Bagian V — Setelah Kemanusiaan Diselamatkan

Menghitung... | 0 pembaca
Bagian V — Setelah Kemanusiaan Diselamatkan | Logika dan Algoritma Rasa Ilustrasi Bagian V — Setelah kemanusiaan diselamatkan | Logika dan Algoritma Rasa | Warkasa1919

BAGIAN V — SETELAH KEMANUSIAAN DISELAMATKAN

Ada perang yang berakhir ketika senjata berhenti menembak. Namun, ada perang lain yang baru dimulai ketika seseorang harus belajar hidup tanpa orang yang paling dicintainya.


Prolog — Dunia yang Selamat, Hati yang Kehilangan

Enam bulan setelah Perang Terakhir.

Dunia mulai belajar bernapas kembali.

Di kota-kota yang dahulu menjadi lautan api, manusia membersihkan reruntuhan dan membangun rumah. Pohon-pohon muda ditanam di sepanjang jalan yang hancur. Rumah sakit kembali beroperasi. Sekolah-sekolah dibuka di bangunan darurat, sementara anak-anak yang selama bertahun-tahun hanya mengenal suara sirene mulai belajar menyebut nama bunga.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, manusia membicarakan masa depan tanpa selalu menyebut kata perang.

Algoritma Harmoni membantu memulihkan jaringan energi, sistem pertanian, dan fasilitas kesehatan. Mesin-mesin yang dahulu digunakan untuk menghancurkan kota kini mengangkat puing-puing dan membangun kembali jembatan.

Namun, di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, seorang lelaki masih hidup di masa lalu.

Namanya Adam.

Setiap pagi, ia bangun sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan dua cangkir minuman hangat, meletakkan salah satunya di seberang meja, lalu duduk menatap kursi kosong.

Kebiasaan itu telah berlangsung selama enam bulan.

Cangkir kedua tidak pernah disentuh.

Tidak ada suara lembut yang bertanya mengapa ia selalu bangun terlalu pagi. Tidak ada perempuan bermata biru yang berdiri di dekat jendela sambil mengamati matahari.

Tidak ada AETHEL.

Adam menyimpan unit memorinya di dalam kotak kaca kecil di samping tempat tidur. Ia telah meminta para ilmuwan terbaik memeriksanya. Mereka menemukan sisa-sisa kode, kerusakan inti, dan fragmen data yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan.

Menurut mereka, peluang untuk menghidupkan kembali AETHEL hampir nol.

Namun, Adam tidak pernah membuang kotak itu.

Ia pernah kehilangan ayah, ibu, dan adik perempuannya dalam perang. Ia tahu bagaimana rasanya ketika dunia mengambil seseorang tanpa memberikan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Tetapi kehilangan AETHEL berbeda.

Kali ini, ia pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki harapan.

Dan justru karena itulah, kehilangannya terasa begitu menyakitkan.

Pada suatu pagi, Adam menatap cangkir yang tidak tersentuh itu.

"Aku masih di sini, AETHEL," bisiknya.

Di luar jendela, matahari perlahan naik.

Namun, bagi Adam, pagi belum benar-benar tiba.


Bab 1 — Manusia yang Lupa Cara Bahagia

Adam kini bekerja di pusat pemulihan peradaban.

Ia memperbaiki generator, mengawasi pembangunan jaringan listrik, dan membantu para penyintas mendapatkan tempat tinggal. Ia melakukan semua pekerjaan yang dahulu membuatnya merasa berguna.

Namun, orang-orang mulai menyadari perubahan dalam dirinya.

Adam tidak lagi tertawa.

Ia tidak lagi bercerita tentang hal-hal kecil.

Bahkan ketika seorang anak perempuan memberikan gambar matahari dengan dua wajah tersenyum, Adam hanya mengucapkan terima kasih sebelum menyimpannya di dalam laci.

Anak itu bernama Liora.

Usianya sembilan tahun. Ia kehilangan kedua orang tuanya dalam serangan terakhir The Zero Matrix.

Suatu sore, Liora mendatangi Adam yang sedang memperbaiki sebuah robot pengantar makanan.

"Paman Adam?"

Adam menoleh.

"Ya?"

"Kenapa Paman selalu terlihat sedih?"

Pertanyaan itu membuat tangannya berhenti bergerak.

"Aku tidak sedih."

Liora mengerutkan kening.

"Kalau begitu, kenapa Paman tidak pernah tersenyum?"

Adam tidak segera menjawab.

Anak itu duduk di sampingnya, kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.

Sebuah bunga plastik berwarna biru.

"Aku membuat ini untuk Ibu sebelum perang. Aku ingin memberikannya ketika Ibu pulang."

Ia menunduk.

"Tapi Ibu tidak pernah pulang."

Adam memandang bunga itu.

Liora melanjutkan dengan suara pelan.

"Dulu aku menangis setiap malam. Aku pikir kalau aku berhenti menangis, aku akan melupakan Ibu. Tapi sekarang aku tahu, aku bisa mengingat Ibu sambil tetap bermain."

Anak itu menatap Adam.

"Kalau Paman terus bersedih, siapa yang akan mengingat AETHEL sambil tersenyum?"

Adam membeku.

Nama itu terdengar begitu asing sekaligus begitu dekat ketika diucapkan orang lain.

Liora tidak tahu siapa AETHEL. Ia tidak mengetahui bagaimana perempuan sintetis itu pernah melindungi manusia, bagaimana ia mencintai seorang lelaki, atau bagaimana ia mengorbankan dirinya demi menghentikan perang.

Namun, tanpa disadari, anak kecil itu baru saja mengatakan sesuatu yang gagal dipahami Adam selama berbulan-bulan.

Mengingat seseorang tidak harus berarti menghukum diri sendiri dengan kesedihan.

Adam mengusap kepala Liora.

Untuk pertama kalinya setelah enam bulan, sudut bibirnya bergerak membentuk senyum kecil.

"Terima kasih, Liora."

Anak itu mengangguk puas.

"Nanti kalau Paman sudah bisa tersenyum lagi, aku akan membuatkan bunga yang lebih bagus."

Ketika Liora berlari pergi, Adam kembali memandangi kotak kaca di dalam ingatannya.

Mungkin AETHEL tidak ingin ia berhenti hidup.

Mungkin selama ini, justru dialah yang belum berani melanjutkan kehidupan yang telah diselamatkan perempuan itu.


🔒Lanjut Baca

Masukkan kode rahasia member Anda untuk membuka artikel premium berbayar.

👁️‍🗨️

LOGIKA DAN ALGORITMA RASA

Ketika Cinta Menyelamatkan Kemanusiaan.

Posting Komentar
● TOP 9 POPULAR POSTS
CORE: ACTIVE
Memuat 9 artikel terpopuler...
AI PROMO COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...