Kehebohan Piala Dunia 2026: Drama VAR, Bayang-bayang FBI, dan Politik yang Menyusup ke Lapangan Hijau
Oleh: Abuizz --dengan
asistensi final by AI
Dunia sepak bola sedang berada di puncak tertingginya.
FIFA World Cup 2026™ — gelaran ke-23 dalam sejarah turnamen ini — kini memasuki
babak semifinal. Prancis dan Spanyol sudah lebih dulu mengunci tiket, sementara
dua slot tersisa masih diperebutkan antara Inggris atau Norwegia, dan Argentina
atau Swiss.
Diselenggarakan bersama oleh tiga negara Amerika Utara —
Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada — edisi kali ini mencatat sejarah baru
dengan melibatkan 48 negara peserta untuk pertama kalinya, tersebar dalam 104
pertandingan di 16 kota tuan rumah.
Tapi di balik kemeriahan itu, turnamen ini juga menjadi
salah satu Piala Dunia paling penuh kontroversi dalam beberapa dekade terakhir
— mulai dari drama VAR yang berulang kali mencederai rasa keadilan, investigasi
kriminal federal yang membayangi tim juara bertahan, hingga tekanan politik
langsung dari Gedung Putih. Berikut catatan yang sudah saya susun berdasarkan
pelacakan pemberitaan terkini.
Drama Argentina–Mesir: Comeback yang Meninggalkan Luka
Insiden paling panas datang dari babak 16 besar antara
Argentina dan Mesir. Mesir unggul 2-0 hingga menit ke-79, sebelum tim juara
bertahan itu membalikkan keadaan dengan tiga gol dalam 13 menit dan menang 3-2
— salah satu comeback terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
Yang membuat publik meradang bukan hasil akhirnya,
melainkan proses menuju gol-gol itu. Gol kedua Mesir dari Mostafa Zico di menit
ke-62 — yang seharusnya membuat mereka unggul 2-0 — dianulir wasit VAR karena
dianggap ada pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martínez dalam proses
build-up. Tak lama setelah itu, permohonan penalti Mesir usai Hamdy Fathy
dijatuhkan lawan juga ditolak, sebelum Argentina mencetak gol kemenangan di
menit ke-92 lewat Enzo Fernández.
Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) secara resmi mengajukan
komplain terhadap wasit asal Prancis, François Letexier, beserta
asisten-asistennya. Pelatih kepala Mesir, Hossam Hassan, tak menyembunyikan
kemarahannya di konferensi pers: ia menuding ada faktor uang di balik
keputusan-keputusan itu dan menyebut FIFA ingin Messi tetap bertahan di
turnamen — meski ia enggan menuduh secara eksplisit ada kecurangan terencana.
Kritik juga datang dari kalangan pundit ternama. Mantan
bek Arsenal, Ian Wright, menyoroti insiden serupa yang dialami Mohamed Salah
namun tidak mendapat tinjauan VAR yang sama, sementara mantan kapten Inggris
Alan Shearer mempertanyakan konsistensi penerapan aturan. Mantan bek Liverpool
Jamie Carragher bahkan menyebut keputusan itu tak akan bertahan jika terjadi di
Liga Primer, La Liga, atau Serie A.
Kepala perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, membela
keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa VAR berhak mengintervensi meski
pelanggaran tidak terlihat "jelas" di lapangan, karena sebuah
pelanggaran tetaplah pelanggaran. Ia juga menolak tudingan bias, menyebut
tuduhan semacam itu bisa memicu ancaman terhadap wasit dan keluarganya.
Infantino sendiri menegaskan tak seorang pun — termasuk presiden FIFA — bisa
memengaruhi keputusan wasit.
Bukan Hanya Mesir: Pola Kontroversi VAR yang Meluas
Insiden Argentina–Mesir bukan kasus tunggal. Beberapa
kontroversi lain turut mewarnai fase gugur:
- Senegal
vs Belgia — Senegal unggul 2-0 sebelum tersingkir 3-2
lewat penalti kontroversial di ujung waktu tambahan. Platform analisis
wasit "Archivo VAR" menilai VAR terlalu jauh mengintervensi dan
justru pemain Belgia yang memicu kontak, bukan pemain Senegal.
- Argentina
vs Tanjung Verde — gol kemenangan Argentina di
babak 32 besar tercatat sebagai gol bunuh diri usai bola mengenai tangan
pemain Tanjung Verde. Media Lusofon turut mempertanyakan sejumlah
keputusan wasit dalam laga itu, meski tim Tanjung Verde sendiri memilih
tidak berkomentar negatif usai laga.
- Iran
vs Mesir — gol dramatis Iran di masa injury time dianulir
karena offside yang menurut liputan BBC hanya selisih ujung sepatu. Ini
murni keputusan teknis dan diakui akurat, bukan kasus keberpihakan.
Pola berulang inilah yang membuat sebagian pengamat —
termasuk media olahraga internasional — mulai mempertanyakan konsistensi
penerapan VAR di turnamen ini, meski FIFA bersikukuh setiap keputusan diambil
secara independen.
Tekanan Gedung Putih dan Desakan Parlemen Eropa
Kontroversi paling politis datang bukan dari laga
Argentina, melainkan dari pembatalan sanksi kartu merah pemain Amerika Serikat,
Folarin Balogun. Presiden Donald Trump mengakui menelepon Infantino terkait
kartu merah tersebut yang ia sebut "mengerikan", meski ia membantah
meminta hasil tertentu. FIFA kemudian membatalkan sanksi itu lewat celah aturan
yang belum pernah dipakai sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia.
UEFA menyebut keputusan itu "belum pernah terjadi,
tak masuk akal, dan sama sekali tidak bisa dibenarkan." Sekelompok anggota
Parlemen Eropa lintas partai kemudian melayangkan surat kepada 27 asosiasi
sepak bola negara Uni Eropa, mendesak FIFA membentuk penyelidikan resmi lewat
Komite Etiknya untuk mengusut kemungkinan campur tangan politik dalam keputusan
tersebut. Anggota parlemen Barry Andrews menyebut keputusan itu sebagai
"aib dan penyelewengan keadilan."
Perlu digarisbawahi: desakan investigasi ini secara
spesifik menyasar kasus Balogun–Amerika Serikat, bukan tuduhan langsung
keberpihakan FIFA kepada Argentina. Namun surat itu juga menyinggung
kekhawatiran lebih luas soal kontroversi perwasitan sepanjang turnamen dan
potensi pengaruh politik pada jalannya kompetisi — sehingga dua isu ini, meski
berbeda kasus, sama-sama menyeret nama Infantino ke pusat sorotan dalam pekan
yang sama.
Bayang-bayang FBI di Balik Kejayaan Argentina
Di luar lapangan, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA)
tengah menghadapi tekanan hukum serius. FBI dan Departemen Kehakiman Amerika
Serikat dilaporkan membuka penyelidikan atas dugaan pencucian uang, penipuan
bank, dan transaksi keuangan mencurigakan senilai lebih dari 300 juta dolar AS
yang mengalir lewat bank-bank Amerika.
Investigasi ini berpusat pada perusahaan asal Florida,
TourProdEnter LLC, yang menjadi agen komersial internasional AFA sejak 2021.
Berdasarkan laporan La Nación, perusahaan itu menerima hampir 300 juta dolar AS
antara 2022 hingga paruh pertama 2024 lewat sejumlah bank besar Amerika.
Presiden AFA, Claudio Tapia, dilaporkan telah dimintai keterangan oleh penyidik
federal — bahkan ketika ia tengah mendampingi timnas di Amerika Serikat selama
turnamen berlangsung. Sejauh ini belum ada dakwaan resmi yang diajukan, dan
penyidik masih menentukan apakah bukti cukup kuat untuk kasus pidana.
Menariknya, ini bukan masalah hukum pertama yang
membayangi kepengurusan AFA — Desember 2025 lalu, otoritas Argentina sudah
lebih dulu menggeledah kantor pusat AFA terkait dugaan pencucian uang dan
penggelapan pajak yang melibatkan firma keuangan Sur Finanzas.
Netanyahu, Milei, dan Bayang Geopolitik di Lapangan Hijau
Perhatian publik juga tersedot ke pernyataan Perdana
Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah wawancara podcast, yang
menyatakan dukungannya kepada Argentina di Piala Dunia ini. Menariknya, alasan
utamanya bukan Lionel Messi, melainkan kedekatannya dengan Presiden Argentina
Javier Milei, yang ia sebut "sahabat besar Israel."
Pernyataan itu murni mencerminkan kedekatan diplomatik
Milei-Netanyahu yang memang sudah lama terjalin — Milei dikenal sebagai salah
satu pemimpin dunia paling vokal mendukung Israel, termasuk rencana memindahkan
kedutaan besar Argentina ke Yerusalem. Penting dicatat: pernyataan Netanyahu
ini tidak memiliki kaitan yang terverifikasi dengan keputusan-keputusan wasit
di lapangan — ini adalah dua isu terpisah yang kebetulan mencuat di waktu yang
berdekatan.
Soal Palestina dan Tudingan yang Belum Terbukti
Salah satu narasi yang beredar luas di media sosial
mengaitkan sikap pelatih Mesir Hossam Hassan yang sebelumnya menyuarakan
dukungan pada perjuangan kemanusiaan Palestina, dengan perlakuan wasit yang
dianggap merugikan timnya. Ini penting untuk didudukkan secara jujur: ketika
ditanya wartawan apakah pernyataannya soal Palestina berkaitan dengan hasil
pertandingan, Hassan justru menghindar dan menegaskan itu murni isu
kemanusiaan, tanpa mengonfirmasi adanya kaitan sebab-akibat.
Dengan kata lain, teori ini masih sebatas spekulasi yang
beredar di media sosial dan sejumlah media tabloid, belum menjadi fakta yang
terverifikasi. Collina sendiri secara tegas menyebut tuduhan-tuduhan bias
semacam ini sebagai "tidak berdasar." Menyandingkan spekulasi ini
sebagai fakta tanpa bukti kuat berisiko menyeret isu jauh lebih besar — konflik
Timur Tengah — ke ranah olahraga secara tidak bertanggung jawab.
Yang Justru Lebih Nyata: Perlakuan terhadap Negara-negara Afrika
Jika kita mencari bukti konkret soal ketidakadilan
struktural terhadap negara-negara Afrika di turnamen ini, jawabannya justru ada
di ranah kebijakan imigrasi Amerika Serikat, bukan di keputusan wasit.
Pemerintahan Trump memberlakukan larangan masuk bagi
warga dari puluhan negara, termasuk peserta Piala Dunia seperti Haiti, Iran,
Pantai Gading, dan Senegal — memaksa sebagian besar suporter dari negara-negara
ini gagal mendapat visa ke Amerika Serikat. Selain itu, ada pula program
jaminan visa yang mewajibkan suporter dari lima negara Afrika — Aljazair,
Tanjung Verde, Pantai Gading, Senegal, dan Tunisia — membayar deposit hingga
15.000 dolar AS untuk bisa masuk Amerika Serikat, meski kebijakan ini sempat dilonggarkan
sementara bagi pemegang tiket resmi.
Yang lebih mencolok lagi: wasit asal Somalia, Omar Artan,
yang sudah lebih dulu ditunjuk FIFA untuk memimpin laga, justru ditolak masuk
ke Amerika Serikat meski membawa dokumen perjalanan lengkap — dengan alasan
"kekhawatiran pemeriksaan latar belakang" dan dugaan keterkaitan
dengan kelompok teroris, tudingan yang ia bantah keras. FIFA kemudian
mencoretnya dari daftar wasit turnamen, meski tetap membayar penuh gajinya.
Inilah bentuk ketidakadilan yang benar-benar
terdokumentasi dan berdampak langsung pada partisipasi negara-negara Afrika di
turnamen ini — jauh lebih substantif ketimbang tudingan konspirasi perwasitan
yang masih berupa spekulasi.
Menimbang Semuanya
Piala Dunia 2026 memang sarat drama — dan tak semuanya
rekaan. Investigasi FBI terhadap AFA itu nyata, meski nilainya jutaan bukan
miliaran dolar. Desakan Parlemen Eropa terhadap Infantino itu nyata, meski
sasarannya kasus Balogun, bukan langsung soal Argentina. Kontroversi VAR di
laga Argentina–Mesir, Senegal–Belgia, dan Argentina–Tanjung Verde itu nyata dan
didokumentasikan pundit-pundit ternama dunia. Kebijakan visa yang menyulitkan
suporter dan bahkan wasit dari negara-negara Afrika itu juga nyata.
Tapi ada juga narasi yang melampaui bukti yang ada —
tudingan konspirasi terorganisir yang menyeret isu Zionisme, atau kaitan
sebab-akibat antara sikap politik pelatih Mesir dengan keputusan wasit. Sepak
bola memang tak pernah lepas dari politik dan uang — sejarah panjang skandal
2015 yang meruntuhkan hampir seluruh jajaran eksekutif FIFA menjadi pengingat
bahwa kecurigaan publik terhadap lembaga ini tidak lahir dari ruang hampa. Tapi
justru karena bebannya sebesar itu, tudingan-tudingan baru yang belum terbukti
perlu disikapi dengan kehati-hatian yang sama besarnya — supaya kritik yang sah
terhadap FIFA tidak justru kehilangan kredibilitas karena bercampur dengan
spekulasi yang belum teruji.
Catatan editorial: Sejumlah nama dan data dalam artikel
ini merujuk pada pemberitaan yang berkembang hingga 10-11 Juli 2026, saat
turnamen masih berlangsung menuju babak semifinal. Beberapa fakta — terutama
hasil investigasi FBI dan keputusan Komite Etik FIFA — masih dapat berkembang
seiring waktu.