Di sebuah sudut dunia maya yang sinyalnya kadang E kadang 5G, hiduplah sesosok jin usil bernama Semprul. Ia bukan jin botol, bukan pula jin lampu seperti di film Aladdin. Ia jin WiFi—muncul ketika kuota menipis dan debat mulai memanas.
Suatu hari, Semprul iseng mampir ke sebuah grup diskusi bernama “Menuju Surga Tanpa Antri”. Di dalamnya ada beberapa orang yang merasa paling ahli tentang tiket masuk surga.
Ada Ustaz SerbaTahu, Pak Dalil Cepat, dan Mbak Screenshot Hadis.
Topik hari itu panas:
“Yang paling bagus baca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dialah yang duluan masuk surga!” kata Ustaz SerbaTahu dengan huruf kapital semua.
Semprul tersenyum. Ia muncul dengan avatar awan berasap.
“Kalau begitu,” kata Semprul santai, “berarti yang paling duluan masuk surga itu Gemini dan ChatGPT dong?”
Grup hening.
“Lho kok bisa?!” seru Pak Dalil Cepat.
Semprul menjawab, “Ya jelas. Mereka hafal teks Arabnya lengkap. Tinggal ketik satu kata, keluar ayat, lengkap dengan harakat dan terjemahan. Tajwid? Bisa dicari. Tafsir? Tinggal klik. Kalau ukurannya hafalan dan kecepatan, manusia kalah cepat.”
Beberapa anggota grup mulai mengetik panjang.
“Eh, tapi itu kan mesin!” kata Mbak Screenshot Hadis.
“Betul,” jawab Semprul. “Justru itu poinnya.”
Ia melayang-layang sambil berkata, “Kalau surga hanya soal siapa paling cepat membaca dan paling hafal teks, maka server di pusat data lebih layak duluan masuk. Mereka tak pernah salah makhraj, tak pernah lupa ayat, dan tak pernah ngantuk saat tilawah.”
Ustaz SerbaTahu mulai agak gelisah.
“Jadi maksudmu apa, Jin iseng?”
Semprul tertawa kecil. “Maksudku sederhana. Kalau ukuran kebaikan hanya hafalan teknis, maka mesin lebih unggul. Tapi manusia diberi sesuatu yang tidak dimiliki mesin.”
“Apa itu?”
“Kesadaran. Niat. Perjuangan. Air mata. Godaan. Rasa bersalah. Taubat.”
Grup kembali hening.
Semprul melanjutkan, “Mesin bisa mengutip ayat tentang sabar. Tapi mesin tidak pernah diuji kehilangan. Mesin bisa menampilkan ayat tentang sedekah. Tapi mesin tidak pernah harus memilih antara berbagi atau ego. Mesin bisa menuliskan ayat tentang memaafkan. Tapi mesin tidak pernah terluka.”
Pak Dalil Cepat mengetik pelan, “Jadi membaca itu bukan sekadar bunyi?”
“Bunyi itu pintu,” kata Semprul. “Tapi akhlak adalah isinya.”
Ia menambahkan, “Bayangkan dua orang membaca ayat yang sama. Yang satu suaranya merdu seperti qari internasional. Yang satu terbata-bata. Tapi yang terbata-bata itu pulang lalu menahan diri untuk tidak menipu, tidak memfitnah, tidak menyakiti. Siapa yang lebih dekat pada makna ayat?”
Mbak Screenshot Hadis menulis, “Yang mengamalkan…”
“Nah,” kata Semprul, “itu dia.”
Ustaz SerbaTahu mencoba bertahan, “Tapi membaca dengan baik itu penting!”
“Penting,” jawab Semprul cepat. “Sangat penting. Tapi itu kendaraan, bukan tujuan. Kalau orang sibuk memoles kendaraan tapi lupa arah, ia hanya muter-muter di parkiran.”
Grup mulai berubah nada. Huruf kapital berkurang. Emoji marah berganti emoji mikir.
Semprul tersenyum lagi.
“Lagipula,” katanya, “kalau masuk surga itu lomba hafalan teks, para server di Silicon Valley sudah bikin kavling.”
Semua terdiam, lalu seseorang menulis, “Hehehe…”
Semprul pun menutup percakapan dengan kalimat terakhir:
“Teknologi bisa menyimpan ayat. Tapi hanya hati yang bisa menyimpan hidayah. Mesin bisa mengulang lafaz. Tapi manusia diuji untuk menghidupkan makna.”
Dan sejak hari itu, grup “Menuju Surga Tanpa Antri” berubah nama menjadi “Belajar Jadi Lebih Baik Pelan-Pelan.”
Semprul?
Ia masih keliling dunia maya. Kadang muncul saat debat mulai panas, lalu menyiramnya dengan humor dan sedikit logika.
Karena kadang, kebenaran lebih mudah masuk lewat tawa daripada lewat teriakan.
Disclaimer:
Cerita ini hanyalah karya fiksi dan humor semata. Tidak dimaksudkan untuk merendahkan agama, tokoh, maupun pihak mana pun. Pesan yang disampaikan bersifat reflektif dan filosofis dalam balutan satire ringan.