Negeri Pencitraan: Satire Politik

Menghitung... | 0 pembaca
Negeri Pencitraan: Satire Politik tentang Citra, Korupsi, dan Ketulusan Ilustrasi Negeri Pencitraan | Warkasa1919


Negeri Pencitraan: Negeri di Mana Kebaikan Harus Difoto Dulu Sebelum Dilakukan

Di sebuah negeri yang konon sangat menjunjung tinggi moral, terdapat sebuah kebiasaan yang sudah dianggap lebih penting daripada moral itu sendiri.

Pencitraan.

Di Negeri Pencitraan, orang tidak lagi bertanya apakah seseorang benar-benar baik.

Pertanyaannya jauh lebih sederhana:

“Ada fotonya?”

Kalau ada foto, berarti baik.

Kalau ada video, berarti peduli.

Kalau videonya viral, berarti sangat peduli.

Kalau masuk televisi, berarti pedulinya sudah berskala nasional.

Dan kalau sampai mendapat penghargaan?

Wah, berarti kebaikannya sudah naik kelas menjadi proyek strategis nasional.

Begitulah kehidupan di negeri yang memasuki era Reformasi dengan semangat perubahan, tetapi kemudian menemukan kenyataan bahwa yang paling cepat berubah justru cara orang menjual citra dirinya.

Dulu orang malu kalau ketahuan berbuat buruk.

Sekarang?

Orang hanya malu kalau keburukannya tidak berhasil ditutupi.

Semua Orang Ingin Terlihat Suci

Di Negeri Pencitraan, para pejabat sangat memahami satu hukum alam:

Kinerja bisa diperdebatkan, tetapi foto bisa diedit.

Maka setiap pejabat memiliki tim dokumentasi.

Ada fotografer.

Ada videografer.

Ada admin media sosial.

Ada penulis caption.

Bahkan ada petugas khusus yang bertugas memberi tahu kapan pejabat harus tersenyum.

Suatu hari seorang pejabat bernama Bapak Citra Abadi hendak mengunjungi sebuah desa yang terkena banjir.

Sebelum berangkat, ia bertanya kepada ajudannya,

“Bagaimana kondisi di sana?”

“Parah, Pak. Air setinggi pinggang.”

“Bagus.”

Ajudannya terkejut.

“Bagus bagaimana, Pak?”

“Bagus untuk foto.”

“Bukankah kita harus membantu warga?”

“Tentu.”

“Lalu kenapa Bapak bilang bagus?”

“Karena kalau airnya cuma setinggi mata kaki, saya kelihatan seperti sedang jalan-jalan.”

Ajudan mengangguk pelan.

Dalam hati ia berpikir, barangkali inilah demokrasi visual.

Sesampainya di lokasi, Bapak Citra Abadi mengenakan sepatu bot.

Ia turun dari mobil.

Kamera menyala.

“Pak, tolong pegang ember.”

“Begini?”

“Kurang prihatin, Pak.”

“Bagaimana yang lebih prihatin?”

“Wajahnya seperti baru kehilangan APBN.”

Bapak Citra Abadi mencoba.

Kamera memotret.

Klik.

“Bagus!”

Kemudian seorang warga datang.

“Pak, rumah saya hanyut.”

Pejabat itu langsung memasang wajah serius.

“Tenang, Pak. Pemerintah hadir.”

“Bantuan saya kapan?”

“Segera.”

“Kapan, Pak?”

“Setelah fotonya selesai diedit.”

Di Negeri Ini, Semua Harus Viral

Masyarakat pun tidak mau kalah.

Jika pejabat punya tim media sosial, rakyat punya algoritma.

Seorang pemuda bernama Influencer Fulus terkenal karena konten sedekah.

Ia pernah memberikan uang kepada seorang tukang becak.

“Pak, ini untuk Bapak.”

Tukang becak menerima.

“Terima kasih, Nak.”

Fulus kemudian menatap kameranya.

“Teman-teman, jangan lupa bersyukur. Berbagi itu indah.”

Tukang becak tiba-tiba berkata,

“Kalau boleh tahu, Nak…”

“Apa, Pak?”

“Uang yang kamu kasih tadi benar-benar uang kamu?”

Fulus diam.

“Kenapa?”

“Soalnya saya lihat tadi kamu ambil dari dompet sponsor.”

Fulus menatap kameramen.

Kameramen menatap Fulus.

Keduanya sepakat bahwa bagian itu akan masuk kategori:

“Tidak sesuai dengan narasi.”

Video pun diedit.

Musik piano ditambahkan.

Warna dibuat agak kekuningan.

Kemudian muncul tulisan:

“Sekecil apa pun kebaikan kita, akan berarti bagi mereka.”

Video itu viral.

Tukang becak mendapat 200 ribu.

Fulus mendapat 2 juta pengikut baru.

Sponsor mendapat exposure.

Platform mendapat trafik.

Dan penonton mendapat pelajaran:

Ternyata kebaikan bisa menghasilkan keuntungan dari semua arah.

Yang tidak mendapatkan apa-apa hanyalah ketulusan.

Ia bahkan tidak tercantum dalam credit title.

Jin Semprul Mulai Pusing

Melihat keadaan tersebut, turunlah seorang jin bernama Jin Semprul.

Ia bukan jin yang biasa keluar dari lampu ajaib.

Ia keluar dari sebuah berita konferensi pers.

Konon, ia sudah tinggal di Negeri Pencitraan selama ratusan tahun.

Namun baru kali ini ia merasa ingin pensiun.

“Kenapa, Jin?” tanya seorang warga.

“Saya capek.”

“Capek mengabulkan permintaan?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Capek membedakan mana orang baik dan mana orang yang cuma punya fotografer.”

Warga tertawa.

Jin Semprul lalu membuka sebuah buku besar.

Di sampulnya tertulis:

DAFTAR ORANG TULUS

Halaman pertama kosong.

Halaman kedua kosong.

Halaman ketiga kosong.

Seorang warga bertanya,

“Jin, kenapa kosong?”

“Belum ada yang mendaftar.”

“Bukankah banyak orang baik?”

“Banyak.”

“Lalu kenapa tidak ditulis?”

“Setiap saya hendak menulis nama seseorang, ternyata dia meminta saya men-tag akun media sosialnya.”

Jin Semprul menghela napas.

“Ketulusan zaman sekarang ternyata punya username.”

Musim Kebakaran, Musim Pencitraan

Kemudian datang musim kemarau.

Hutan dan lahan terbakar.

Asap memenuhi udara.

Warga memakai masker.

Anak-anak batuk.

Sekolah diliburkan.

Petugas pemadam kebakaran bekerja tanpa henti.

Mereka berjibaku melawan api.

Panas.

Lelah.

Haus.

Baju penuh lumpur.

Tetapi mereka terus bekerja.

Tanpa konferensi pers.

Tanpa spanduk.

Tanpa konten.

Sebab mereka memang ingin api padam.

Kemudian rombongan pejabat datang.

Puluhan mobil.

Pengawal.

Kamera.

Drone.

Tim media sosial.

Bapak Citra Abadi turun dari kendaraan.

“Mana apinya?”

“Di sana, Pak.”

“Bisa didekati?”

“Bisa, tapi berbahaya.”

“Bagus.”

Ajudannya mulai curiga.

“Pak, jangan-jangan…”

“Tenang. Saya tidak akan terlalu dekat.”

Pejabat itu berdiri sekitar lima puluh meter dari titik api.

Kamera menyala.

Ia mengambil selang.

“Semprot!”

Petugas menyemprotkan air.

Sssshhhhh!

Foto diambil.

“Bagus?”

“Bagus sekali, Pak.”

“Sudah?”

“Sudah.”

“Kalau begitu kita kembali.”

Petugas pemadam berteriak,

“Pak! Apinya masih menyala!”

Pejabat itu menjawab,

“Yang penting publik sudah melihat saya berusaha.”

Jin Semprul yang berada di atas pohon langsung tertawa.

“Luar biasa!”

Seorang petugas bertanya,

“Luar biasa apanya?”

“Biasanya orang memadamkan api.”

Jin menunjuk pejabat tadi.

“Dia memadamkan isu.”

Korupsi Tidak Mengenal Jabatan

Masalah Negeri Pencitraan sebenarnya bukan cuma pencitraan.

Ada penyakit lain yang lebih tua:

korupsi.

Dan penyakit itu sudah menyebar dari bawah sampai atas.

Di tingkat RT, uang kas bisa menghilang.

Di tingkat desa, proyek bisa membengkak.

Di tingkat daerah, anggaran bisa beranak-pinak.

Di tingkat pusat, angka bisa begitu besar sampai rakyat biasa bahkan tidak tahu berapa jumlah nolnya.

Seorang warga pernah bertanya kepada Jin Semprul,

“Jin, kenapa korupsi sulit diberantas?”

Jin menjawab,

“Karena banyak orang ingin memberantas korupsi.”

“Bagus dong.”

“Masalahnya…”

Jin tersenyum.

“Mereka ingin memberantas korupsi orang lain.”

Warga terdiam.

“Kalau korupsi sendiri?”

“Itu bukan korupsi.”

“Lalu apa?”

“Kesempatan.”

Jin Semprul mengangguk bijaksana.

“Di negeri ini, maling disebut koruptor kalau ketahuan. Kalau tidak ketahuan, disebut pengusaha sukses.”

Negara Penuh Spanduk Kejujuran

Pemerintah Negeri Pencitraan kemudian membuat program baru.

Namanya:

GERAKAN NASIONAL KEJUJURAN

Spanduk dipasang di mana-mana.

JUJUR ADALAH HEBAT.

KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI.

BERSIH ITU INDAH.

Anggarannya mencapai miliaran.

Jin Semprul membaca laporan proyek itu.

Ia menggaruk kepala.

“Ini spanduknya berapa?”

“Seratus ribu per lembar.”

“Cetaknya berapa?”

“Lima puluh ribu.”

“Lalu sisanya?”

“Biaya pendukung kejujuran.”

Jin menghela napas.

“Hebat.”

“Apa yang hebat?”

“Baru saja saya menemukan bukti bahwa kejujuran pun bisa dikorupsi.”

Sejak saat itu, Jin Semprul mempunyai teori baru:

Di Negeri Pencitraan, korupsi tidak takut pada slogan antikorupsi.

Sebab slogan tidak pernah menangkap siapa pun.

Ketika Kamera Mati

Namun suatu malam, terjadi sesuatu yang berbeda.

Hujan deras mengguyur sebuah desa.

Banjir datang.

Air naik dengan cepat.

Listrik padam.

Jaringan internet mati.

Tidak ada sinyal.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada media sosial.

Dalam gelap, seorang pemuda bernama Raka mengambil perahu kecil.

Ia menyelamatkan seorang nenek.

Kemudian seorang ibu.

Kemudian tiga anak.

Kemudian kembali lagi.

Lalu kembali lagi.

Semalaman ia bekerja.

Pagi hari, seorang wartawan akhirnya tiba.

“Siapa yang menolong warga?”

Seorang ibu menunjuk Raka.

“Dia.”

Wartawan mendekat.

“Mas, boleh diwawancarai?”

Raka menggeleng.

“Tidak usah.”

“Kenapa?”

“Saya cuma membantu.”

“Ini bisa membuat Mas terkenal.”

Raka tersenyum.

“Saya membantu supaya mereka selamat, bukan supaya saya terkenal.”

Jin Semprul yang berdiri di belakang wartawan mendadak membuka Buku Besar Ketulusan.

Ia menulis:

Raka.

Kemudian ia menangis.

Seorang warga bertanya,

“Jin, kenapa menangis?”

“Karena saya baru menemukan satu orang yang berbuat baik tanpa meminta imbalan.”

“Bukankah banyak?”

“Entahlah.”

Jin menutup buku.

“Mungkin mereka ada. Hanya saja mereka tidak memiliki divisi humas.”

Negeri Itu Akhirnya Malu

Kisah Raka menyebar.

Ironisnya, kebaikan yang tidak ingin viral justru menjadi viral.

Orang-orang mulai bertanya:

“Apakah kita selama ini benar-benar berbuat baik?”

Pertanyaan itu terasa menyakitkan.

Sebab banyak orang akhirnya sadar bahwa mereka tidak sedang berbuat baik.

Mereka sedang berinvestasi pada citra diri.

Pejabat ingin terlihat bekerja agar tidak kehilangan jabatan.

Politisi ingin terlihat peduli agar tidak kehilangan suara.

Influencer ingin terlihat dermawan agar tidak kehilangan followers.

Pengusaha ingin terlihat sosial agar produknya laku.

Masyarakat ingin terlihat sukses agar dianggap berhasil.

Semua orang sibuk mempercantik etalase.

Tidak banyak yang memeriksa gudangnya.

Jin Semprul kemudian berdiri di tengah alun-alun.

Ia berkata:

“Wahai penduduk Negeri Pencitraan!”

Ribuan orang berkumpul.

“Jangan takut terlihat biasa.”

Mereka diam.

“Jangan takut tidak dipuji.”

Diam.

“Jangan takut tidak viral.”

Lebih diam lagi.

“Dan jangan takut berbuat baik tanpa kamera.”

Seorang influencer berteriak,

“Jin, kalau begitu bagaimana dengan engagement?”

Jin menjawab,

“Engagement dengan manusia lebih penting daripada engagement dengan algoritma.”

Orang-orang tertawa.

Kemudian Jin melanjutkan:

“Negeri ini tidak akan hancur karena kekurangan orang pintar.”

Ia menunjuk para pejabat.

“Tidak pula karena kekurangan orang kaya.”

Ia menunjuk para pengusaha.

“Bahkan bukan karena kekurangan orang terkenal.”

Ia menunjuk para influencer.

“Negeri ini akan hancur kalau orang-orang baik memilih diam, sementara orang-orang yang pandai berpura-pura terus mendapatkan panggung.”

Alun-alun mendadak sunyi.

Karena yang Kita Butuhkan Bukan Citra

Hari-hari berikutnya, perubahan kecil mulai terjadi.

Seorang ketua RT mengumumkan seluruh penggunaan uang kas secara terbuka.

Seorang pejabat mengembalikan fasilitas yang bukan haknya.

Seorang pengusaha membayar pajak dengan benar.

Seorang influencer mulai membuat konten yang tidak selalu menampilkan dirinya.

Seorang warga menemukan dompet dan mengembalikannya.

Tidak ada kamera.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada sponsor.

Tetapi mereka melakukannya.

Mungkin perubahan memang tidak selalu spektakuler.

Kadang perubahan hanya berupa seseorang yang memutuskan:

“Saya tidak akan ikut curang meskipun semua orang melakukannya.”

Kadang perubahan hanya berupa pejabat yang berkata:

“Saya tidak perlu dipuji untuk menjalankan tugas.”

Kadang perubahan hanya berupa orang biasa yang menolong tetangganya tanpa mengeluarkan telepon genggam.

Dan mungkin itulah revolusi yang sebenarnya.

Bukan pergantian slogan.

Bukan pergantian spanduk.

Bukan pergantian pejabat semata.

Tetapi pergantian cara berpikir.

Sebab sebuah negeri tidak akan menjadi bersih hanya karena memasang ribuan spanduk bertuliskan “Bersih”.

Negeri menjadi bersih ketika orang-orangnya berhenti mencari kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Negeri tidak menjadi jujur hanya karena pejabatnya berpidato tentang integritas.

Negeri menjadi jujur ketika seseorang tetap mengatakan kebenaran meskipun kebohongan lebih menguntungkan.

Dan kebaikan tidak menjadi mulia karena mendapatkan jutaan likes.

Kebaikan menjadi mulia karena tetap dilakukan ketika tidak ada satu pun manusia yang memberikan like.

Jin Semprul menutup Buku Besar Ketulusan.

Kini jumlah namanya memang belum banyak.

Namun ia tidak lagi sedih.

Sebab ia tahu:

Ketulusan mungkin langka, tetapi selama masih ada yang menjaganya, harapan belum mati.

Sebelum menghilang, Jin Semprul sempat menoleh.

“Eh, tunggu!”

Semua orang melihatnya.

“Ada satu pesan terakhir.”

“Apa, Jin?”

Jin menunjuk kamera yang sedang merekam.

“Matikan!”

Kameramen bingung.

“Kenapa?”

“Karena untuk kali ini…”

Jin tersenyum.

“Biarkan kebaikan menjadi rahasia.”

Kamera pun dimatikan.

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Negeri Pencitraan, sebuah kebaikan terjadi tanpa dokumentasi.

Tidak ada foto.

Tidak ada video.

Tidak ada caption.

Tidak ada hashtag.

Tidak ada sponsor.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya ada manusia yang menolong manusia.

Dan mungkin…

itulah bentuk kebaikan yang paling revolusioner di sebuah negeri yang terlalu lama sibuk terlihat baik.


Disclaimer

Disclaimer: Negeri Pencitraan adalah karya fiksi, satire, dan humor sosial. Seluruh nama tokoh, karakter, dialog, lembaga, kejadian, serta latar dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi. Cerita ini tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap individu, pejabat, partai politik, lembaga negara, organisasi, daerah, maupun kelompok masyarakat tertentu. Kritik mengenai pencitraan, korupsi, politik, media sosial, dan perilaku sosial dalam cerita merupakan satire untuk hiburan sekaligus refleksi. Jika terdapat kemiripan dengan tokoh, peristiwa, atau kondisi nyata, hal tersebut merupakan kebetulan atau bagian dari kebebasan kreatif dalam karya fiksi. Pembaca diharapkan menikmati cerita ini sebagai satire dan bahan renungan, bukan sebagai laporan fakta atau tuduhan faktual.


Posting Komentar
TOP 9 POPULAR POSTS
CORE: ACTIVE
Memuat 9 artikel terpopuler...
AI PROMO COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...