Widget HTML #1

Beberapa Hal tentang "Plagiarism Checker"

Ruang Berbagi dan Informasi

 

Jujur saja Saya suka bingung ketika melakukan pengecek tulisan di peranti plagiarisme (plagiarism checker) yang Saya gunakan, sebab peranti tersebut kadang memberi skor hingga 45% bahkan pernah 45% kemiripan. Padahal untuk lolos tayang di beberapa media online seperti Kompasiana dan Secangkir Kopi Bersama setidaknya harus memenuhi angka kemiripan di bawah 25%.

Beberapa kali telah Saya lakukan pengeditan ulang tapi ternyata peranti lunak pengecek plagiarisme (plagiarism checker) yang saya gunakan tetap memberi skor di atas 35 % kemiripan.

Setelah Saya coba cek ulang untuk bagian-bagian kalimat yang tersorot yang terdeteksi mirip atau hampir mirip dengan beberapa sumber di internet, ternyata memang ada beberapa bagian itu merupakan kutipan regulasi pemerintah berupa undang-undang, peraturan pemerintah, hingga peraturan menteri yang tidak mungkin di ubah. Begitu juga dengan definisi-definisi baku harus diubah (dibuat parafrasa) supaya menghindari kemiripan.

Setelah berselancar di dunia maya, akhirnya saya menemukan artikel yang menurut saya bagus untuk menghilangkan kebingungan Saya itu. Dari artikel Salah Paham tentang "Plagiarism Checker" yang ditulis oleh Bambang Trim, seorang Kompasianer yang menerbitkan artikelnya pada 16 April 2018 lalu itu setidaknya mengobati rasa bingung Saya tentang piranti lunak ini.

Menurutnya, kemunculan plagiarism checker itu sendiri memang tidak terlepas dari kemajuan pesat informasi yang dialirkan melalui internet saat ini. Seringkali beberapa sumber di internet menjadi "surga" bagi para penulis yang memerlukan bahan-bahan dan rujukan secara cepat, tapi kemajuan pesatnya informasi itu ternyata memiliki sisi buruk, yaitu seringkali beberapa sumber informasi di internet itu juga mendorong banyak orang untuk mencomothasil karya orang lain dan mengakui sebagai karyanya.

Karena beberapa kasus itulah yang kemudian membuat beberapa orang pintar akhirnya membuat peranti pengecek plagiarisme yang didasarkan pada sumber digital di internet. Ada banyak penyedia jasa aplikasi pengecek plagiarism di internet dan salah satunya yang paling popular adalah plagiarism checker.

Menurut pengertian yang paling umum tentang plagiat itu sendiri adalah tindakan seseorang mengambil, mengutip, atau menggunakan karya tulis orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa mencantumkan bagian itu adalah kutipan atau malah mengakui bahwa bagian itu adalah karya ciptanya. Maka dari itu sebenarnya aplikasi pengecek plagiarisme ini sebenarnya cukup membantu penandaan terhadap karya-karya orang lain yang akan kita gunakan agar hasil karya kita tidak sampai di cap mem-plagiat hasil karya orang lain.Pada umumnya peranti pengecek plagiarisme itu hanya akan menandai bagian-bagian yang mirip atau hampir mirip dari sumber yang tersedia di internet saja. Dan jika tidak ada di internet, tentu saja peranti itu tidak dapat mendeteksinya. Tapi minimal seteksi berupa sorotan-sorotan menjadi peringatan bagi kita untuk itu sebenarnya sangat berguna bagi kita agar mengecek kembali komposisi konten yang kita tuliskan.

Menurut Bambang Trim yang Saya baca dari artikel tersebut, sebenarnya kemiripan yang ada di artikel kita itu tidak sepenuhnya identik dengan plagiat jika sumber yang mirip itu digunakan sebagai kutipan secara benar dan etis. Dan ini adalah beberapa hal tentang aplikasi pengecek plagiarisme (plagiarism checker) yang Saya kutip dari artikel Bambang Trim.

  1.  Sebenarnya piranti pengecek plagiarisme tidaklah otomatis menandai suatu bagian sebagai hasil plagiat karena sebenarnya piranti lunak tersebut bekerja dengan cara membandingkan karya tulis yang diperiksa dengan basis/pangkalan data di internet, jadi bagian yang mirip atau hampir mirip akan tersorot pada karya tulis. Jadi, yang tersorot belum tentu hasil plagiat jika ternyata penulis menerapkan kaidah pengutipan (citation) yang dibenarkan.
  2. Ternyata peranti pengecek plagiat bukan hanya untuk mengecek plagiarisme. Karena sebenarnya piranti ini dapat juga kita gunakan untuk kepentingan lain seperti untuk mendeteksi kelemahan pada tulisan kita, seperti parafrasa yang buruk atau tidak tepat, kutipan yang hilang, atau tata bahasa yang tidak benar.
  3. Dengan peranti pengecek plagiat, para penulis bidang akademis dapat menggunakan aplikasi ini sebelum mengirimkan tulisan ke media sebagai pemberi peringatan dini. Dan dari sisi pengelola media sendiri piranti ini juga berguna untuk mengecek apa yang disebut autoplagiarism atau self-plagiarism yaitu publikasi yang diduplikasi oleh penulisnya sendiri.
  4. Peranti piranti pengecek plagiat ini juga dapat mendeteksi penggunaan sumber tulisan pribadi yang melebihi ketentuan, dilakukan oleh penulisnya sendiri. Sebagai contoh LIPI membuat ketentuan para penulis hanya dapat menggunakan maksimal 30% karya tulisnya (terdahulu) sebagai sumber rujukan dalam suatu tulisan baru.
  5. Peranti pengecek plagiarisme ini tidak mudah untuk dikelabui karena betapa pun canggihnya para plagiator, kemampuan deteksi peranti juga makin mumpuni, kecuali peranti gratisan, sebab biasanya tingkat akurasinya lemah atau basis datanya sangat terbatas.
  6. Praktik-praktik plagiat mudah teridentifikasi dan dapat dideteksi oleh peranti tetapi tetap memerlukan keputusan seorang manusia yang mampu meninjau apakah duplikasi tulisan dari sumber-sumber di internet itu melanggar ketentuan perlindungan hak cipta, etika akademis, atau tidak. 
  7. Dan yang terakhir, harus dipahami bahwa peranti pengecek plagiarisme ini bukanlah alat serbatahu yang dirancang untuk menangkap para plagiator sebab piranti ini hanya digunakan untuk mengecek duplikasi tulisan dan kemungkinan indikasi plagiat karena tidak adanya kutipan (citation) atau kekeliruan dalam mengutip.

 

Sumber
1

Ubah Ikuti Blog

Traktir creator minum kopi dengan cara memberi sedikit donasi. Silahkan Pilih Metode Pembayaran

Posting Komentar untuk "Beberapa Hal tentang "Plagiarism Checker""