Taman Wisata Bukit Batu
Menjelajahi Bukit Batu
Taman Wisata Bukit Batu
Taman Wisata Bukit Batu terletak di wilayah Kasongan—Ibu Kota dari Kabupaten
Katingan, Kalimantan Tengah. Tempat wisata di Kalimantan Tengah ini
diketahui memiliki keunikan tersendiri, maka dari itu jika sedang berada di
Palangkaraya dan ingin mencari tempat wisata yang memiliki nilai sejarah, sekira 70 Kilometer arah Barat Laut dari Palangkaraya, Anda dapat menemukan
bekas pertapaan seorang pahlawan nasional—Tjilik Riwut. Sejarah Bukit Batu sendiri sangat kaya dan menjadi
simbol penting dalam pemandangan spiritual. Dalam masyarakat adat,
area ini dikenal sebagai lokasi pertemuan arwah leluhur, menjadikannya sebagai
tempat yang dihormati dan dijaga dengan baik. Pemandangan yang menakjubkan,
ditambah dengan atmosfer yang tenang, membuat lokasi ini sangat cocok untuk
meditasi dan refleksi pribadi. Tempat pertapaan Tjilik Riwut adalah sebuah batu
besar yang konon dapat memberikan ilham gaib. Menurut kepercayaan warga lokal,
Tjilik Riwut membulatkan tekad untuk ikut serta memperjuangkan kemerdekaan
setelah bertapa di batu ini. Tidak hanya Tjilik Riwut, banyak warga setempat juga meyakini keistimewaan batu-batu yang mendiami bukit ini. Misal, legenda
batu Gaib atau batu Bertapa yang kabarnya dihuni oleh roh gaib Kabarnya, roh ini suka menolong manusia melalui
ilham. Pada saat perang kemerdekaan, warga sekitar meminta bantuan dari roh ini
untuk mendapatkan informasi serangan musuh. Selain itu, terdapat pula batu Tingkes yang konon
dapat mempermudah hidup seseorang. Warga sekitar meyakini bahwa orang yang
mampu melewati celah sempit di batu tersebut akan mampu melewati semua
tantangan hidup. Selanjutnya adalah batu Banama yang berarti ‘perahu
besar’. Sembilan cekungan di batu ini konon melambangkan jumlah anak sungai
yang ada di Kalimantan Tengah.. Di belakang batu ini, terdapat batu setinggi 10
meter yang bernama batu Sial. Kabarnya, orang yang merasa hidupnya sial dapat
membuang kesialannya dengan menaiki batu ini. 12 batu di bukit ini yang dipercayai memiliki nama
dan keistimewaan supernatural Keunikan dari hamparan batu di bukit ini adalah
asal usulnya yang sulit dibuktikan secara ilmiah. Lokasi Bukit Batu berada di
tengah hutan, tidak berada di bantara sungai, dan tidak memiliki gunung berapi.Pertapaan Tjilik Riwut
12 Batu Supernatural
Hanya ada mitos dari warga lokal untuk menjelaskan
asal muasal dari Bukit Batu. Konon, Bukit Batu berasal dari pernikahan antara
seorang putra dari suku Dayak di Kalimantan Tengah dengan seorang bidadari.
Saat mereka memiliki anak, anak tersebut harus
kembali hidup di bumi. Berbagai batu besar di bukit ini adalah wujud dari
kembalinya anak dari pasangan tersebut ke bumi.
Agar menjaga suasana tenang di Bukit Batu, terdapat area bermain bagi anak-anak di area parkir atau sekitar 150 meter dari bukit. Selain itu—sekitar 200 meter dari bukit— terdapat kios kecil yang menjual minuman dan cemilan khas Kalimantan Tengah.
Siapa Tjilik Riwut
Tjilik Riwut
Marsekal Pertama TNI (HOR) (Purn.) Anakletus Tjilik Riwut adalah nama seorang putra dari suku Dayak Ngaju yang namanya diabadikan menjadi nama jalan dan juga bandara di Kalimantan Tengah. Karena berbagai pencapaian beliau di bidang militer dan politik, beliau mendapatkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 107/TK/1998
Salah satu pencapaian Tjilik Riwut di bidang militer adalah penerjunan pasukan payung di Desa Sambi, Kalimantan Tengah. Padatanggal 17 Oktober 1947, TNI Angkatan Udara pertama kali melakukan operasi penerjunan di desa ini.
Mengutip dari Kompas.com - diketahui bahwa selain di bidang militer, Tjilik Riwut juga memiliki riwayat berpolitik yang cukup panjang. Beliau merupakan salah satu putra dari suku Dayak Ngaju yang bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
KNIP adalah lembaga pembantu presiden yang anggotanya terdiri dari berbagai pemuka-pemuka masyarakat di berbagai golongan dan daerah. Tjilik Riwut mewakili sekitar 185.000 rakyat yang terdiri dari 142 suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, dan 2 tumenggung dari pedalaman Kalimantan.
Selain menjadi perwakilan Kalimantan di KNIP, ternyata beliau juga pernah mengajukan perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Palangkaraya. Menurut Roeslan Abdoelgani—mantan Wakil Ketua Dewan Nasional—Tjilik Riwut mengajukan langkah ini karena posisi Palangkaraya yang berada di titik tengah Indonesia, sehingga aman dari ancaman negara lain
Gagasan ini sebenarnya sempat diterima oleh seluruh anggota Dewan Nasional. Namun, usulan Tjilik Riwut terkendala masalah logistik berupa ketiadaan jalur transportasi yang memadai.
Rencananya Tugu Dewan Nasional di Palangkaraya seharusnya menjadi lokasi ibu kota baru. Namun, seiring berjalannya waktu wacana ini menghilang dengan bergantinya kabinet yang baru.