Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto kini menjadi pusat perhatian nasional. Namun, di balik keriuhan teknis dan anggaran, muncul sebuah fenomena sosial yang menarik: penolakan dari sebagian orang tua yang merasa "mampu". Mereka merasa sanggup membekali anak dengan makanan mewah, sehingga menganggap program ini hanya untuk keluarga prasejahtera.
Padahal, jika kita menilik lebih jauh, MBG bukan sekadar soal mengisi perut atau hitungan kalori. Ini adalah sebuah revolusi karakter dan instrumen penyetaraan sosial sejak usia dini. Mari kita bedah mengapa MBG adalah jembatan menuju Indonesia Emas 2045 dan mengapa sudut pandang "mampu atau tidak mampu" perlu segera kita geser.
1. Menghapus Sekat Kelas di Meja Makan Sekolah
Di sekolah dasar (SD), sering kali kita melihat kesenjangan nyata hanya dari kotak bekal. Anak dari keluarga kaya membawa menu restoran, sementara anak lainnya mungkin hanya membawa nasi dengan lauk seadanya. Di sinilah letak urgensi MBG.
Program ini menghadirkan prinsip kebersamaan (solidaritas). Saat semua anak duduk bersama dan menyantap menu yang sama, sekat-sekat status ekonomi orang tua mereka runtuh seketika. Tidak ada lagi si kaya dan si miskin di jam istirahat; yang ada hanyalah siswa-siswi Indonesia yang sedang bertumbuh bersama.
Pesan yang tertanam di bawah sadar anak adalah: "Di sekolah, kita semua setara." Pemahaman ini sangat mahal harganya untuk membangun empati dan kerukunan bangsa di masa depan.
2. Belajar dari Kyushoku Jepang: Makan adalah Kurikulum
Banyak orang tua yang menolak MBG lupa melihat praktik di negara maju seperti Jepang. Di sana, makan siang sekolah disebut Kyushoku. Fokusnya bukan hanya pada gizi seimbang, tetapi pada konsep Shokuiku (edukasi makanan).
Di Jepang, makan siang adalah bagian dari kurikulum. Siswa terlibat aktif dalam persiapan (bergantian membagikan makanan), belajar tanggung jawab porsi, hingga menjaga kebersihan bersama.
Finlandia juga menerapkan hal serupa sejak 1948. Hasilnya? Negara-negara ini konsisten memiliki kualitas pendidikan dan tingkat kebahagiaan tertinggi. MBG memiliki potensi menjadi "laboratorium karakter" yang serupa bagi Indonesia.
3. Mengubah Paradigma Orang Tua "Mampu"
Bagi orang tua yang merasa mampu, ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang di rumah: Interaksi Sosial yang Inklusif. Ketika anak dari keluarga mapan ikut makan bersama teman-temannya yang kurang beruntung dengan menu yang sama, ia sedang belajar tentang apresiasi. Ia belajar untuk tidak memamerkan hak istimewanya. Ini adalah pendidikan moral yang tidak bisa diajarkan lewat buku teks.
4. Nutrisi Otak dan Ekonomi Lokal
Secara medis, MBG menyasar masalah stunting. Selain itu, program ini menggerakkan ekonomi bawah dengan melibatkan petani, peternak, dan UMKM lokal sebagai pemasok bahan baku, menciptakan perputaran ekonomi yang sehat di sekitar sekolah.
FAQ: Program MBG Era Prabowo
Penutup: Meja Makan Sekolah, Wajah Masa Depan Bangsa
Pada akhirnya, program Makan Bergizi Gratis adalah ujian tentang seberapa besar kita peduli pada tenun kebangsaan. Lihatlah piring-piring itu sebagai simbol keadilan sosial. Di meja makan sekolah, mereka belajar menjadi satu: Anak Indonesia.
Mari dukung MBG sebagai investasi manusia. Karena gizi mungkin habis dicerna dalam sehari, tetapi memori tentang kebersamaan akan membekas seumur hidup.
Bagaimana menurut Anda? Apakah setuju meja makan sekolah menjadi tempat terbaik menghapus kasta sosial?
Dapatkan Inspirasi Eksklusif Lainnya📢 Bagikan artikel ini jika menurut Anda bermanfaat!
.jpg)