Memilih dan Dipilih: Elegi Cinta, Takdir & Filosofi Eksistensialisme
WARKASA
PREMIUM MEMBER AREA
Memilih dan Dipilih: Elegi Cinta, Takdir & Filosofi Eksistensialisme
"Dalam geometri cinta, jarak terpendek antara dua jiwa bukanlah garis lurus, melainkan sebuah pilihan yang merdeka."
Aris adalah seorang arsitek yang hanya membangun gedung di dalam kepalanya, menghindari realitas agar tak perlu menghadapi kehilangan. Elara adalah pelukis yang percaya bahwa setiap goresan kuas adalah tindakan anarkis untuk membunuh kemungkinan. Saat mereka bertemu di sebuah kedai kopi yang sunyi, mereka tidak hanya berbagi meja, tapi juga berbagi benturan filosofi tentang eksistensi.
Namun, cinta mereka diuji oleh ambisi dan jarak. Ketika Florence memanggil Elara untuk mengejar mimpinya, mereka dihadapkan pada paradoks terbesar dalam hidup: Apakah mencintai berarti menahan agar tetap tinggal, atau melepaskan agar ia tetap menjadi dirinya sendiri?
Melalui duka perpisahan yang mencekam di terminal bandara hingga kesunyian panjang di dua benua berbeda, Aris dan Elara belajar bahwa:
Memilih adalah keberanian untuk menjadi terbatas.
Dipilih adalah anugerah untuk merasa nyata.
Dan Melepaskan adalah bentuk tertinggi dari kesetiaan.
Sebuah narasi filosofis yang puitis tentang bagaimana dua manusia berhenti menjadi "objek" takdir dan mulai menjadi "subjek" yang menciptakan kebahagiaan mereka sendiri.
⌛ PENAWARAN TERBATAS
Rp 125.000
SUDAH PUNYA KODE AKSES?
👁️
LOGIN BERHASIL ✓
Akses premium Anda telah aktif secara otomatis di perangkat ini.
Memilih dan Dipilih
BAB 1: Geometri Kerinduan
Jakarta tidak pernah tidur, tapi ia seringkali melamun. Di sebuah kedai bernama Lini Masa, Aris menghabiskan waktu dengan menggambar sketsa bangunan yang tidak akan pernah dibangun. Baginya, arsitektur adalah cara mengurung ruang, dan ia benci pengurungan.
Hingga Elara datang. Ia masuk dengan payung basah dan mata yang menyimpan badai. Saat mereka terpaksa berbagi meja, percakapan mereka langsung meluncur ke palung terdalam.
"Kau menggambar apa?" tanya Elara.
"Kemungkinan," jawab Aris. "Garis-garis ini adalah jalan yang tidak aku ambil hari ini. Aku menggambarnya agar mereka tidak mati karena diabaikan."
Elara menatap sketsa itu lama. "Tapi Aris, Sartre pernah bilang kita 'dikutuk untuk bebas'. Setiap kali kau memilih satu garis, kau membunuh ribuan garis lainnya. Bukankah sketsamu ini adalah pemakaman massal bagi pilihan yang kau tolak?"
Di sana, di antara aroma kopi dan rintik hujan, mereka sadar bahwa mereka bukan lagi dua orang asing. Mereka adalah dua pengelana yang akhirnya menemukan cermin.
BAB 2: Dialektika Hati
Bulan-bulan berikutnya adalah tarian intelektual. Mereka jatuh cinta bukan melalui sentuhan fisik, melainkan melalui persingguhan gagasan. Di perpustakaan kota, di trotoar yang retak, mereka mendiskusikan Amor Fati milik Nietzsche.
"Jika aku mencintai takdirku," bisik Elara suatu malam, "apakah itu berarti aku tidak punya pilihan selain mencintaimu? Ataukah aku memilihmu karena takdir memaksaku?"
Aris menggenggam tangan Elara. "Mungkin cinta adalah momen di mana kehendak bebas kita setuju dengan takdir. Aku memilihmu, Elara, bukan karena aku harus, tapi karena dalam seluruh semesta yang kacau ini, hanya 'Engkau' yang membuat 'Aku' menjadi nyata."
Namun, kebahagiaan itu seperti kaca yang terlalu jernih—indah namun rapuh.
BAB 3: Duka di Garis Keberangkatan (The Falling)
Surat itu datang di pagi yang abu-abu. Beasiswa residensi seni di Florence. Mimpi Elara sejak ia pertama kali menyentuh kuas. Namun, itu berarti jarak ribuan mil dan waktu yang tak pasti.
Duka menyelimuti mereka seperti kabut. Di kedai Lini Masa, suasana berubah kaku.
"Jangan minta aku memilih, Aris," tangis Elara pecah. "Karena jika aku memilihmu dan melepaskan Florence, aku akan membencimu suatu hari nanti. Dan jika aku memilih Florence, aku akan kehilangan separuh jiwaku."
Aris merasakan dadanya sesak, sebuah duka yang lebih berat daripada semen manapun. Namun, ia teringat pada prinsip Mauvaise Foi—itikad buruk. Jika ia menahan Elara, ia menghancurkan esensi kemanusiaan wanita itu.
"Aku tidak akan memintamu memilih," kata Aris dengan suara parau. "Karena aku sudah memilih untuk melepaskanmu. Pergilah. Bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pemenuhan dirimu. Jika kau tinggal hanya karena rasa bersalah, kau bukan lagi Elara yang kucintai."
Perpisahan itu dingin. Tanpa janji muluk. Hanya punggung Elara yang menjauh di terminal keberangkatan, meninggalkan Aris dengan sketsa-sketsa yang kini terasa hampa.
BAB 4: Kesunyian yang Berbicara
Dua tahun berlalu. Aris tenggelam dalam pekerjaannya memugar bangunan tua di Jakarta. Ia membiarkan hatinya menjadi bangunan tua yang sedang diperbaiki—retak di sana-sini, namun fondasinya tetap kuat.
Di Florence, Elara berjuang dengan kanvasnya. Ia merindukan Aris seperti tanah merindukan hujan, namun ia menyadari bahwa jarak ini adalah guru filsafat yang paling jujur. Ia belajar bahwa dipilih untuk dilepaskan adalah bentuk penghormatan tertinggi dari seorang kekasih.
Ia mengirim satu surat tanpa alamat pengirim, hanya berisi satu kalimat: "Aku sedang menjadi diriku yang utuh, agar suatu saat aku layak kembali padamu bukan sebagai potongan teka-teki, tapi sebagai gambaran yang lengkap."
BAB 5: Kepulangan dan Pilihan Terakhir (The Happy Ending)
Musim kemarau di Jakarta. Aris sedang berdiri di puncak gedung bersejarah yang baru saja selesai ia pugar. Gedung itu kini memiliki ruang terbuka di tengahnya, membiarkan cahaya matahari masuk tanpa hambatan.
Sebuah suara yang sangat ia kenal memecah keheningan. "Kau masih suka membiarkan ruang terbuka, ya?"
Aris berbalik. Elara berdiri di sana. Rambutnya lebih pendek, matanya lebih cerah, dan ia membawa sebuah kanvas besar.
"Florence sudah selesai?" tanya Aris, suaranya bergetar.
"Florence memberiku teknik, tapi Jakarta memberiku jiwa," jawab Elara. Ia membalik kanvasnya. Di sana, ia melukis Aris—bukan sebagai manusia, tapi sebagai sebuah pintu yang terbuka lebar.
"Aku punya pilihan untuk menetap di Eropa," Elara melangkah mendekat. "Dan aku punya pilihan untuk berkelana lagi. Tapi kali ini, Aris, aku memilih untuk pulang. Bukan karena aku butuh tempat bernaung, tapi karena aku memilih untuk dipilih kembali olehmu."
Aris tersenyum, sebuah senyum yang menghapus duka dua tahun terakhir. Ia menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan keputusan untuk berhenti berlari dan mulai membangun.
"Aku memilihmu, Elara. Kemarin, hari ini, dan di setiap kemungkinan garis yang belum kugambar."
Di bawah langit Jakarta yang mulai meredup, mereka tidak lagi bicara tentang filsafat. Mereka hanya saling menggenggam, menyadari bahwa di antara memilih dan dipilih, ada satu ruang suci bernama ketulusan. Dan di sana, mereka akhirnya bahagia.
Cinta yang dewasa tidak akan mengurung kebebasan pasangan. Ia justru menjadi landasan pacu bagi pasangan untuk terbang setinggi mungkin. Kebahagiaan sejati akan kembali pada mereka yang berani melepaskan dengan ikhlas.
BAB 6: Arsitektur Cahaya (Epilog)
Tiga tahun setelah kepulangan Elara dari Florence, sebuah gedung tua di kawasan Kota Tua Jakarta bertransformasi. Gedung itu kini menjadi Atelier Memilih—sebuah ruang kolaborasi antara biro arsitektur Aris dan galeri seni Elara. Di sini, dinding-dindingnya tidak lagi menjadi pembatas, melainkan kanvas yang bercerita.
Suatu sore, mereka berdiri bersama di depan jendela besar yang menghadap ke arah pelabuhan.
"Kau ingat debat kita tentang Sartre di kedai itu?" Elara bertanya sambil menyandarkan kepala di bahu Aris. Di jari manisnya, sebuah cincin perak sederhana melingkar—sebuah simbol komitmen yang mereka pilih sendiri, bukan karena tuntutan tradisi.
Aris terkekeh. "Bagaimana mungkin aku lupa? Kau mencoba meyakinkanku bahwa mencintai adalah tindakan anarkis untuk membunuh kemungkinan."
"Sekarang aku menarik kata-kataku," bisik Elara. "Aku tidak membunuh kemungkinan lain saat memilihmu. Sebaliknya, memilihmu justru membuka pintu ke jutaan kemungkinan baru yang tidak akan pernah bisa kutemui sendirian. Bersamamu, pilihanku tidak menjadi terbatas; ia menjadi tak terhingga."
Aris memutar tubuh Elara, menatap matanya yang kini tenang seperti telaga. "Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya, Elara. Bukan ketiadaan konflik atau duka, tapi kesadaran bahwa kita memiliki seseorang untuk diajak berdiskusi tentang cara menambal retakan hidup."
Sebuah Pameran untuk Dunia
Malam itu, mereka mengadakan pameran bersama bertajuk "Memilih dan Dipilih". Ruangan itu penuh dengan sketsa Aris yang kini telah menjadi bangunan nyata, bersanding dengan lukisan-lukisan Elara yang lebih hidup dari sebelumnya.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah instalasi unik: sebuah pintu kayu kuno yang berdiri sendiri tanpa dinding, namun di sekelilingnya terdapat cahaya yang memancar indah. Di bawahnya, terdapat plakat kecil bertuliskan:
"Cinta bukanlah penjara yang mengunci pintu, melainkan rumah yang membiarkan pintunya selalu terbuka, karena ia tahu penghuninya akan selalu memilih untuk kembali."
Para pengunjung terdiam, meresapi kedalaman pesan itu. Ada duka yang mereka lalui—perpisahan di bandara, malam-malam sepi di Florence, dan kerinduan yang mengiris di Jakarta. Namun, duka itu hanyalah "ruang kosong" dalam arsitektur kebahagiaan mereka; tanpa ruang kosong itu, cahaya tidak akan punya tempat untuk masuk.
Bahagia dalam Ketakterhinggaan
Saat tamu-tamu mulai pulang, Aris mengambil sebuah buku sketsa baru. Di halaman pertama, ia menggambar dua garis sejajar yang akhirnya saling berpaut, membentuk sebuah simpul yang kuat namun lentur.
"Apa judul sketsa ini?" tanya Elara.
Aris tersenyum, mengecup kening istrinya dengan lembut. "Ini bukan lagi tentang kemungkinan, Elara. Ini tentang realitas. Judulnya adalah: Keputusan untuk Menetap."
Mereka sadar bahwa hidup akan selalu menawarkan persimpangan baru. Akan ada pilihan-pilihan sulit di masa depan. Namun, mereka tidak lagi takut. Karena di antara hiruk-pikuk dunia, mereka telah menemukan kebahagiaan dalam bentuk yang paling puitis: menjadi subjek yang saling memilih, dan menjadi objek yang saling dicintai.
Duka telah usai, digantikan oleh fajar yang membawa harapan tanpa batas. Di warkasa1919.com, kisah mereka kini abadi sebagai pengingat bahwa setiap pilihan yang diambil dengan cinta, tidak akan pernah berujung sia-sia.
.
Bagikan:
Diposting oleh:
Warkasa1919
Untuk segala sesuatu ada Masanya, untuk apapun di bawah Langit ada Waktunya.