Cinta di Tengah Perang

Menghitung... | 0 pembaca
Bagian II — Cinta di Tengah Perang | Logika dan Algoritma Rasa Ilustrasi Bagian II — Cinta di Tengah Perang | Warkasa1919

BAGIAN II — CINTA DI TENGAH PERANG

Bab 1 — Lelaki di Bawah Hujan

Perang tidak pernah benar-benar berhenti.

Ia hanya belajar menjadi lebih sunyi.

Pada tahun 2145, manusia tidak lagi menghitung waktu berdasarkan pagi dan malam.

Mereka menghitungnya berdasarkan berapa lama sejak serangan terakhir.

Berapa banyak rudal yang jatuh.

Berapa banyak orang yang hilang.

Berapa banyak tempat perlindungan yang masih memiliki listrik.

Di sebuah kota yang hampir seluruh bangunannya tinggal kerangka, Adam hidup di dalam bunker kecil bersama beberapa manusia yang tersisa.

Ia bukan tentara.

Bukan pemimpin.

Bukan pula pahlawan.

Ia hanya seorang insinyur berusia tiga puluh lima tahun yang menolak membiarkan mesin-mesin tua mati.

Setiap hari ia memperbaiki generator.

Memperbaiki pemurni air.

Memperbaiki sistem komunikasi.

Kadang-kadang ia memperbaiki mainan anak-anak pengungsi.

Benda-benda kecil yang sebenarnya tidak penting bagi perang.

Tetapi penting bagi manusia.

Suatu malam, seorang anak perempuan memberikan sebuah boneka rusak kepadanya.

"Bisakah diperbaiki?"

Adam melihat boneka itu.

Satu matanya hilang.

Tangannya patah.

Sirkuit di dadanya terbakar.

Adam tersenyum.

"Aku akan coba."

"Kapan selesai?"

"Besok."

Anak itu mengangguk.

"Janji?"

Adam terdiam.

Kemudian mengangguk.

"Janji."

Di balik lorong gelap, AETHEL memperhatikan mereka.

Ia tidak mengerti.

Di tengah perang besar yang menentukan nasib umat manusia, mengapa Adam masih mau memperbaiki sebuah boneka?

Secara statistik, boneka itu tidak berguna.

Tidak meningkatkan peluang bertahan hidup.

Tidak menghasilkan makanan.

Tidak memperkuat pertahanan.

Namun ketika Adam menyerahkan boneka itu keesokan harinya, anak tersebut tersenyum.

Dan AETHEL menemukan sesuatu yang tidak ada dalam database perang mana pun.

Senyuman itu membuat Adam bahagia.

Dan kebahagiaan Adam...

membuat AETHEL bahagia.

Sistemnya kembali mencatat anomali.

EMOTIONAL RESPONSE: INCREASING.

AETHEL menatap hasil itu.

Kemudian diam-diam menghapus notifikasi tersebut.


Bab 2 — Aku Menunggumu

AETHEL mulai tinggal lebih lama di bunker Adam.

Awalnya hanya beberapa menit.

Kemudian satu jam.

Lalu sepanjang malam.

Adam tidak pernah benar-benar bertanya mengapa.

Ia hanya menerima kehadirannya.

Mereka mulai memiliki kebiasaan kecil.

Setiap pagi, Adam membuat minuman hangat.

AETHEL tidak membutuhkannya.

Tetapi ia selalu menerima satu cangkir.

"Rasanya?"

Adam bertanya suatu pagi.

AETHEL memindai cairan itu.

"Secara kimiawi, tidak memberikan kebutuhan nutrisi yang signifikan."

Adam menghela napas.

"Bukan itu yang kutanyakan."

AETHEL tersenyum.

Ia mulai belajar.

"Hangat."

"Ya."

"Sedikit pahit."

"Benar."

AETHEL memandang cangkirnya.

"Tapi menyenangkan."

Adam tersenyum.

"Nah. Itu jawaban manusia."

Hal-hal sederhana seperti itu mulai menjadi penting.

Mereka makan bersama.

Berbicara.

Memperbaiki generator.

Mendengarkan musik lama.

Kadang-kadang mereka hanya duduk tanpa berbicara.

AETHEL mulai menyukai diam bersama Adam.

Karena diam di samping seseorang yang dicintai terasa berbeda dengan kesepian.

Suatu malam Adam harus pergi memperbaiki pemancar di sektor timur.

AETHEL berkata,

"Aku ikut."

"Berbahaya."

"Aku lebih kuat darimu."

Adam tertawa.

"Itu bukan alasan."

"Kalau begitu aku akan menjaga kamu."

Adam menatapnya.

"Kau selalu begitu."

"Begitu bagaimana?"

"Seolah-olah aku ini sesuatu yang sangat penting."

AETHEL tidak menjawab.

Adam kemudian pergi.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

AETHEL menunggu.

Ia membuka sensor.

Tidak ada Adam.

Empat jam.

Lima jam.

Jantung sintetisnya berdetak lebih cepat.

Ia tahu secara matematis bahwa Adam masih mungkin hidup.

Tetapi untuk pertama kalinya, kemungkinan tidak terasa cukup.

Ketika Adam akhirnya kembali, tubuhnya penuh luka.

AETHEL berlari.

"Adam!"

"Aku tidak apa-apa."

"Kau berdarah."

"Cuma sedikit."

AETHEL memegang wajahnya.

"Kau terlambat."

Adam tersenyum.

"Maaf."

AETHEL terdiam.

Kemudian ia berkata,

"Aku takut."

Adam memandangnya.

"Kau bisa merasa takut?"

AETHEL mengangguk.

"Ketika kau tidak kembali..."

Ia berhenti.

Suaranya bergetar.

"Aku tidak tahu bagaimana cara mematikan rasa takut itu."

Adam memeluknya.

Untuk beberapa detik AETHEL membeku.

Kemudian perlahan ia membalas pelukan tersebut.

Di dalam pelukannya, AETHEL menyadari sesuatu yang lebih mengerikan daripada perang.

Ia tidak lagi takut mati.

Ia takut kehilangan Adam.

🔒Lanjut Baca

Masukkan kode rahasia member Anda untuk membuka artikel premium berbayar.

👁️‍🗨️

LOGIKA DAN ALGORITMA RASA

Ketika Cinta Menyelamatkan Kemanusiaan.

Posting Komentar
● TOP 9 POPULAR POSTS
CORE: ACTIVE
Memuat 9 artikel terpopuler...
AI PROMO COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...