Arloji Retak Hikmah Ramadhan

Arloji Retak dan Kurma Terakhir: Hikmah Ramadhan di Era Modern - Warkasa1919
| pembaca

Arloji Retak Hikmah Ramadhan - Warkasa1919

 

Arloji Retak dan Kurma Terakhir: Sebuah Perjalanan Menemukan Waktu

Di lantai 42 sebuah gedung perkantoran di Jakarta, Adam menatap layar monitornya dengan mata yang perih. Jam digital di sudut kanan bawah menunjukkan pukul 17:15. Di luar, kemacetan Jakarta tampak seperti aliran lava merah yang membeku. Bagi Adam, Ramadhan tahun ini hanyalah deretan tenggat waktu yang berkejaran dengan rasa lapar yang mulai tumpul.

"Manusia modern tidak berpuasa dari makanan, Dam," seloroh rekan kerjanya, Pandu, sambil merapikan tas. "Kita berpuasa dari ketenangan. Kita menahan lapar, tapi kita rakus pada pencapaian."

Adam hanya tersenyum tipis. Di saku jasnya, ia meraba sebuah arloji tua pemberian kakeknya yang sudah mati sejak seminggu lalu. Jarumnya terpaku pada angka enam lewat tujuh menit. Ia berniat memperbaikinya ke tukang jam tua di pinggiran kota sebelum Idul Fitri tiba.

Kilas Balik: Di Bawah Langit Madinah

Pikiran Adam melayang pada sebuah fragmen kisah yang pernah ia baca. Kita beralih ke masa empat belas abad silam, di bawah langit Madinah yang jernih.

Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat di depan Masjid Nabawi. Tak ada kebisingan mesin, hanya suara desis angin gurun. Seorang sahabat bertanya tentang amalan terbaik di bulan Ramadhan. Rasulullah tidak menjawab dengan daftar angka atau target material. Beliau justru memandang ufuk dan berbicara tentang hati yang terjaga.

Suatu ketika, di saat berbuka yang sangat sederhana—hanya beberapa butir kurma dan seteguk air—seorang badui datang dengan nafas tersenggal, membawa beban berat di pundaknya. Rasulullah, tanpa ragu, memberikan bagian kurma terakhirnya kepada pria itu. Beliau tidak menghitung kalori yang hilang atau sisa tenaga untuk shalat malam; beliau menghitung ruang di surga yang ia lapangkan untuk orang lain. Bagi Rasulullah, Ramadhan adalah tentang mengosongkan perut untuk mengisi jiwa, dan melepaskan keterikatan pada dunia untuk menggenggam tangan sesama.


Realita yang Terfragmentasi

Adam tersentak dari lamunannya oleh bunyi notifikasi email. Revisi terakhir ditunggu malam ini. Ia merasa terjepit di antara dua dunia. Dunia masa kini yang menuntutnya untuk selalu "ada" secara digital, namun membuatnya "absen" secara spiritual. Ia berbuka puasa di meja kerja dengan segelas kopi plastik dan roti instan. Rasa manisnya terasa sintetis. Di media sosial, ia melihat orang-orang berlomba mengunggah foto Iftar mewah di hotel berbintang, sebuah kontradiksi tajam dari esensi lapar yang seharusnya mengajarkan empati.

"Apakah kita sedang merayakan Ramadhan, atau sedang mengonsumsinya?" bisik Adam pada dirinya sendiri.

Perjumpaan di Toko Jam Tua

Sepulang kantor, Adam memutuskan mendatangi toko jam tua milik Pak Tua Hasan. Toko itu kecil, terjepit di antara dua ruko modern yang menjual gawai terbaru. Di sana, ratusan jam dinding berdetak dengan ritme yang berbeda-beda, menciptakan simfoni waktu yang ganjil.

"Jam ini tidak rusak, Nak," ujar Pak Hasan setelah memeriksa arloji Adam. "Ia hanya butuh dibersihkan dari debu-debu halus yang menyumbat geriginya. Seperti hati kita di bulan Ramadhan, kan?"

Adam terpaku. Pak Hasan melanjutkan sambil membersihkan kaca arloji itu dengan kain lembut. "Banyak orang datang ke sini mengeluh waktu berjalan terlalu cepat. Padahal waktu tidak berubah. Manusianya yang berlari terlalu kencang sehingga tidak sempat melihat apa yang mereka lewati."

"Lalu bagaimana cara melambat, Pak?" tanya Adam.

"Ramadhan adalah remnya, Nak. Allah memberikan kita satu bulan untuk berhenti mengejar bayangan diri sendiri. Lihatlah sekelilingmu. Di masa lalu, Rasulullah bisa merasakan kesedihan seekor unta atau kelaparan seorang janda di ujung kota karena beliau 'hadir' sepenuhnya di setiap detik."


Cahaya di Balik Peristiwa

Malam itu, dalam perjalanan pulang dengan kereta komuter, Adam memperhatikan seorang ibu yang mencoba menenangkan anaknya yang menangis karena kehausan. Tanpa berpikir panjang, Adam merogoh tasnya dan memberikan botol air mineral yang baru ia beli.

Ibu itu tersenyum tulus. "Terima kasih, Mas. Semoga berkah puasanya."

Sederhana. Namun, di dalam dada Adam, ada sesuatu yang terasa hangat. Ia teringat kembali pada kisah Rasulullah di Madinah. Hikmah Ramadhan bukanlah pada seberapa banyak ayat yang dikhatamkan jika lidah masih tajam menyakiti, atau seberapa lama sujud jika hati masih penuh dengki.

Hikmah itu ada pada "Kehadiran". Puasa mendidik manusia masa kini untuk memutus rantai ketergantungan pada materi. Ketika perut lapar, ego melemah. Saat ego melemah, barulah manusia bisa mendengar bisikan nuraninya yang selama ini tertutup riuh rendah dunia.

Filosofi Lapar dan Kekosongan

Kita seringkali takut pada kekosongan. Kita mengisi waktu luang dengan ponsel, mengisi perut dengan berlebihan saat berbuka, dan mengisi pikiran dengan kecemasan masa depan. Padahal, hanya dalam wadah yang kosonglah cahaya bisa masuk.

Ramadhan adalah proses pengosongan itu. Sebuah ritual purifikasi yang menghubungkan Adam yang berada di Jakarta tahun 2026 dengan semangat para sahabat di Madinah abad ke-7. Meskipun zaman berubah, meskipun teknologi telah menggantikan tenaga manusia, namun dahaga akan makna tetaplah sama.

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari)

Hadits itu terngiang di kepala Adam. Ia menyadari bahwa selama ini ia mungkin hanya mendapatkan lapar dan dahaga, karena pikirannya masih tertinggal di kantor dan hatinya masih tertambat pada angka-angka di rekening bank.


Penutup: Waktu yang Kembali Berdetak

Setibanya di rumah, Adam meletakkan arloji yang telah diperbaiki itu di atas meja. Detiknya kini terdengar jelas. Tik. Tok. Tik. Tok.

Ia mengambil air wudhu, merasakan dinginnya air meresap ke pori-pori kulitnya. Malam itu, ia shalat tarawih bukan karena kewajiban yang menggugurkan beban, melainkan sebagai bentuk dialog. Ia bercerita pada Sang Pemilik Waktu tentang lelahnya, tentang ambisinya, dan tentang kerinduannya pada kesederhanaan iman.

Ramadhan kali ini menjadi titik balik bagi Adam. Ia mulai belajar untuk mematikan ponselnya satu jam sebelum berbuka, memberikan ruang bagi dirinya untuk benar-benar melihat warna langit senja. Ia mulai berbagi, bukan dari kelebihannya, tapi dari apa yang ia miliki saat itu—seperti Rasulullah yang berbagi kurma terakhirnya.

Manusia masa kini mungkin hidup dalam percepatan, namun jiwa tetap membutuhkan keheningan untuk bertumbuh. Dan di bulan yang penuh berkah ini, setiap detik adalah peluang untuk pulang. Pulang ke jati diri manusia yang sejati: hamba yang lemah namun dicintai, mahluk bumi yang merindukan langit.

Dimensi Masa Rasulullah (Madinah) Masa Kini (Metropolitan)
Fokus Utama Kedekatan Spiritual & Sosial Produktivitas & Konsumsi
Tantangan Kekurangan Fisik & Keamanan Distraksi Digital & Mentalitas Instan
Esensi Berbuka Syukur atas seteguk air Estetika dan Konten Media Sosial
Makna Waktu Digunakan untuk tadabbur alam Dihabiskan untuk mengejar tenggat

Hikmah bagi pembaca Warkasa1919: Jangan biarkan Ramadhan berlalu hanya sebagai perubahan jadwal makan. Jadikan ia momentum untuk memperbaiki "arloji batin" kita yang mungkin sudah lama mati atau tersumbat debu duniawi.


QUANTUM AUDITOR V8.5
CORE: ACTIVE
INITIALIZING SEO PROTOCOLS...
AI PROMO COPIED! ⚡
NEURAL LINK ACTIVE
×
1919 COMMAND CENTER
LATENCY: ANALYZING...
NETWORK: 0
ARTICLES: 0
INITIALIZING MULTI-DOMAIN SYNC...
AI CONTEXT COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...