Pasar Bayangan

Menghitung... | 0 pembaca
Project Garuda Glass Bagian 2: Pasar Bayangan | Warkasa1919 Ilustrasi Project Garuda Glass Bagian 2: Pasar Bayangan | Warkasa1919

 

Project Garuda Glass — Bagian 2: Pasar Bayangan

Serial Fiksi Thriller Politik-Ekonomi Warkasa1919.com

Pagi belum benar-benar datang ketika Aruna menyadari satu hal.

Ia tidak tidur semalaman.

Amplop bertuliskan PROJECT GARUDA GLASS — PHASE II masih tergeletak di atas meja.

Nama terakhir yang dibacanya terus berputar di kepalanya.

Darma Wiratama.

Mantan pejabat negara.

Orang yang datang ke rumahnya tengah malam.

Orang yang memperingatkannya agar tidak mempercayai siapa pun.

Dan orang yang namanya justru tercantum dalam dokumen rahasia.

Aruna membuka kembali dokumen tersebut.

Di samping nama Darma terdapat sebuah kode:

DG-07 — ASSET STATUS: INACTIVE

Inactive?

Apa maksudnya?

Apakah Darma pernah menjadi bagian dari jaringan itu?

Atau justru namanya dicantumkan untuk menjebaknya?

Pertanyaan itu belum sempat terjawab ketika ponselnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aruna mengangkatnya.

Tidak ada suara.

Kemudian terdengar rekaman pendek.

Suara Darma.

"Jangan mencari saya."

Telepon terputus.

Aruna langsung berdiri.

Ia mencoba menelepon balik.

Nomornya tidak aktif.


Jejak Pertama

Aruna membawa dokumen tersebut kepada seorang analis data bernama Bima.

Bima adalah teman lama yang pernah bekerja sebagai konsultan teknologi informasi.

Ia terkenal tidak banyak bicara.

Namun sekali menemukan sesuatu yang menarik, ia bisa bekerja berjam-jam tanpa berhenti.

"File ini dibuat kapan?" tanya Aruna.

Bima memeriksa metadata.

"Menarik."

"Apa?"

"Dokumen utamanya dibuat empat tahun lalu."

Aruna mengerutkan kening.

"Empat tahun?"

"Ya."

"Berarti proyek ini sudah berlangsung selama itu?"

Bima mengangguk.

"Tapi ada sesuatu yang lebih aneh."

Ia memperbesar salah satu bagian dokumen.

"File ini terakhir dimodifikasi tiga hari lalu."

Aruna terdiam.

"Tiga hari lalu?"

"Berarti seseorang masih memiliki akses."

"Siapa?"

Bima menggeleng.

"Belum tahu."

Ia kemudian menemukan sebuah kode di balik dokumen.

M-19.

Bima mengetik kode tersebut ke dalam sistem pencarian internal yang ia miliki.

Hasilnya hanya satu.

Sebuah perusahaan.

Mitra Sembilan Belas Logistics.

Alamatnya berada di kawasan industri dekat Pelabuhan Merah.

Aruna menatap layar.

Pelabuhan yang sama.

"Besok kita ke sana."

Bima menatapnya.

"Besok?"

"Kalau kita menunggu, mungkin perusahaan itu sudah tidak ada."

Bima tersenyum.

"Benar juga."


Gudang Nomor 19

Kawasan industri itu tampak biasa.

Truk berlalu-lalang.

Gudang berdiri berjejer.

Pekerja mengenakan seragam.

Tidak ada sesuatu yang terlihat mencurigakan.

Tetapi nomor 19 berbeda.

Gudangnya lebih tertutup.

Tidak banyak pekerja keluar masuk.

Tidak ada papan nama besar.

Hanya tulisan kecil:

PT Mitra Sembilan Belas Logistics.

Aruna dan Bima mengamati dari sebuah kedai kopi di seberang jalan.

Selama dua jam mereka menunggu.

Kemudian sebuah truk datang.

Nomor kendaraan dicatat.

Truk masuk.

Tidak sampai lima belas menit, sebuah mobil mewah berhenti di depan gudang.

Seorang pria turun.

Bima mengambil foto.

Wajah pria itu kemudian diperbesar.

Aruna terdiam.

"Saya kenal dia."

"Siapa?"

"Rangga Pradipta."

Bima membuka laptop.

Rangga Pradipta adalah pengusaha terkenal.

Pemilik beberapa perusahaan distribusi.

Sering muncul dalam forum ekonomi.

Bahkan beberapa kali memberikan sumbangan untuk program sosial.

Aruna menatap gudang.

"Kenapa orang seperti dia datang ke tempat ini?"

Bima menjawab:

"Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dia ambil dari sana."


Kardus Tanpa Identitas

Malam hari.

Mereka mengikuti salah satu truk yang keluar dari gudang.

Truk bergerak menuju pinggiran kota.

Aruna menduga tujuannya adalah pasar besar.

Namun kendaraan itu justru masuk ke sebuah bangunan tua.

Di sana, barang dipindahkan ke kendaraan-kendaraan kecil.

Aruna memotret dari kejauhan.

Kardus-kardus itu tidak memiliki tanda pengenal yang jelas.

Sebagian ditempeli label produk luar negeri.

Sebagian tidak memiliki label sama sekali.

Namun Bima memperhatikan sesuatu.

"Lihat kardus yang itu."

"Apa?"

"Nomor batch."

Aruna memperbesar foto.

Nomor batch tersebut sama dengan salah satu produk yang ditemukan di warung Jaka.

Mereka akhirnya memiliki hubungan.

Gudang.

Pelabuhan.

Distributor.

Pasar.

Semua terhubung.

Namun masih ada satu pertanyaan.

Siapa yang membiayai semuanya?


Razia yang Terlalu Sempurna

Dua hari kemudian, pemerintah mengumumkan operasi besar-besaran terhadap perdagangan ilegal.

Televisi menyiarkan gambar aparat menyita ribuan kardus.

Para pejabat memberikan konferensi pers.

"Negara tidak akan membiarkan perdagangan ilegal merusak industri nasional."

Aruna menonton dari kantor.

Bima duduk di sebelahnya.

"Aneh."

"Apa?"

Bima menunjuk layar.

"Barang yang disita bukan berasal dari gudang nomor 19."

Aruna menatapnya.

"Yakin?"

"Sangat."

Ia membuka foto yang mereka ambil sebelumnya.

"Perhatikan kemasan."

Aruna membandingkan keduanya.

Benar.

Produk yang disita berbeda.

Razia itu nyata.

Penyitaannya nyata.

Tetapi...

jaringannya berbeda.

Aruna mulai memahami sesuatu yang lebih mengerikan.

Mungkin operasi tersebut bukan sepenuhnya sandiwara.

Mungkin sebagian aparat memang bekerja sungguh-sungguh.

Tetapi ada pihak lain yang membiarkan sebagian jalur tetap hidup.

Jaringan ilegal tidak perlu menguasai seluruh aparat.

Mereka hanya membutuhkan beberapa titik yang bisa dikendalikan.

Satu pelabuhan.

Satu pejabat.

Satu distributor.

Satu tanda tangan.

Satu telepon.

Cukup.


Pesan dari Orang Mati

Malam itu Aruna menerima email.

Pengirimnya menggunakan nama:

JAKA_19

Aruna langsung membukanya.

"Kalau Anda membaca pesan ini, berarti saya sudah tidak bisa menghubungi Anda."

Aruna membeku.

Jaka?

Ia masih hidup.

Setidaknya terakhir kali Aruna mendapat kabar, Jaka masih bekerja sebagai narasumber.

Ia membuka pesan berikutnya.

"Saya menemukan sesuatu tentang pabrik saya."

Ada sebuah foto terlampir.

Foto dokumen kontrak.

Jaka menulis:

"Beberapa bulan sebelum pabrik tutup, ada pihak yang membeli utang perusahaan melalui perusahaan investasi asing."

Aruna memperbesar foto.

Nama perusahaan investasi tersebut terlihat jelas.

North Meridian Capital.

Bima segera mencari informasi.

Perusahaan tersebut terdaftar di luar Arkapura.

Tetapi memiliki beberapa perusahaan anak di dalam negeri.

Salah satunya...

Mitra Sembilan Belas Logistics.

Aruna berdiri.

"Jadi perusahaan logistik itu..."

"Bagian dari jaringan yang sama," kata Bima.

Tiba-tiba email kedua masuk.

"Tapi jangan percaya pada dokumen itu."

Aruna membaca kalimat berikutnya.

"North Meridian bukan pemilik sebenarnya."

Kemudian satu kalimat terakhir:

"Cari orang yang membayar North Meridian."

Email berhenti.

Tidak ada pesan lain.


Uang yang Berputar

Bima menghabiskan tiga malam memetakan transaksi perusahaan-perusahaan tersebut.

Ia menemukan sesuatu.

Uang bergerak melalui beberapa negara.

Perusahaan A mengirim dana kepada perusahaan B.

Perusahaan B membayar perusahaan C.

Perusahaan C membeli saham perusahaan D.

Perusahaan D kemudian memberikan pinjaman kepada perusahaan E.

Dan perusahaan E...

membiayai perusahaan yang memasukkan barang ilegal ke Arkapura.

Sebuah lingkaran sempurna.

Tidak ada satu transaksi yang secara langsung menunjukkan kejahatan.

Semuanya terlihat seperti bisnis biasa.

Tetapi jika seluruh transaksi disusun menjadi satu peta...

muncul sebuah pola.

Bima menampilkan hasilnya.

Di tengah peta terdapat sebuah perusahaan yang tidak pernah muncul dalam pemberitaan.

Asterion Holdings.

Aruna mencari nama tersebut.

Tidak ada situs resmi.

Tidak ada kantor yang jelas.

Tidak ada pemilik yang tercatat secara terbuka.

Hanya sebuah alamat perusahaan di kawasan finansial luar negeri.

Bima berkata:

"Ini perusahaan cangkang."

"Siapa pemiliknya?"

"Belum tahu."

"Kenapa?"

"Karena pemiliknya disembunyikan di balik tiga lapisan perusahaan."

Aruna menatap layar.

Kemudian menyadari sesuatu.

"Kalau begitu kita harus mencari orang yang mendirikan Asterion."

Bima mengangguk.

"Tapi ada masalah."

"Apa?"

"Perusahaan itu didirikan oleh seseorang dari Arkapura."

Aruna menoleh.

"Siapa?"

Bima membuka dokumen registrasi.

Kemudian wajahnya berubah.

"Aruna..."

"Apa?"

"Anda sebaiknya lihat sendiri."


Nama yang Mengubah Segalanya

Di layar komputer terdapat sebuah nama.

Darma Wiratama.

Aruna berdiri tanpa berkata apa-apa.

Jadi Darma memang terlibat.

Tetapi bagaimana?

Apakah ia dalang?

Mantan pejabat yang berubah menjadi pengusaha bayangan?

Ataukah ia pernah berada di dalam jaringan tersebut lalu mencoba menghentikannya?

Bima membuka dokumen berikutnya.

"Ini belum semuanya."

"Apa lagi?"

"Darma mendirikan perusahaan ini delapan tahun lalu."

"Delapan tahun?"

"Ya."

"Project Garuda Glass baru dibuat empat tahun lalu."

Bima mengangguk.

Aruna mulai berpikir.

"Berarti Asterion sudah ada sebelum proyek itu."

"Benar."

"Kalau begitu Project Garuda Glass bukan awal."

Bima menatapnya.

"Mungkin justru kelanjutan."

Ruangan menjadi sunyi.

Tiba-tiba ponsel Bima berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Hanya satu foto.

Foto Darma sedang berdiri di sebuah ruangan gelap.

Di belakangnya terdapat lambang burung garuda yang terbuat dari kaca.

Di bawah foto terdapat tulisan:

PHASE II IS NOT ABOUT DESTROYING THE MARKET.

Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.

IT IS ABOUT CHOOSING WHO OWNS IT.

Aruna menatap layar.

Jantungnya berdegup.

Kemudian pesan ketiga muncul.

AND DARMA WAS NEVER THE BOSS.

Bima menatap Aruna.

"Kalau begitu..."

Aruna menyelesaikan kalimatnya.

"Selama ini kita mengejar orang yang salah."


Orang Ketiga

Malam itu, Aruna kembali ke rumah.

Ia membuka semua dokumen.

Menyusun foto.

Mencatat nama.

Menghubungkan perusahaan.

Darma.

North Meridian.

Asterion.

Mitra Sembilan Belas.

Project Garuda Glass.

Semuanya seperti potongan puzzle.

Tetapi masih ada satu potongan yang hilang.

Seseorang yang berada di atas semuanya.

Pukul 02.13 dini hari, laptop Aruna menyala sendiri.

Satu file baru muncul.

GG-00

Ia membukanya.

Hanya ada satu halaman.

Tidak ada tabel.

Tidak ada transaksi.

Tidak ada nama perusahaan.

Hanya sebuah foto lama.

Foto sebuah ruangan rapat.

Di dalamnya terdapat lima orang.

Empat wajah sengaja disamarkan.

Satu wajah terlihat jelas.

Aruna mengenalinya.

Orang itu adalah tokoh paling berpengaruh di dunia bisnis Arkapura.

Tetapi yang membuat Aruna merinding bukan wajahnya.

Melainkan orang yang duduk di sebelahnya.

Wajahnya disamarkan.

Namun di meja terdapat sebuah cincin.

Cincin dengan lambang yang sama seperti pada foto Darma.

Garuda dari kaca.

Di bawah foto tertulis:

"Darma bukan pengkhianat pertama."

Kemudian satu kalimat terakhir:

"Cari pengkhianat yang pertama."

Layar mati.

Aruna bersandar di kursinya.

Di luar jendela, matahari mulai terbit.

Kota Banyuarta perlahan bangun.

Orang-orang pergi bekerja.

Pedagang membuka toko.

Anak-anak berangkat sekolah.

Tidak seorang pun tahu bahwa di balik rutinitas tersebut terdapat perang ekonomi yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Dan Aruna baru saja menemukan bahwa perang itu dimulai jauh sebelum Project Garuda Glass.

Bahkan mungkin sebelum ia lahir.

Bersambung — Bagian 3: Project Garuda Glass

Disclaimer: Cerita ini sepenuhnya merupakan karya fiksi thriller politik-ekonomi untuk hiburan, sastra, dan refleksi. Negara, tokoh, perusahaan, organisasi, proyek, peristiwa, serta jaringan yang muncul dalam cerita merupakan rekaan. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menuduh individu, perusahaan, pejabat, aparat, atau negara tertentu melakukan tindakan sebagaimana digambarkan dalam narasi.




TOP 9 POPULAR POSTS
CORE: ACTIVE
Memuat 9 artikel terpopuler...
AI PROMO COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...