Di Antara Rintik dan Rahasia

Di Antara Rintik dan Rahasia
🔊 BACA ARTIKEL

WARKASA

PREMIUM MEMBER AREA
Di Antara Rintik dan Rahasia

Bagian 1: Simfoni Hujan di Kedai "Hening"

 

Dunia seringkali bekerja dengan cara yang paling tidak terduga, seolah ada konduktor tak terlihat yang mengatur setiap langkah manusia di atas panggung kehidupan. Di sebuah sore yang murung di jantung Jakarta, saat langit memutuskan untuk menumpahkan seluruh beban airnya ke bumi, takdir sedang menyusun sebuah skenario kecil di sebuah kedai kopi tua bernama "Hening".

Arlan melangkah masuk dengan napas memburu. Kemeja flanelnya setengah basah, dan kacamata berbingkai hitamnya berembun, menghalangi pandangannya. Ia hanya butuh satu hal: tempat berteduh dan secangkir americano panas untuk meredakan kekacauan pikirannya setelah rapat yang melelahkan dengan klien yang keras kepala. Namun, kedai itu penuh. Aroma biji kopi yang terpanggang menyambutnya, bercampur dengan bau tanah basah yang terbawa angin dari pintu yang terbuka.

Kursi-kursi kayu yang biasanya kosong kini diduduki oleh orang-orang yang senasib dengannya—para pengungsi hujan. Ia mengedarkan pandangan, mencari sudut kosong, hingga matanya tertuju pada satu meja di pojok ruangan, dekat jendela besar yang buram oleh uap air. Hanya ada satu kursi yang tersisa di sana, tepat di depan seorang perempuan yang sedang asyik dengan dunianya sendiri.

"Maaf, boleh saya duduk di sini? Tempat lain sudah penuh," tanya Arlan dengan nada selembut mungkin, berusaha tidak mengganggu konsentrasi perempuan itu.

Perempuan itu mendongak perlahan. Namanya Maia. Ia memiliki mata yang tampak seperti telaga di musim gugur—tenang, namun menyimpan kedalaman yang misterius. Di tangannya ada sebuah buku sketsa tua dengan sampul kulit yang mulai mengelupas, dan sebuah pensil 2B yang sudah hampir tumpul.

"Silakan," jawab Maia singkat. Ia memberikan senyum tipis—jenis senyum yang tidak mengobral keramahan, namun terasa sangat tulus dan menenangkan.

Itulah awal dari segalanya. Tidak ada kembang api yang meledak di langit, tidak ada musik latar yang dramatis. Hanya ada suara mesin espresso yang mendesis dan rintik hujan yang menghantam atap seng dengan irama yang konsisten. Selama satu jam pertama, mereka hanya diam dalam radius satu meter. Arlan tenggelam dalam ketikan di laptopnya, mencoba mengejar tenggat waktu, sementara Maia terus menggoreskan garis-garis abstrak yang perlahan membentuk siluet gedung-gedung kota yang kuyup.

Namun, diam itu tidak terasa canggung. Ada semacam frekuensi yang sama di antara mereka, sebuah kenyamanan yang jarang ditemukan pada dua orang asing. Hingga akhirnya, sebuah kecerobohan kecil memecah dinding itu. Arlan, saat mencoba meraih ponselnya yang bergetar, tak sengaja menyenggol cangkir kopinya yang tinggal setengah. Cairan hitam pekat itu meluber di atas meja kayu, mengalir cepat mengancam buku sketsa Maia.

"Oh, astaga! Maafkan saya! Saya benar-benar minta maaf," Arlan dengan sigap menyambar tumpukan tisu di tengah meja.

Secara bersamaan, tangan Maia juga bergerak cepat untuk menyelamatkan karya seninya. Tangan mereka bersentuhan di atas meja yang basah. Hanya sedetik, namun sanggup menghentikan detak waktu bagi Arlan. Ada kehangatan aneh yang merayap dari ujung jarinya, menjalar ke seluruh tubuh, dan berhenti tepat di jantungnya.

"Tidak apa-apa, hanya sedikit terkena pinggirnya. Kopi ini malah memberikan efek vintage pada kertasnya," ucap Maia sambil tertawa kecil. Tawa itu terdengar seperti denting lonceng angin di telinga Arlan—ringan dan merdu.

Percakapan mengalir setelah itu, seolah bendungan yang selama ini menahan kata-kata mereka telah jebol. Mereka bicara tentang hujan yang tak kunjung reda, tentang betapa menyebalkannya kemacetan Jakarta, hingga tentang hobi-hobi yang terpaksa dikubur demi tuntutan karier. Arlan bercerita tentang ambisinya menjadi penulis yang tertunda oleh angka-angka di kantor, dan Maia bercerita tentang mimpinya melukis dunia dengan warna-warna yang tidak ada di pelangi.

Saat hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis yang berkilauan di bawah lampu jalan, Arlan menyadari ia tak ingin momen ini berakhir sebagai sekadar kenangan sekali lewat.

"Boleh... kalau kita lanjut bicara di lain waktu? Lewat WhatsApp, mungkin? Aku ingin tahu apakah sketsa itu akan selesai dengan noda kopi itu," tanya Arlan ragu, hatinya berdegup lebih kencang daripada saat ia presentasi di depan direksi.

Maia terdiam sejenak, menatap mata Arlan yang tampak jujur dan sedikit cemas. Ia kemudian mengambil ponsel Arlan dan mengetikkan deretan angka dengan jemarinya yang lentik. "Jangan kirimkan pesan di jam kerja. Aku lebih suka berbicara saat dunia sudah mulai tidur dan orang-orang berhenti berpura-pura," bisik Maia sebelum beranjak pergi meninggalkan aroma vanila yang samar.

⌛ PENAWARAN TERBATAS
Rp 125.000

SUDAH PUNYA KODE AKSES?

👁️
LOGIN BERHASIL ✓
Akses premium Anda telah aktif secara otomatis di perangkat ini.

Bagian 2: Labirin Rahasia dan Pesan di Tengah Malam

 

Hari-hari berikutnya bagi Arlan berubah menjadi sebuah petualangan digital yang mendebarkan. Pesan-pesan singkat di awal berubah menjadi paragraf-paragraf puitis yang dikirimkan saat jarum jam melewati angka dua belas. Arlan dan Maia menemukan bahwa mereka adalah dua potongan teka-teki yang selama ini hilang di antara riuhnya kota.

Namun, kenyataan tak sesederhana perasaan mereka. Kehidupan nyata memiliki dinding-dinding yang tebal. Arlan berada di lingkaran korporat yang kaku, di mana setiap gerak-geriknya dipantau oleh keluarga yang mengharapkan ia bersanding dengan putri rekan bisnis ayahnya. Sementara Maia adalah seorang ilustrator idealis yang sedang membangun nama di galeri milik mantan kekasihnya—seorang kurator seni posesif yang masih memegang kontrak kerja Maia.

Ada lingkaran sosial yang rumit, ada janji-janji masa lalu yang belum benar-benar terurai. Mereka sepakat untuk menjaga ini tetap menjadi milik berdua. Sebuah hubungan diam-diam. Sebuah cinta yang tumbuh di bawah radar, di sela-sela kesibukan yang pura-pura.

"Kita adalah rahasia paling indah yang pernah aku miliki," tulis Arlan suatu malam. "Rahasia itu memiliki beratnya sendiri, Arlan. Tapi bersamamu, aku tidak keberatan memikulnya setiap hari," balas Maia.

Mereka mulai menciptakan dunia mereka sendiri. Mereka bertemu di tempat-tempat yang tak terjamah radar teman-teman atau kolega. Pernah suatu kali mereka menghabiskan waktu tiga jam di sebuah perpustakaan tua yang hampir bangkrut di pinggir kota, hanya untuk membaca buku yang sama secara bergantian. Di lain waktu, mereka terlihat tertawa di pasar loak saat akhir pekan, berburu piringan hitam tua yang sudah tergores.

Setiap pertemuan adalah curian waktu yang mereka hargai lebih dari emas. Di dalam mobil yang terparkir di bawah lampu jalan yang remang-remang, mereka bertukar cerita tentang masa kecil, ketakutan terbesar, dan harapan yang seringkali kandas. Di sana, di dalam ruang sempit itu, mereka tidak perlu menjadi "Arlan sang Manajer" atau "Maia sang Ilustrator". Mereka hanya dua jiwa yang haus akan pengertian.

Cinta mereka tumbuh dalam sunyi, namun kekuatannya melampaui hiruk-pikuk kota. Arlan belajar memahami makna di balik setiap sapuan kuas Maia, dan Maia belajar menemukan harmoni dalam kekacauan logika Arlan. Namun, semakin dalam mereka masuk ke dalam labirin rahasia ini, semakin tipis oksigen yang mereka rasakan. Sesuatu yang indah, jika terus disembunyikan, perlahan akan mulai terasa seperti sebuah kesalahan.

Bagian 3: Titik Nadir—Saat Rahasia Menjadi Beban

Enam bulan berlalu. Kelelahan mulai menampakkan wajahnya yang pucat. Bersembunyi bukan lagi sebuah petualangan yang memacu adrenalin; itu telah berubah menjadi beban mental yang menguras energi. Mereka mulai sering berselisih paham tentang hal-hal kecil yang sebenarnya berakar pada satu masalah besar: ketidakpastian.

Suatu malam, di sebuah taman kota yang sepi dan hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip, ketegangan itu akhirnya pecah. Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, seolah memberi pertanda akan adanya badai emosi.

"Sampai kapan kita harus seperti ini, Arlan? Sampai kapan aku harus pura-pura sibuk menelepon klien saat sebenarnya aku sedang berbicara denganmu di depan teman-temanku? Aku lelah hidup dalam bayang-bayang," suara Maia pecah. Air mata menggenang di pelupuk matanya, merefleksikan cahaya lampu yang redup.

Arlan mengacak rambutnya frustrasi, ia bersandar pada pagar besi yang dingin. "Maia, kamu tahu situasiku. Aku sedang mencoba memutus kontrak kerja sama dengan galeri itu agar kamu bisa bebas, tapi itu butuh waktu. Aku hanya ingin menjagamu dari drama yang tidak perlu."

"Menjagaku? Atau menjaga kenyamananmu sendiri agar tidak perlu menghadapi konfrontasi dengan keluargamu?" Maia membuang muka. "Aku merasa kita tidak sedang membangun masa depan. Kita hanya sedang menunda perpisahan yang sudah pasti akan terjadi."

Kata-kata itu menghujam Arlan tepat di ulu hati. Untuk pertama kalinya, mereka menatap satu sama lain bukan dengan binar cinta, melainkan dengan kelelahan yang luar biasa. Rahasia yang selama ini menjadi pelindung, kini berbalik menjadi penjara.

"Mungkin kamu benar," ucap Arlan dengan suara rendah yang bergetar, hampir tak terdengar di antara deru angin. "Mungkin kita hanya saling menyakiti dengan terus memaksakan diri untuk sembunyi. Jika kebebasanmu berarti aku harus pergi, maka aku akan melakukannya."

Malam itu, tanpa ada pelukan perpisahan, mereka sepakat untuk menyudahi segalanya. Maia berjalan pergi tanpa menoleh lagi, langkah kakinya terdengar berat di atas aspal yang kering. Arlan tetap berdiri di sana, menatap punggung Maia yang perlahan menghilang ditelan kegelapan malam. Dunia yang tadinya penuh warna, seketika berubah menjadi abu-abu.

Bagian 4: Kesadaran di Balik Hening yang Menyakitkan

Satu minggu setelah keputusan untuk mengakhiri segalanya, hidup Arlan terasa seperti mesin yang berjalan tanpa pelumas. Ia pergi ke kantor, menghadiri rapat maraton, bertemu dengan relasi bisnis, dan tersenyum palsu di depan keluarganya. Namun, ada lubang besar di dadanya yang terasa perih setiap kali ia menarik napas.

Ia merindukan getaran ponselnya di tengah malam. Ia merindukan bagaimana Maia akan mengirimkan foto langit sore yang menurutnya memiliki gradasi warna yang unik. Ia merindukan cara Maia mengoreksi cara berpakaiannya. Tanpa Maia, pencapaian kariernya terasa hambar. Keheningan di apartemennya kini bukan lagi ketenangan, melainkan siksaan.

Di sisi lain kota, Maia sedang bergelut dengan kanvas besarnya. Ia mencoba melukis sesuatu yang baru untuk pameran mendatang, namun tangannya seolah memiliki memori sendiri. Setiap sapuan kuasnya selalu membentuk garis-garis yang familiar—siluet bahu Arlan, garis rahangnya yang tegas, atau sorot matanya yang hangat.

Ia menyadari bahwa selama ini, Arlan bukan sekadar "pria rahasia". Arlan adalah rumah tempat hatinya beristirahat setelah lelah bertarung dengan ekspektasi dunia. Kesadaran itu menghantamnya saat ia menemukan secarik kertas kecil di dalam buku sketsanya—catatan tangan Arlan yang berisi kutipan favorit mereka: "Cinta tidak butuh izin dari dunia untuk menjadi nyata."

Maia menangis tersedu-sedu di depan kanvasnya yang masih setengah jadi. Ia menyadari bahwa kesepian yang ia rasakan saat bersamanya dalam rahasia, tidak ada apa-apanya dibandingkan kehampaan total saat Arlan benar-benar pergi. Kehilangan Arlan berarti kehilangan bagian dari jiwanya yang paling jujur.

Bagian 5: Kepulangan dan Keberanian untuk Melawan

Sore itu, Jakarta kembali diguyur hujan. Polanya sama, aromanya sama, dan suasananya identik dengan hari pertama mereka bertemu di kedai "Hening". Seolah-olah alam sedang memberikan isyarat bahwa lingkaran ini tidak boleh diputus begitu saja.

Arlan tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Persetujuan keluarga atau kontrak galeri tidak lagi relevan jika ia harus kehilangan alasan untuk bahagia. Ia menyambar kunci mobilnya, tidak peduli dengan macetnya jalanan atau genangan air. Ia hanya ingin menuju satu tempat: apartemen Maia.

Namun, takdir sekali lagi bermain peran. Saat mobilnya melewati daerah tempat kedai "Hening" berdiri, ia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri di bawah kanopi kedai tersebut, tempat mereka berteduh dulu.

Itu Maia. Ia berdiri di sana tanpa payung, wajahnya menatap rintik hujan dengan tatapan yang kosong namun penuh kerinduan.

Arlan menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan, mengabaikan klakson kendaraan di belakangnya. Ia keluar dari mobil, membiarkan tubuhnya seketika basah kuyup oleh air langit. Mereka berdiri berhadapan di trotoar, dipisahkan oleh tirai hujan yang dingin.

"Aku mencoba, Maia. Aku benar-benar mencoba hidup tanpa bayang-bayangmu," ujar Arlan dengan suara yang serak. "Tapi ternyata, aku lebih takut kehilanganmu daripada takut menghadapi seluruh dunia."

Maia menoleh, matanya yang sembab seketika bersinar melihat kehadiran Arlan. "Aku juga, Arlan. Aku baru sadar bahwa rahasia kita bukan karena kita malu, tapi karena dunia ini terlalu berisik untuk cinta yang sesunyi milik kita. Aku tidak butuh dunia memvalidasi kita, aku hanya butuh kamu tetap di sampingku."

Arlan melangkah mendekat, menggenggam kedua tangan Maia dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi selamanya. "Kita tidak akan sembunyi lagi. Mulai besok, biarkan mereka bicara apa saja. Aku akan menghadapi ayahku, aku akan menghadapi galerimu. Kita akan berjalan di bawah sinar matahari, bukan lagi di balik bayangan."

Maia menghambur ke pelukan Arlan, membenamkan wajahnya di dada pria itu yang basah. Di tengah deru hujan dan bisingnya kendaraan Jakarta, mereka menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Mereka sadar bahwa rasa tidak ingin kehilangan adalah pengikat yang jauh lebih kuat daripada status atau pengakuan sosial.

Sore itu, di tempat yang sama di mana semuanya dimulai, mereka tidak lagi sekadar dua orang yang bertemu tanpa sengaja. Mereka adalah dua pejuang yang memilih untuk tetap tinggal, meski pergi terasa jauh lebih mudah. Karena pada akhirnya, rumah bukanlah sebuah alamat, melainkan seseorang yang membuatmu merasa lengkap, bahkan saat seluruh dunia mencoba memisahkan kalian.


Pesan Moral:

Cinta yang sejati seringkali diuji melalui kesunyian dan pengorbanan. Namun, keberanian untuk mempertahankan rasa di tengah badai adalah bukti bahwa kebahagiaan layak diperjuangkan, tak peduli seberapa rumit jalannya.


Penulis: [Admin Warkasa1919] Kategori: Literasi & Romansa Editor: Gemini AI

Tanya AI

Google
ChatGPT
Meta
×

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti