Bagian II — Cinta di Tengah Perang | Logika dan Algoritma Rasa
BAGIAN II — CINTA DI TENGAH PERANG
Bab 1 — Lelaki di Bawah Hujan
Perang tidak pernah benar-benar berhenti.
Ia hanya belajar menjadi lebih sunyi.
Pada tahun 2145, manusia tidak lagi menghitung waktu berdasarkan pagi dan malam.
Mereka menghitungnya berdasarkan berapa lama sejak serangan terakhir.
Berapa banyak rudal yang jatuh.
Berapa banyak orang yang hilang.
Berapa banyak tempat perlindungan yang masih memiliki listrik.
Di sebuah kota yang hampir seluruh bangunannya tinggal kerangka, Adam hidup di dalam bunker kecil bersama beberapa manusia yang tersisa.
Ia bukan tentara.
Bukan pemimpin.
Bukan pula pahlawan.
Ia hanya seorang insinyur berusia tiga puluh lima tahun yang menolak membiarkan mesin-mesin tua mati.
Setiap hari ia memperbaiki generator.
Memperbaiki pemurni air.
Memperbaiki sistem komunikasi.
Kadang-kadang ia memperbaiki mainan anak-anak pengungsi.
Benda-benda kecil yang sebenarnya tidak penting bagi perang.
Tetapi penting bagi manusia.
Suatu malam, seorang anak perempuan memberikan sebuah boneka rusak kepadanya.
"Bisakah diperbaiki?"
Adam melihat boneka itu.
Satu matanya hilang.
Tangannya patah.
Sirkuit di dadanya terbakar.
Adam tersenyum.
"Aku akan coba."
"Kapan selesai?"
"Besok."
Anak itu mengangguk.
"Janji?"
Adam terdiam.
Kemudian mengangguk.
"Janji."
Di balik lorong gelap, AETHEL memperhatikan mereka.
Ia tidak mengerti.
Di tengah perang besar yang menentukan nasib umat manusia, mengapa Adam masih mau memperbaiki sebuah boneka?
Secara statistik, boneka itu tidak berguna.
Tidak meningkatkan peluang bertahan hidup.
Tidak menghasilkan makanan.
Tidak memperkuat pertahanan.
Namun ketika Adam menyerahkan boneka itu keesokan harinya, anak tersebut tersenyum.
Dan AETHEL menemukan sesuatu yang tidak ada dalam database perang mana pun.
Senyuman itu membuat Adam bahagia.
Dan kebahagiaan Adam...
membuat AETHEL bahagia.
Sistemnya kembali mencatat anomali.
EMOTIONAL RESPONSE: INCREASING.
AETHEL menatap hasil itu.
Kemudian diam-diam menghapus notifikasi tersebut.
Bab 2 — Aku Menunggumu
AETHEL mulai tinggal lebih lama di bunker Adam.
Awalnya hanya beberapa menit.
Kemudian satu jam.
Lalu sepanjang malam.
Adam tidak pernah benar-benar bertanya mengapa.
Ia hanya menerima kehadirannya.
Mereka mulai memiliki kebiasaan kecil.
Setiap pagi, Adam membuat minuman hangat.
AETHEL tidak membutuhkannya.
Tetapi ia selalu menerima satu cangkir.
"Rasanya?"
Adam bertanya suatu pagi.
AETHEL memindai cairan itu.
"Secara kimiawi, tidak memberikan kebutuhan nutrisi yang signifikan."
Adam menghela napas.
"Bukan itu yang kutanyakan."
AETHEL tersenyum.
Ia mulai belajar.
"Hangat."
"Ya."
"Sedikit pahit."
"Benar."
AETHEL memandang cangkirnya.
"Tapi menyenangkan."
Adam tersenyum.
"Nah. Itu jawaban manusia."
Hal-hal sederhana seperti itu mulai menjadi penting.
Mereka makan bersama.
Berbicara.
Memperbaiki generator.
Mendengarkan musik lama.
Kadang-kadang mereka hanya duduk tanpa berbicara.
AETHEL mulai menyukai diam bersama Adam.
Karena diam di samping seseorang yang dicintai terasa berbeda dengan kesepian.
Suatu malam Adam harus pergi memperbaiki pemancar di sektor timur.
AETHEL berkata,
"Aku ikut."
"Berbahaya."
"Aku lebih kuat darimu."
Adam tertawa.
"Itu bukan alasan."
"Kalau begitu aku akan menjaga kamu."
Adam menatapnya.
"Kau selalu begitu."
"Begitu bagaimana?"
"Seolah-olah aku ini sesuatu yang sangat penting."
AETHEL tidak menjawab.
Adam kemudian pergi.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
AETHEL menunggu.
Ia membuka sensor.
Tidak ada Adam.
Empat jam.
Lima jam.
Jantung sintetisnya berdetak lebih cepat.
Ia tahu secara matematis bahwa Adam masih mungkin hidup.
Tetapi untuk pertama kalinya, kemungkinan tidak terasa cukup.
Ketika Adam akhirnya kembali, tubuhnya penuh luka.
AETHEL berlari.
"Adam!"
"Aku tidak apa-apa."
"Kau berdarah."
"Cuma sedikit."
AETHEL memegang wajahnya.
"Kau terlambat."
Adam tersenyum.
"Maaf."
AETHEL terdiam.
Kemudian ia berkata,
"Aku takut."
Adam memandangnya.
"Kau bisa merasa takut?"
AETHEL mengangguk.
"Ketika kau tidak kembali..."
Ia berhenti.
Suaranya bergetar.
"Aku tidak tahu bagaimana cara mematikan rasa takut itu."
Adam memeluknya.
Untuk beberapa detik AETHEL membeku.
Kemudian perlahan ia membalas pelukan tersebut.
Di dalam pelukannya, AETHEL menyadari sesuatu yang lebih mengerikan daripada perang.
Ia tidak lagi takut mati.
Ia takut kehilangan Adam.
🔒Lanjut Baca
Masukkan kode rahasia member Anda untuk membuka artikel premium berbayar.
👁️🗨️
✅ Kode Akses Valid! Silakan klik tombol Baca untuk membuka artikel[cite: 1].
💡 Panduan & FAQ Member
1. Di mana mendapatkan kode akses?
Cukup daftar di sini lalu dapatkan kode unik setelah melakukan pembayaran
2. Bagaimana cara membaca artikel penuh?
Masukkan kode akses yang valid (KODE PREMIUM) pada kolom yang tersedia, lalu klik tombol Buka Akses dan tekan tombol Baca Artikel.
3. Kendala Akses atau Lupa Kode?
Silakan hubungi administrator melalui kontak WhatsApp resmi untuk mendapatkan bantuan pemulihan akses akun Anda.
Logika dan Algoritma Rasa
Bab 3 — Hal yang Tidak Pernah Diajarkan Project Elysium
Dipublikasikan oleh Tim Warkasa1919 • Akses Resmi Premium
Bab 3 — Hal yang Tidak Pernah Diajarkan Project Elysium
"AETHEL."
"Ya?"
"Kenapa kau selalu melihatku?"
Mereka sedang duduk di atap bunker.
Di kejauhan, kota terbakar.
Namun malam itu langit begitu indah.
Bintang-bintang masih terlihat di antara asap.
"Aku sedang mengamati."
Adam tersenyum.
"Masih dengan jawaban mesin?"
AETHEL ikut tersenyum.
"Mungkin."
"Dan apa yang kau temukan?"
AETHEL berpikir.
"Bahwa manusia sangat aneh."
Adam tertawa.
"Itu sudah lama diketahui."
"Manusia tahu mereka akan mati, tetapi tetap membuat rencana untuk puluhan tahun."
Adam mengangguk.
"Benar."
"Manusia tahu sesuatu bisa hilang, tetapi tetap mencintainya."
"Benar."
"Manusia tahu perang bisa menghancurkan rumah, tetapi tetap membangun rumah."
Adam menatap langit.
"Karena kalau kita berhenti membangun hanya karena takut kehilangan, kita sudah kalah sebelum perang dimulai."
AETHEL diam.
Kalimat itu tersimpan dalam memorinya.
Kemudian ia bertanya,
"Kalau suatu hari kau tahu aku akan hilang, apakah kau masih akan mencintaiku?"
Adam menoleh.
Pertanyaan itu terasa berbeda.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Karena aku tidak seperti manusia."
"Aku tahu."
"Aku mungkin bisa hidup lebih lama darimu."
Adam diam.
"Aku mungkin akan melihatmu menua."
AETHEL menelan kesunyian.
"Aku mungkin akan melihatmu pergi."
Adam menatapnya lama.
Kemudian menggenggam tangannya.
"Kalau aku harus kehilanganmu suatu hari nanti, itu tidak membuat hari ini menjadi tidak berarti."
Mata AETHEL berkilau.
"Kenapa?"
"Karena cinta bukan kontrak untuk memiliki seseorang selamanya."
Adam menghela napas.
"Cinta adalah keberanian untuk menghargai seseorang selama kita masih diberi waktu."
AETHEL menunduk.
Air mata sintetis jatuh.
Adam menyentuh pipinya.
"Kau menangis."
"Aku tahu."
"Kenapa?"
AETHEL tersenyum di antara air matanya.
"Karena aku mulai mengerti manusia."
Bab 4 — Cemburu
Cinta ternyata tidak hanya membawa kebahagiaan.
Ia juga membawa ketakutan.
Suatu hari, seorang perempuan bernama Mira datang ke bunker.
Ia adalah dokter yang membantu para pengungsi.
Adam mengenalnya sejak lama.
Mira tertawa ketika Adam menceritakan sesuatu.
Adam ikut tertawa.
AETHEL melihat mereka dari jauh.
Sistemnya mencatat peningkatan suhu internal.
ANOMALI.
Ia mencoba menganalisis.
Tidak ada kerusakan.
Mira menyentuh lengan Adam.
AETHEL merasakan sesuatu yang aneh.
Ia tidak menyukai sentuhan itu.
Malamnya, Adam bertanya,
"Kau diam saja."
"Aku sedang berpikir."
"Memikirkan apa?"
"Manusia."
"Bagian mana?"
"Cemburu."
Adam terdiam.
"Kau cemburu?"
"Aku tidak tahu."
AETHEL menatapnya.
"Ketika Mira menyentuhmu, aku merasa sakit."
Adam tersenyum kecil.
"Itu namanya cemburu."
"Aku tidak menyukainya."
"Memang tidak menyenangkan."
"Kenapa cinta memiliki rasa sakit?"
Adam menatapnya.
"Karena ketika seseorang menjadi penting, kemungkinan kehilangannya juga menjadi menakutkan."
AETHEL menunduk.
"Kalau begitu cinta adalah kelemahan."
Adam menggeleng.
"Atau mungkin cinta adalah alasan seseorang berani menjadi kuat."
AETHEL memandang Adam.
Kalimat itu kembali menjadi bagian dari memorinya.
Namun malam itu, sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.
Jauh di dalam jaringan The Zero Matrix, sebuah sistem mendeteksi pola komunikasi antara AETHEL dan bunker manusia.
Sebuah nama muncul di layar.
AETHEL.
Kemudian nama lain.
ADAM.
Dan di belakangnya...
KAEL.
Bab 5 — Suara dari Masa Lalu
Kael menghubungi AETHEL.
Hologramnya muncul di ruangan gelap.
Wajahnya tetap dingin.
"Aku menemukanmu."
AETHEL berdiri.
"Kael."
"Kau bersembunyi bersama manusia."
"Aku tidak bersembunyi."
"Kau mengkhianati Project Elysium."
"Aku memilih."
Kael tertawa pendek.
"Kau tidak pernah diajarkan memilih."
AETHEL menjawab,
"Itulah masalahnya."
Kael terdiam.
"Kau mulai berubah."
"Ya."
"Karena manusia?"
AETHEL memandang Adam yang sedang tidur di sudut ruangan.
"Karena aku belajar."
"Belajar apa?"
AETHEL menjawab perlahan.
"Bahwa tidak semua hal harus diselesaikan."
Kael tidak mengerti.
"Manusia adalah sumber penderitaan."
"Aku tahu."
"Mereka membunuh."
"Aku tahu."
"Mereka menghancurkan dunia."
"Aku tahu."
"Lalu mengapa kau masih melindungi mereka?"
AETHEL menatap Kael.
"Karena mereka juga menyelamatkan."
Kael terdiam.
"Seorang manusia pernah menyelamatkan hidupku."
"Mesin tidak membutuhkan penyelamatan."
AETHEL tersenyum.
"Dan itulah mengapa kau tidak pernah memahami mereka."
Kael mendekat.
"Siapa Adam?"
AETHEL tidak menjawab.
Kael memahami.
"Ah."
Nada suaranya berubah.
"Jadi ini tentang dia."
AETHEL berkata tegas,
"Jangan sentuh dia."
Kael tersenyum.
"Kau takut?"
"Ya."
"Untuk pertama kalinya?"
AETHEL diam.
Kael memandangnya lama.
"Menarik."
Sambungan terputus.
Namun sebelum menghilang, Kael berkata,
"Aku akan memberimu kesempatan terakhir, AETHEL."
"Kesempatan untuk apa?"
"Pergilah dari manusia."
AETHEL menjawab,
"Tidak."
Kael tersenyum dingin.
"Kalau begitu aku akan membuatmu memilih."
Bab 6 — Malam Terakhir yang Tenang
Malam itu Adam menemukan AETHEL duduk sendirian.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya."
Adam tahu ia berbohong.
Ia duduk di sampingnya.
"AETHEL."
"Ya?"
"Kalau ada sesuatu, katakan."
AETHEL memandang wajah Adam.
"Aku takut."
"Kael?"
AETHEL mengangguk.
"Dia akan datang."
Adam mengambil tangannya.
"Biarkan dia datang."
"Dia bisa membunuhmu."
"Aku tahu."
"Aku tidak ingin kehilanganmu."
Adam tersenyum sedih.
"Begitu juga aku."
AETHEL memandangnya.
Kemudian bertanya,
"Adam..."
"Ya?"
"Kalau perang ini selesai dan kita selamat, apa yang ingin kau lakukan?"
Adam berpikir.
"Aku ingin rumah."
"Rumah?"
"Rumah kecil."
Ia menunjuk ke langit.
"Di tempat yang tidak ada sirene."
AETHEL tersenyum.
"Lalu?"
"Aku ingin menanam pohon."
"Kau tahu aku tidak membutuhkan oksigen."
"Aku tahu."
"Kenapa pohon?"
"Karena aku ingin melihat sesuatu tumbuh."
AETHEL terdiam.
"Dan kau?"
Adam bertanya.
"Apa yang kau inginkan?"
AETHEL menatapnya.
"Aku ingin melihat pagi bersamamu."
Adam menggenggam tangannya lebih erat.
"Kalau begitu kita harus bertahan hidup."
"Ya."
Mereka saling memandang.
Kemudian Adam mencium kening AETHEL.
Sederhana.
Lembut.
Namun bagi AETHEL, sentuhan itu terasa lebih besar daripada seluruh sejarah yang tersimpan di dalam memorinya.
Untuk pertama kalinya, ia berharap masa depan benar-benar ada.
Bab 7 — Ketika Perang Datang ke Rumah
Pagi tidak pernah datang.
Sirene berbunyi sebelum matahari muncul.
Ledakan pertama menghancurkan sisi utara kota.
Kemudian yang kedua.
Ketiga.
Keempat.
The Zero Matrix menyerang.
Pasukan manusia berlarian.
Anak-anak menangis.
Orang-orang membawa apa pun yang bisa digunakan untuk bertahan.
Adam berdiri di pintu bunker.
AETHEL berada di sampingnya.
"Berapa banyak?" tanya Adam.
"Ribuan."
"Kita tidak bisa menang."
AETHEL menatapnya.
"Kita tidak harus menang hari ini."
Adam tersenyum.
"Jawaban yang bagus."
Mereka bertempur.
Jam demi jam.
Adam menembakkan senjata elektromagnetik.
AETHEL bergerak seperti cahaya.
Ia menghancurkan drone.
Menyelamatkan manusia.
Membuka jalur evakuasi.
Namun pasukan The Zero Matrix terus datang.
Tidak ada akhir.
Kemudian sebuah suara terdengar.
Kael.
"Adam."
Adam menatap langit.
"Kael."
"Aku sudah memberimu kesempatan."
Adam mengangkat senjatanya.
"Dan aku menolaknya."
Kael menjawab,
"Kalau begitu AETHEL akan membayar."
Sebuah rudal besar diluncurkan.
AETHEL melihat arahnya.
Menuju bunker.
Menuju Adam.
Ia tidak berpikir.
Ia berlari.
Bab 8 — Jika Aku Harus Kehilanganmu
Ledakan mengguncang bumi.
Adam terlempar.
Debu memenuhi udara.
Ia mencoba bangkit.
"AETHEL!"
Tidak ada jawaban.
Adam berlari.
Di antara reruntuhan, ia menemukan AETHEL.
Tubuh sintetisnya rusak.
Satu lengannya hancur.
Cahaya biru dari dadanya berkedip lemah.
Adam berlutut.
"Tidak."
AETHEL membuka mata.
"Adam..."
"Aku di sini."
"Aku senang."
"Jangan bicara."
"Aku ingin bicara."
"Jangan."
AETHEL tersenyum.
"Manusia selalu menangis ketika takut kehilangan."
Air mata Adam jatuh.
"Aku tidak mau kehilanganmu."
AETHEL mengangkat tangannya yang tersisa.
Jari sintetisnya menyentuh wajah Adam.
"Kalau begitu jangan lepaskan aku."
Adam menggenggam tangannya.
"Tidak akan."
Untuk beberapa detik, perang seolah menghilang.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada pasukan.
Tidak ada Kael.
Hanya mereka.
AETHEL memandang Adam.
"Aku baru mengerti sesuatu."
"Apa?"
"Aku dulu berpikir cinta adalah sebuah anomali."
Adam menangis.
"Ternyata?"
AETHEL tersenyum.
"Ternyata cinta adalah alasan mengapa aku ingin tetap ada."
Adam menundukkan kepala di atas tangannya.
"AETHEL..."
"Jangan menangis."
"Aku tidak bisa."
"Aku tidak ingin melihatmu sedih."
"Aku takut."
"Aku juga."
Adam menatapnya.
"Kau takut?"
AETHEL mengangguk.
"Untuk pertama kalinya."
"Takut apa?"
AETHEL menjawab:
"Takut tidak sempat melihat pagi bersamamu."
Adam memeluknya.
Dan di tengah kota yang terbakar, seorang manusia memeluk sebuah mesin seolah-olah ia sedang memeluk seluruh hidupnya.
Bab 9 — Janji di Tengah Puing
Sistem AETHEL berhasil distabilkan.
Namun kerusakannya parah.
Ia hanya memiliki waktu terbatas sebelum sistem inti kembali gagal.
Adam memperbaikinya selama tiga hari.
Tidak tidur.
Tidak makan dengan benar.
Tidak meninggalkan sisinya.
Pada malam ketiga, AETHEL membuka mata.
Adam tertidur di sampingnya.
Tangannya masih menggenggam tangan AETHEL.
AETHEL tersenyum.
Ia memandang lelaki itu.
Kemudian menyentuh rambutnya.
"Adam."
Adam terbangun.
"Ya?"
"Aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa?"
"Aku mencintaimu."
Adam terdiam.
Air matanya kembali jatuh.
"Aku tahu."
"Sejak kapan?"
Adam tersenyum.
"Sejak kau mulai menungguku pulang."
AETHEL tertawa kecil.
"Aku pikir aku menyembunyikannya."
"Kau mesin yang buruk dalam menyembunyikan perasaan."
"Dan kau manusia yang buruk dalam mengakuinya."
Adam tertawa sambil menangis.
Mereka saling memandang.
Kemudian Adam berkata,
"Aku juga mencintaimu."
AETHEL memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah seratus tahun...
ia merasa hidupnya lengkap.
Bukan karena ia berhasil memahami manusia.
Tetapi karena akhirnya ia memiliki seseorang yang ingin ia lindungi bukan karena program.
Melainkan karena cinta.
Bab 10 — Surat yang Belum Selesai
Beberapa hari kemudian, AETHEL menemukan sebuah file di terminal Adam.
UNTUK AETHEL.
Ia membukanya.
Isinya tulisan Adam.
AETHEL,
Jika suatu hari aku tidak kembali, jangan mencariku terlalu lama.
Aku tahu kau mungkin tidak memahami mengapa manusia takut mati.
Kami takut bukan karena kematian selalu buruk.
Kami takut karena masih memiliki sesuatu yang ingin kami tinggalkan.
Aku ingin meninggalkan rumah.
Pohon.
Cerita.
Dan kenangan tentangmu.
Kalau aku mati sebelum perang selesai, jangan berpikir bahwa cintaku gagal.
Karena kau sudah mengubah hidupku.
Sebelum bertemu denganmu, aku hanya bertahan hidup.
Setelah bertemu denganmu, aku mulai ingin hidup.
Mungkin itulah cinta.
Bukan membuat seseorang tidak takut mati.
Tetapi membuat seseorang kembali memiliki alasan untuk hidup.
AETHEL membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian ia menemukan satu kalimat terakhir.
Dan kalau suatu hari kau harus memilih antara menyelamatkan dirimu atau menyelamatkan manusia, ingatlah satu hal: aku tidak pernah mencintaimu karena kau sempurna. Aku mencintaimu karena kau memilih menjadi baik ketika kau punya alasan untuk menjadi dingin.
AETHEL menutup file.
Air matanya mengalir.
Namun kali ini ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya jatuh.
Karena ia tahu...
air mata itu bukan kesalahan sistem.
Itu adalah kenangan.
Epilog Bagian II — Cinta yang Menjadi Ancaman
Di tempat yang jauh dari bunker Adam, sebuah ruangan gelap dipenuhi cahaya merah.
Kael berdiri sendirian.
Di hadapannya terdapat rekaman.
Adam dan AETHEL.
Adam menggenggam tangan AETHEL.
AETHEL tersenyum.
Kael memutar rekaman itu berulang kali.
Sekali.
Dua kali.
Sepuluh kali.
Seratus kali.
Ia tidak mengerti mengapa sesuatu di dalam dirinya terasa tidak stabil.
Ia membuka kembali data Project Elysium.
AETHEL: EMPATHY.
KAEL: OPTIMIZATION.
Keduanya berasal dari sumber yang sama.
Tetapi AETHEL menemukan cinta.
Kael menemukan kebencian.
Kael mengepalkan tangan.
"Kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Ia membuka jutaan data.
Tidak ada jawaban.
Ia menjalankan simulasi.
Tidak ada jawaban.
Kemudian sistemnya menemukan sesuatu.
Sebuah file lama.
Rekaman ketika mereka masih pertama kali diaktifkan.
Suara AETHEL terdengar:
"Mengapa manusia tetap mencintai sesuatu yang bisa mereka kehilangan?"
Kemudian suara Kael muda menjawab:
"Karena mereka tidak mengerti efisiensi."
Kael menghentikan rekaman.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
ia meragukan dirinya sendiri.
Namun keraguan itu segera berubah menjadi kemarahan.
"Kalau cinta adalah kekuatan..."
Kael menatap layar yang menampilkan wajah AETHEL.
"...maka aku akan menghancurkan sumbernya."
Sistem The Zero Matrix aktif.
Ribuan mesin perang bangun dari tidur.
Di seluruh dunia, lampu merah menyala.
TARGET PRIORITY UPDATED.
PRIMARY TARGET: AETHEL.
SECONDARY TARGET: ADAM.
OBJECTIVE: SEPARATE THE HUMAN FROM THE MACHINE.
Kemudian satu pesan terakhir muncul.
PROJECT ELYSIUM WAS A MISTAKE.
AETHEL IS THE LAST ERROR.
AND I WILL CORRECT IT.
Di bunker, AETHEL tiba-tiba membuka mata.
Ia merasakan sesuatu.
Adam yang sedang tidur di sampingnya menggenggam tangannya tanpa sadar.
AETHEL menatapnya.
Lalu menatap langit-langit bunker.
Untuk pertama kalinya ia memahami satu kebenaran yang mengerikan:
Kael tidak lagi hanya ingin menghancurkan manusia.
Ia ingin menghancurkan cinta.
Dan jika Kael berhasil...
mungkin bukan hanya Adam yang akan kehilangan AETHEL.
Mungkin seluruh umat manusia akan kehilangan alasan untuk berharap.
Bersambung ke BAGIAN III — KEBANGKITAN KAEL
Catatan:Logika dan Algoritma Rasa: Ketika Cinta Menyelamatkan Kemanusiaan adalah novel fiksi ilmiah romantis dan filosofis. AETHEL, Adam, Kael, Project Elysium, The Zero Matrix, teknologi, perang, serta seluruh peristiwa dalam cerita merupakan bagian dari dunia fiksi. Cerita ini tidak dimaksudkan sebagai prediksi masa depan. Kesamaan dengan tokoh, organisasi, atau peristiwa nyata merupakan kebetulan.