Pesan dari Penjaga Gunung
Rahasia di Balik Kabut Leuser, Sibuaten, dan Kerinci
Pesan dari Penjaga Gunung: Rahasia di Balik Kabut Leuser, Sibuaten, dan Kerinci
Warkasa1919.com – Alam tidak pernah benar-benar diam. Di balik rimbunnya hutan Sumatera, ada suara-suara yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki jiwa yang jernih. Sebelum bencana banjir besar melanda pemukiman di kaki-kaki gunung tertinggi Sumatera, tiga orang asing dari latar belakang berbeda menerima "pesan" yang awalnya mereka anggap sebagai igauan kabut. Inilah kisah fiksi tentang peringatan dari para penjaga puncak: Leuser, Sibuaten, dan Kerinci-Talamau.
Bisikan Hantu Rimba di Puncak Leuser
Aceh – Teuku Arya, seorang ranger hutan di Taman Nasional Gunung Leuser, terbiasa dengan keheningan. Namun, malam itu di ketinggian 3.466 mdpl, udara terasa berbeda. Angin tidak lagi berdesir; ia meratap..
Saat Arya tertidur di dalam tendanya, ia bermimpi melihat sosok pria tua dengan pakaian compang-camping namun memancarkan wibawa yang luar biasa—masyarakat lokal mengenalnya sebagai penjaga dari legenda Sutan Malin. Sosok itu berdiri di antara harimau sumatera yang tunduk lesu.
"Arya," suara itu berat seperti gemuruh tanah longsor. "Urat-urat hijau kami telah diputus oleh besi manusia. Air tak lagi memiliki rumah untuk pulang. Beritahu mereka, jika rumah kami runtuh, rumah kalian takkan bertahan."
Arya terbangun dengan keringat dingin. Di tangannya, entah bagaimana, ada sehelai daun dari pohon yang sudah langka di hutan itu, dalam kondisi kering kerontang meskipun di luar sedang hujan deras. Pesan itu jelas: Alam kehilangan pelindungnya.
Tangisan Putri di Hutan Lumut Sibuaten
Sumatera Utara – Di jalur pendakian Gunung Sibuaten yang lembap, seorang jurnalis lingkungan bernama Meisya sedang melakukan riset tentang hutan lumut. Sibuaten adalah puncak tertinggi di Sumatera Utara, tempat di mana kabut bisa menjadi begitu tebal hingga seolah-olah waktu berhenti berputar.
Sore itu, di antara pepohonan berlumut yang menyerupai tangan-tangan raksasa, Meisya melihat seorang wanita cantik dengan pakaian tradisional Karo yang menyapu tanah. Wanita itu menangis di depan sebuah mata air yang mengering.
"Kenapa kau menangis, Nande?" tanya Meisya gemetar.
Wanita itu menoleh, matanya mencerminkan hutan yang gundul. "Mereka mengambil perhiasanku—pohon-pohon raksasa itu. Sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi untuk menahan air mata bumi. Katakan pada mereka, air mataku akan segera membanjiri kesombongan mereka."
Sosok itu menghilang menjadi kabut putih. Meisya hanya menemukan sebuah batu kecil berbentuk air mata di tempat wanita itu berdiri. Pesan itu terasa dingin: Penyangga bumi telah tiada.
Raungan Cindaku di Atas Awan Kerinci
Sumatera Barat – Reno, seorang pendaki kawakan yang sedang mengejar puncak Kerinci, sedang berada di batas vegetasi menuju puncak 3.805 mdpl. Malam itu, ia mendengar suara raungan harimau yang begitu dahsyat, namun suaranya menyerupai vokal manusia.
Dalam keadaan setengah sadar, Reno melihat bayangan raksasa di balik "Pohon Bolong". Sosok itu adalah Cindaku, sang manusia harimau penjaga keseimbangan alam Sumatera.
"Kalian mendaki untuk menaklukkan puncak, tapi kalian membiarkan kaki kalian menginjak harga diri alam," geram sosok itu. "Talamau telah lelah, Kerinci telah murka. Tanah ini akan bergerak mencari tempat bersandar yang baru karena kalian telah mencabut akarnya."
Reno tersentak. Ia melihat ke arah lembah Solok Selatan yang gemerlap di kejauhan. Di matanya, lampu-lampu kota itu tiba-tiba padam dan tertutup oleh warna cokelat pekat air bah. Pesan itu sangat kuat: Akar kehidupan telah dicabut.
Pertemuan di Pengungsian
Seminggu setelah pengalaman aneh tersebut, hujan turun tanpa henti selama tiga hari tiga malam di seluruh daratan Sumatera. Bencana banjir bandang yang dahsyat melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat secara bersamaan. Tanggul jebol, hutan yang gundul tak mampu menahan laju air, dan lumpur menyapu pemukiman di kaki gunung.
Arya, Meisya, dan Reno dipertemukan oleh takdir di sebuah posko relawan besar di perbatasan wilayah. Mereka duduk melingkar di atas tikar tipis, dikelilingi oleh ribuan orang yang kehilangan rumah.
Arya memulai cerita tentang pesan dari Leuser. Meisya menyambung dengan tangisan di Sibuaten. Dan Reno menutup dengan peringatan Cindaku di Kerinci.
Mereka terdiam cukup lama. Saat mereka menyatukan potongan "oleh-oleh" gaib yang mereka dapatkan—daun kering dari Arya, batu air mata dari Meisya, dan sepotong kayu akar tua yang ditemukan Reno di tasnya—sebuah kebenaran menyakitkan terungkap.
Kesadaran yang Terlambat
"Pesannya berbeda-beda," ucap Meisya dengan suara bergetar. "Arya diberitahu tentang urat hijau yang putus. Aku diberitahu tentang air mata bumi yang meluap. Dan Reno diberitahu tentang akar yang dicabut."
"Tapi intinya sama," potong Arya sambil menatap keluar jendela ke arah gunung yang tertutup awan hitam. "Gunung-gunung itu sedang bicara bahwa mereka tidak lagi mampu melindungi kita karena kita sendiri yang menghancurkan benteng pertahanan mereka."
Mereka sadar bahwa para penjaga gunung—baik itu Sutan Malin, Putri Sibuaten, maupun Cindaku—bukanlah sosok yang ingin menakuti manusia. Mereka adalah personifikasi dari alam itu sendiri yang sudah mencapai titik nadir.
Bencana banjir ini bukan sekadar takdir, melainkan sebuah balasan dari pesan-pesan yang diabaikan selama berpuluh-puluh tahun. Penjaga gunung di Aceh, Sumut, dan Sumbar mengirimkan utusan kepada manusia yang mau mendengar, namun keserakahan seringkali lebih nyaring daripada bisikan alam.
Inspirasi di Balik Tragedi
Kisah ini berakhir bukan dengan kemenangan, melainkan dengan pembelajaran. Arya, Meisya, dan Reno akhirnya membentuk sebuah gerakan literasi alam bernama "Suara Penjaga Puncak". Mereka berkeliling ke desa-desa di bawah kaki Leuser, Sibuaten, Talamau, dan Kerinci bukan untuk mendaki, tapi untuk menanam.
Mereka menyadari bahwa menjaga gunung bukan hanya tentang tidak membuang sampah di jalur pendakian, tapi tentang menjaga setiap jengkal pohon yang berdiri di sana. Karena ketika penjaga gunung berhenti bicara dan mulai bertindak, manusia hanya bisa berserah diri pada semesta.
Satu pesan terakhir yang mereka sepakati untuk disebarkan melalui Warkasa1919.com: "Gunung tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup, namun manusialah yang membutuhkan gunung untuk tetap bernapas dan memiliki tanah untuk berpijak."
Pesan Moral untuk Pembaca
Kisah ini mengingatkan kita bahwa keberadaan gunung-gunung tinggi di Sumatera—Leuser, Sibuaten, Kerinci, dan Talamau—bukanlah sekadar objek wisata. Mereka adalah pasak bumi yang menjaga keseimbangan ekosistem. Mari kita dengarkan "pesan" mereka dengan menjaga kelestarian hutan sebelum alam benar-benar kehilangan kesabarannya..
.jpg)