang Khalifah dengan tatapan pilu.
"Biarkan aku hanya menjadi muadzin
Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa
lagi," kata Bilal sambil menatap sang Khalifah di depanku.
Sesaat kutatap wajah Bilal di depanku, ada
kesedihan yang begitu mendalam di situ. Angin bertiup kencang, di tempat Azan
ini dulu pernah dikumandangkan, di lima waktu, di sebelah Sang Waktu, di bawah
langit yang menghitam, Aku melihat Bilal pergi meninggalkan sang Khalifah di
tempat ini seorang diri.
Selesai
Catatan : Cerita
ini hanya fiktif belaka. Mohon dimaafkan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat
kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur
kesengajaan.
Anda baru saja menyelesaikan konten eksklusif dalam kategori PREMIUM.
Dukung keberlanjutan layanan website berkualitas di warkasa1919.com melalui kontribusi Anda.