Negeri yang Membakar Masa Depannya

Menghitung... | 0 pembaca
Negeri yang Membakar Masa Depannya: Kisah Fiksi tentang Kebencian dan Demokrasi Ilustrasi dramatis sebuah negeri setelah bencana dalam cerita fiksiNegeri yang Membakar Masa Depannya | Warkasa1919

 

Negeri yang Membakar Masa Depannya

Di sebuah negeri yang dikelilingi laut, gunung, dan hutan yang dahulu hijau, orang-orang pernah percaya bahwa perbedaan pilihan politik adalah hal biasa.

Mereka berbeda saat berada di bilik suara.

Sebagian memilih calon presiden bernama Arwana.

Sebagian memilih calon presiden bernama Raksa.

Sebagian lagi memilih untuk tidak memilih siapa pun.

Setelah pemungutan suara selesai, hasilnya diumumkan.

Arwana menang.

Raksa kalah.

Seharusnya cerita berhenti di sana.

Tetapi justru sejak hari itulah, luka terbesar negeri tersebut mulai terbuka.

Bukan karena perang.

Bukan karena penjajahan.

Melainkan karena sebagian manusia tidak mampu menerima kenyataan bahwa pilihannya kalah.

Mereka tidak sekadar kecewa.

Kekecewaan berubah menjadi kebencian.

Kebencian berubah menjadi dogma.

Dan dogma, ketika dipelihara terlalu lama, mampu mengubah manusia menjadi sesuatu yang bahkan tidak lagi mengenali dirinya sendiri.


Ketika Kekalahan Menjadi Agama

Pada awalnya, para pendukung Raksa hanya melakukan demonstrasi.

Mereka membawa poster.

Mereka meneriakkan slogan.

Mereka menuduh pemilu curang.

Pemerintah mencoba mendengarkan.

Pengadilan memeriksa berbagai laporan.

Lembaga negara bekerja sesuai mekanisme yang tersedia.

Tetapi keputusan tetap sama.

Arwana adalah presiden yang sah.

Sebagian pendukung Raksa kemudian pulang.

Namun sebagian lainnya justru semakin tenggelam dalam keyakinan.

Bagi mereka, kekalahan Raksa bukan lagi persoalan politik.

Itu telah berubah menjadi identitas.

"Jika Raksa kalah, negeri ini tidak pantas maju."

Kalimat itu berulang dari mulut ke mulut.

Lalu berubah menjadi slogan.

Kemudian menjadi doktrin.

Dan akhirnya menjadi racun yang perlahan memasuki pikiran.

Mereka mulai membenci segala sesuatu yang dilakukan pemerintahan Arwana.

Jika pemerintah membangun jalan, mereka mengatakan jalan itu gagal.

Jika pemerintah memperbaiki sekolah, mereka mengatakan sekolah itu propaganda.

Jika ekonomi tumbuh, mereka mengatakan statistik telah dimanipulasi.

Jika harga turun, mereka mengatakan pemerintah sedang membeli dukungan rakyat.

Tidak ada yang benar.

Sebab bagi mereka, kebenaran bukan lagi sesuatu yang harus dicari.

Kebenaran hanyalah sesuatu yang harus sesuai dengan keyakinan.

Dan ketika fakta bertentangan dengan keyakinan, maka fakta harus dihancurkan.


Program Makan Anak yang Berubah Menjadi Senjata

Beberapa tahun kemudian, pemerintahan Arwana meluncurkan sebuah program besar.

Namanya Program Makan Anak Negeri, atau PMAN.

Tujuannya sederhana.

Setiap anak sekolah, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, mendapatkan makanan bergizi setiap hari.

Dapur-dapur umum dibangun.

Petani mendapatkan pasar baru.

Peternak memasok telur dan susu.

Nelayan memperoleh kontrak baru.

Usaha kecil mendapatkan pekerjaan.

Banyak keluarga miskin merasa terbantu.

Tetapi kelompok yang telah terjebak dalam dogma melihat program itu sebagai kesempatan.

Bagi mereka, keberhasilan PMAN adalah ancaman.

Maka muncul rencana keji.

Beberapa orang menyusup ke rantai distribusi makanan.

Mereka merusak standar kebersihan.

Mencemari sebagian bahan makanan.

Memanipulasi informasi.

Tujuannya bukan sekadar mencelakai anak-anak.

Tujuan mereka jauh lebih mengerikan.

Mereka ingin masyarakat takut.

Mereka ingin orang tua berkata:

"Program pemerintah membahayakan anak kita."

Mereka berharap masyarakat menolak program tersebut.

Dan ketika beberapa anak jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan yang telah sengaja dirusak, negeri itu gempar.

Para orang tua menangis.

Guru-guru panik.

Rumah sakit penuh.

Televisi menampilkan wajah ibu yang memeluk anaknya di ruang perawatan.

Seorang ibu bernama Laras bahkan kehilangan putranya.

Namanya Bima.

Usianya baru sembilan tahun.

Bima adalah anak yang selalu membawa buku gambar ke sekolah.

Ia bercita-cita menjadi arsitek.

Di halaman terakhir buku gambarnya, terdapat sebuah gambar rumah besar dengan banyak jendela.

Di bawah gambar itu tertulis dengan tulisan tangan yang belum sempurna:

"Rumah untuk semua orang."

Laras menemukan gambar itu setelah anaknya pergi.

Ia menangis sepanjang malam.

Bukan karena politik.

Bukan karena Arwana.

Bukan karena Raksa.

Ia hanya seorang ibu yang ingin anaknya pulang.

Dan malam itu, Laras akhirnya memahami sesuatu yang sangat sederhana.

Politik boleh membuat manusia berbeda.

Tetapi anak-anak seharusnya tidak pernah menjadi korban perbedaan itu.


Negeri yang Mulai Membakar Hutan

Ketika sabotase makanan tidak cukup mengguncang pemerintahan, mereka mencari cara lain.

Hutan dibakar.

Lahan gambut dibakar.

Api menyebar dari satu wilayah ke wilayah lain.

Asap menutup langit.

Sekolah diliburkan.

Orang-orang memakai masker.

Anak-anak batuk.

Petani kehilangan kebun.

Hewan-hewan melarikan diri dari habitatnya.

Pemerintah mengirim pasukan pemadam kebakaran dan petugas kehutanan.

Tetapi api terus muncul.

Di sebuah desa, seorang lelaki tua bernama Darma berdiri di depan hutan yang terbakar.

Ia pernah menjadi penjaga hutan selama tiga puluh tahun.

Ia tahu hutan bukan sekadar kumpulan pohon.

Hutan adalah air.

Hutan adalah udara.

Hutan adalah rumah bagi burung, rusa, serangga, dan jutaan makhluk kecil yang tidak pernah mengenal politik.

Darma menangis ketika melihat pohon-pohon tumbang.

"Kenapa kalian membakar rumah sendiri?" katanya lirih.

Tidak ada jawaban.

Sebab orang-orang yang membakar hutan tidak sedang memikirkan masa depan.

Mereka hanya memikirkan satu hal:

Bagaimana membuat pemerintahan yang mereka benci terlihat gagal.

Bagi mereka, jika negeri itu menderita, mereka merasa menang.

Mereka lupa bahwa ketika sebuah kapal tenggelam, penumpangnya ikut tenggelam.


Ketika Kebencian Mengalahkan Akal Sehat

Tahun-tahun berlalu.

Negeri itu semakin terbelah.

Teman berhenti berbicara dengan teman.

Saudara memutus hubungan dengan saudara.

Ayah dan anak bertengkar karena pilihan politik.

Di internet, orang-orang saling menghina.

Mereka tidak lagi membaca untuk memahami.

Mereka membaca untuk mencari alasan membenci.

Kabar bohong lebih cepat dipercaya daripada fakta.

Fitnah lebih cepat menyebar daripada klarifikasi.

Dan yang paling menyedihkan, sebagian orang mulai merasa bangga ketika negeri mereka mengalami kesulitan.

"Biarkan negara ini hancur," kata mereka.

"Kalau calon kita tidak menang, tidak ada gunanya negeri ini maju."

Kalimat itu terdengar seperti lelucon.

Namun ketika diucapkan oleh ribuan orang, ia berubah menjadi ancaman.

Sebab sebuah bangsa tidak selalu hancur karena musuh dari luar.

Kadang-kadang bangsa hancur ketika rakyatnya berhenti merasa memiliki tanah air yang sama.


Malam Ketika Gunung Itu Terbangun

Kemudian datanglah malam yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.

Anak Krakatau mulai bergemuruh.

Awalnya hanya suara kecil.

Kemudian gempa.

Kemudian dentuman.

Langit di atas laut berubah merah.

Orang-orang berlari keluar rumah.

Sirene meraung.

Burung-burung beterbangan.

Laut berubah gelap.

Gunung itu memuntahkan abu.

Lalu batu.

Kemudian api.

Dalam hitungan jam, bencana berubah menjadi sesuatu yang tidak mampu dihentikan manusia.

Gelombang besar menerjang pesisir.

Kota-kota kehilangan listrik.

Jembatan runtuh.

Pelabuhan hancur.

Rumah-rumah tersapu.

Jaringan komunikasi terputus.

Negeri itu tidak lagi mengenal kubu Arwana.

Tidak mengenal kubu Raksa.

Tidak mengenal pendukung pemerintah atau oposisi.

Yang ada hanya manusia.

Manusia yang berusaha menyelamatkan manusia lain.

Namun bencana terlalu besar.

Ketika matahari muncul beberapa hari kemudian, negeri itu telah berubah.

Empat puluh persen penduduknya telah hilang.

Angka itu kemudian dikenal sebagai Empat Puluh Persen yang Pergi.

Tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apakah angka itu menggambarkan jumlah manusia yang meninggal, hilang, atau tidak pernah ditemukan.

Di antara reruntuhan, Laras masih berjalan.

Ia membawa buku gambar Bima.

Buku kecil itu adalah satu-satunya benda yang tersisa dari anaknya.


Setelah Semua Dogma Diam

Bertahun-tahun kemudian, negeri itu mulai dibangun kembali.

Anehnya, sesuatu berubah.

Orang-orang yang tersisa tidak lagi terlalu sibuk bertanya:

"Siapa yang menang?"

Mereka mulai bertanya:

"Bagaimana kita bisa hidup?"

Mereka membangun sekolah.

Mereka memperbaiki rumah sakit.

Mereka menanam kembali hutan.

Mereka membuat sistem pangan yang lebih aman.

Mereka memperbaiki pengawasan pemerintah.

Mereka belajar bahwa program yang baik harus dikritik dengan data, bukan dihancurkan dengan sabotase.

Mereka belajar bahwa oposisi diperlukan.

Tetapi oposisi bukan berarti berharap negaranya gagal.

Mereka belajar bahwa mengkritik pemerintah adalah hak.

Namun menghancurkan negeri sendiri bukanlah perjuangan.

Anak-anak yang lahir setelah bencana tumbuh tanpa mengenal kebencian lama.

Mereka tidak tahu siapa Arwana.

Mereka tidak peduli siapa Raksa.

Yang mereka tahu hanyalah sejarah.

Dan sejarah itu mereka pelajari bukan untuk mengulangnya, melainkan untuk menghindarinya.


Negeri yang Akhirnya Dewasa

Seratus tahun kemudian, negeri tersebut menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

Hutan kembali hijau.

Sekolah-sekolah berdiri megah.

Teknologi berkembang.

Pertanian menjadi modern.

Kemiskinan menurun drastis.

Masyarakat hidup lebih tenang.

Tetapi kemajuan terbesar mereka bukanlah gedung pencakar langit.

Bukan kereta tercepat.

Bukan teknologi paling canggih.

Kemajuan terbesar mereka adalah kemampuan untuk berbeda tanpa saling menghancurkan.

Di sebuah taman kota, berdiri sebuah monumen sederhana.

Tidak ada patung presiden.

Tidak ada lambang partai.

Tidak ada slogan politik.

Hanya sebuah buku gambar yang diukir pada batu.

Di bawahnya tertulis:

"Rumah untuk semua orang."

Laras sudah lama tiada.

Tetapi kisah Bima tetap hidup.

Setiap tahun, anak-anak sekolah datang ke monumen itu.

Mereka membawa bunga.

Guru mereka kemudian berkata:

"Jangan pernah mengira bahwa negeri ini dibangun oleh mereka yang selalu sepakat."

"Negeri ini dibangun oleh manusia yang belajar menerima perbedaan."

Seorang anak bertanya:

"Bu, kenapa orang-orang dahulu begitu membenci satu sama lain?"

Guru itu terdiam sejenak.

Kemudian menjawab:

"Karena mereka lupa bahwa politik hanya salah satu bagian dari kehidupan. Mereka mengira kemenangan pilihan mereka lebih penting daripada keselamatan negeri."

Anak itu kembali bertanya.

"Lalu apakah kita tidak boleh kecewa kalau pilihan kita kalah?"

Guru tersebut tersenyum.

"Kecewa boleh."

"Marah boleh."

"Protes boleh."

"Melawan kebijakan yang salah juga boleh."

"Tetapi jangan pernah membakar rumah yang kelak akan menjadi tempat anakmu pulang."

Anak itu memandangi tulisan di monumen.

Rumah untuk semua orang.

Ia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya, ia mengerti mengapa sebuah bangsa bisa mati bukan hanya karena bencana alam.

Bangsa juga bisa mati ketika kebencian membuat manusia kehilangan rasa memiliki.


Epilog: Pelajaran dari Negeri yang Pernah Hancur

Tidak ada bangsa yang benar-benar aman dari kebencian.

Tidak ada masyarakat yang sepenuhnya kebal terhadap propaganda.

Dan tidak ada manusia yang selalu benar.

Karena itu, demokrasi sebenarnya bukan sekadar tentang memilih pemimpin.

Demokrasi adalah latihan panjang untuk menerima kenyataan bahwa suatu hari kita mungkin kalah.

Hari ini pilihan kita menang.

Besok mungkin kalah.

Hari ini orang yang kita dukung menjadi pemimpin.

Besok mungkin orang lain.

Tetapi matahari tetap terbit di atas negeri yang sama.

Anak-anak tetap pergi ke sekolah.

Petani tetap menanam.

Nelayan tetap melaut.

Ibu tetap menunggu anaknya pulang.

Dan manusia tetap memiliki satu rumah bernama tanah air.

Barangkali itulah kesalahan terbesar manusia di negeri yang telah hancur itu.

Mereka terlalu sibuk memenangkan pertarungan politik sampai lupa bahwa kemenangan yang sebenarnya bukanlah ketika lawan kalah.

Kemenangan yang sebenarnya adalah ketika semua anak masih memiliki masa depan untuk diperjuangkan.

Negeri itu akhirnya maju.

Tetapi kemajuan tersebut dibayar dengan harga yang tidak pernah bisa dikembalikan.

Empat puluh persen manusia telah pergi.

Jutaan kenangan hilang.

Ribuan keluarga terpisah.

Dan terlalu banyak anak yang tidak pernah sempat tumbuh dewasa.

Karena itu, ketika generasi baru berjalan melewati monumen Bima, mereka selalu membaca kalimat terakhir yang terukir di sana:

"Jangan hancurkan negerimu hanya karena dunia tidak mengikuti keinginanmu. Sebab ketika rumah terbakar, tidak ada pemenang. Yang tersisa hanyalah abu."

Disclaimer

Cerita ini sepenuhnya merupakan karya fiksi dan tidak merujuk secara langsung kepada negara, tokoh politik, partai politik, pemerintahan, kelompok masyarakat, maupun peristiwa tertentu di dunia nyata. Nama tokoh, negeri, organisasi, program, serta rangkaian peristiwa dalam cerita dibuat untuk kepentingan narasi, refleksi sosial, dan pesan filosofis semata. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menuduh atau menggeneralisasi kelompok politik atau masyarakat tertentu.

Pesan utama cerita adalah pentingnya kedewasaan berdemokrasi, menjaga persatuan, melindungi anak-anak, lingkungan, dan masa depan bersama, serta membedakan kritik politik yang sehat dari tindakan yang merusak masyarakat.

Posting Komentar
TOP 9 POPULAR POSTS
CORE: ACTIVE
Memuat 9 artikel terpopuler...
AI PROMO COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...