Para Pengkhianat

Menghitung... | 0 pembaca
Project Garuda Glass Bagian 4: Para Pengkhianat | Warkasa1919 Ilustrasi Project Garuda Glass Bagian 4: Para Pengkhianat | Warkasa1919

 

Project Garuda Glass — Bagian 4: Para Pengkhianat

Hujan turun sejak tengah malam.

Di luar jendela apartemennya, Arkapura terlihat seperti kota yang sedang menahan napas. Lampu gedung pencakar langit memantul di jalanan basah. Kendaraan bergerak perlahan, sementara papan reklame digital terus menampilkan wajah para pejabat dan pengusaha yang tersenyum meyakinkan.

Namun bagi Aruna, semua senyum itu malam ini terlihat berbeda.

Ia duduk sendirian di depan meja.

Di atasnya terdapat tiga benda.

Dokumen GG-00.

Sebuah foto lama.

Dan sebuah catatan pendek yang ditemukan di Vault 19.

Jangan cari siapa yang menerima uang. Cari siapa yang pertama meminta uang.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Selama ini Aruna berpikir bahwa pengkhianatan selalu dimulai dari uang.

Seseorang menerima pembayaran.

Seseorang menyembunyikan rekening.

Seseorang menjual informasi.

Seseorang membuka pintu bagi kepentingan asing.

Tetapi dokumen GG-00 menunjukkan sesuatu yang lebih rumit.

Mungkin pengkhianatan tidak dimulai ketika seseorang menerima uang.

Mungkin pengkhianatan dimulai ketika seseorang pertama kali mengatakan:

“Kita membutuhkan mereka.”

Aruna mengambil foto lama itu.

Lima orang berdiri di depan sebuah gedung tua.

Darma Wiratama.

Surya Adinata.

Rangga Pradipta.

Seorang mantan menteri perdagangan Arkapura.

Dan satu orang lagi.

Wajahnya sengaja dicoret menggunakan tinta hitam.

Aruna memperbesar foto tersebut.

“Siapa kamu?”

Tidak ada jawaban.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal.

JANGAN PERCAYA SURYA.

Aruna menatap layar.

Belum sempat ia mengetik balasan, pesan kedua masuk.

DAN JANGAN PERCAYA DARMA.

Lalu pesan ketiga.

KARENA KEDUANYA PERNAH BERBOHONG.

Aruna berdiri.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia segera menghubungi Bima.

“Bima, kamu masih di kantor?”

“Masih.”

“Ada yang mengirim pesan.”

“Pesan apa?”

“Katanya jangan percaya Surya. Jangan percaya Darma.”

Hening beberapa detik.

“Aruna,” kata Bima akhirnya, “kalau pesan itu sengaja dikirim kepada kita, berarti pengirimnya tahu kita sudah membuka GG-00.”

Aruna melihat jendela.

“Berarti mereka tahu kita menemukan Vault 19.”

“Bukan cuma itu.”

“Apa?”

“Mungkin mereka memang ingin kita menemukan Vault 19.”

Kalimat itu membuat Aruna terdiam.


Satu jam kemudian, Bima tiba di apartemen Aruna.

Mereka membuka kembali seluruh dokumen yang ditemukan di Vault 19.

Ada laporan keuangan.

Surat perjanjian.

Notulen rapat.

Peta jalur distribusi.

Dan beberapa dokumen yang sebagian besar telah disensor.

Namun satu berkas berbeda dari yang lain.

Berkas itu tidak memiliki logo.

Tidak ada nama lembaga.

Tidak ada tanggal.

Hanya satu kode:

GG-00 / ORIGIN

Bima membacanya perlahan.

“Origin berarti awal.”

Aruna mengangguk.

“Dan kita belum pernah melihat berkas ini sebelumnya.”

Bima membuka halaman pertama.

Isinya hanya satu kalimat.

Project Garuda bukan dibuat untuk menjual Arkapura.

Halaman berikutnya.

Project Garuda dibuat untuk menyelamatkan Arkapura dari ketergantungan.

Aruna mengerutkan dahi.

“Jadi Surya benar?”

“Belum tentu.”

Bima melanjutkan membaca.

Pada awalnya, Project Garuda ternyata merupakan sebuah rancangan kebijakan ekonomi fiktif yang bertujuan memperkuat industri domestik Arkapura.

Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Membangun industri strategis.

Memperkuat pelabuhan.

Mengembangkan teknologi.

Membuka akses pembiayaan bagi perusahaan lokal.

Dan membangun rantai pasok nasional.

Semuanya terlihat masuk akal.

Bahkan idealis.

Tetapi beberapa halaman kemudian, arah dokumen berubah.

Ada catatan tangan.

“Modal asing diperlukan sebagai jembatan.”

Di bawahnya terdapat tulisan lain.

“Jembatan akan menentukan siapa yang bisa menyeberang.”

Aruna menatap kalimat tersebut.

“Ini titik perubahan.”

Bima mengangguk.

“Sepertinya.”

Mereka terus membaca.

Pada tahap pertama, modal asing hanya dimaksudkan untuk membantu pembangunan.

Pada tahap kedua, investor mulai memperoleh hak tertentu.

Akses terhadap data.

Akses terhadap distribusi.

Hak membeli saham.

Hak mengelola pelabuhan tertentu.

Dan hak untuk menguasai sebagian jaringan logistik.

Tidak ada satu keputusan yang terlihat menghancurkan negara.

Semuanya tampak kecil.

Satu kontrak.

Satu konsesi.

Satu perusahaan patungan.

Satu perubahan aturan.

Satu pengecualian.

Namun jika semuanya disatukan...

Aruna merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tubuhnya.

“Ini bukan kudeta.”

Bima menatapnya.

“Bukan.”

“Ini pengambilalihan perlahan.”


Pagi berikutnya, Aruna menemui Surya.

Mereka bertemu di perpustakaan tua tempat pertama kali Surya membuka rahasia Project Garuda.

Pria itu terlihat lebih tua dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Atau mungkin Aruna baru sekarang melihat wajahnya dengan lebih jernih.

“Darma menghubungimu?” tanya Surya.

Aruna terdiam.

“Bagaimana Anda tahu?”

Surya tersenyum tipis.

“Karena Darma selalu muncul ketika masa lalu mulai dibuka.”

“Dan Anda?”

“Saya muncul ketika seseorang mulai mencari kebenaran.”

“Apakah Anda menciptakan Project Garuda?”

Surya tidak menjawab.

“Jawab saya.”

“Ya.”

Aruna membeku.

“Jadi Darma benar.”

“Dalam hal itu, ya.”

“Kenapa Anda mengatakan sebelumnya bahwa sistem itu dibajak?”

“Karena memang begitu.”

“Siapa yang membajaknya?”

Surya memandang rak buku di belakang Aruna.

“Orang-orang yang awalnya kami undang untuk membantu.”

“Siapa?”

Surya menghela napas.

“Investor.”

Aruna menggeleng.

“Investor tidak mungkin mengubah sebuah negara sendirian.”

“Benar.”

“Lalu siapa?”

Surya menatapnya.

“Orang-orang yang memberikan mereka kunci.”

Aruna merasakan dadanya sesak.

“Darma?”

“Bukan hanya Darma.”

“Rangga?”

“Bukan hanya Rangga.”

“Lalu siapa?”

Surya berdiri.

“Pertanyaanmu salah.”

“Kenapa?”

“Karena kamu masih mencari satu pengkhianat.”

Ia mendekati jendela.

“Padahal pengkhianatan terbesar tidak pernah dilakukan oleh satu orang.”


Siang itu, berita mengejutkan muncul.

Salah satu perusahaan besar Arkapura mengumumkan penjualan mayoritas sahamnya kepada perusahaan investasi internasional.

Media menyebut transaksi itu sebagai aksi korporasi strategis.

Pemerintah menyebutnya sebagai investasi.

Pasar menyambutnya dengan optimisme.

Namun Aruna melihat sesuatu yang lain.

Nama perusahaan pembeli berbeda.

Tetapi alamat kantornya sama dengan salah satu perusahaan yang terdapat dalam dokumen GG-00.

Ia mengirimkan informasi tersebut kepada Bima.

Balasan datang kurang dari satu menit.

Kamu harus lihat ini.

Sebuah file dikirim.

Bima telah melacak struktur kepemilikan perusahaan tersebut.

Perusahaan itu dimiliki perusahaan lain.

Perusahaan kedua dimiliki perusahaan ketiga.

Perusahaan ketiga terhubung dengan North Meridian Capital.

North Meridian memiliki hubungan dengan Asterion Holdings.

Dan Asterion...

Aruna berhenti membaca.

Nama pendirinya kembali muncul.

Darma Wiratama.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Tanggal pendirian Asterion tercatat jauh sebelum Project Garuda memasuki fase keduanya.

“Bima,” kata Aruna melalui telepon.

“Ya?”

“Kalau Darma mendirikan Asterion sebelum sistem ini berubah...”

“Berarti dia tahu lebih banyak dari yang kita kira.”

“Bahkan mungkin dia ikut merancang perubahan itu.”

Hening.

Kemudian Bima berkata,

“Atau seseorang menggunakan namanya.”

Aruna terdiam.

Kalimat itu mengingatkannya pada sesuatu.

Foto lama.

Lima orang.

Satu wajah dicoret.

Ia membuka kembali foto tersebut.

Kali ini ia memperhatikan latar belakang.

Di belakang lima orang itu terdapat sebuah papan kecil.

Tulisan di sana hampir tidak terlihat.

Forum Strategi Kemandirian Industri — Rapat Pendiri.

Tanggalnya adalah dua belas tahun lalu.

Aruna memperbesar foto.

Kemudian matanya tertuju pada orang kelima.

Wajah yang dicoret.

Ia melihat bentuk tubuhnya.

Cara berdirinya.

Jam tangan di pergelangan tangan.

Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu.

“Tidak mungkin...”

Bima bertanya melalui telepon.

“Apa?”

“Orang kelima ini...”

“Apa?”

“Bukan orang yang tidak dikenal.”

Aruna mengambil foto lain dari arsip lama.

Foto seorang pejabat yang pernah menjadi penasihat ekonomi Arkapura.

Pria itu telah lama pensiun dari dunia politik.

Tetapi wajahnya masih sering muncul dalam dokumentasi lama.

Aruna menaruh kedua foto berdampingan.

Sama.

Jam tangan yang sama.

Postur yang sama.

Dan bekas luka kecil di dagu yang sama.

“Namanya...”

Aruna menelan ludah.

“Mahendra Karsa.”

Bima terdiam.

“Siapa dia?”

“Orang yang selama ini disebut sebagai salah satu arsitek kebangkitan industri Arkapura.”


Malamnya, Aruna mencari semua arsip tentang Mahendra Karsa.

Hampir semuanya positif.

Ia dikenal sebagai tokoh yang mendorong industrialisasi.

Ia pernah menjadi penasihat pemerintah.

Ia pernah memimpin lembaga ekonomi nasional.

Ia sering berbicara tentang pentingnya kemandirian.

Dalam berbagai pidatonya, ia selalu mengucapkan kalimat yang sama:

“Negeri yang kuat adalah negeri yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri.”

Aruna menatap layar.

Ironis.

Semakin ia mencari seseorang yang mungkin mengkhianati Arkapura, semakin banyak ia menemukan sosok yang selama bertahun-tahun justru dianggap sebagai penyelamat.

Pukul 23.47, sebuah email masuk.

Tidak ada alamat pengirim.

Subjeknya:

GG-00 / KUNCI TERAKHIR

Hanya ada satu lampiran.

Sebuah rekaman video.

Aruna menekan tombol putar.

Layar memperlihatkan ruangan gelap.

Darma duduk di depan kamera.

Wajahnya terlihat jauh lebih muda.

Rekaman itu jelas dibuat bertahun-tahun lalu.

Darma berbicara pelan.

“Jika rekaman ini ditemukan, berarti Project Garuda sudah gagal.”

Aruna menahan napas.

Darma melanjutkan.

“Surya akan mengatakan bahwa sistem itu dicuri.”

Ia berhenti.

“Surya tidak sepenuhnya salah.”

Kemudian wajahnya berubah serius.

“Tetapi dia juga tidak sepenuhnya jujur.”

Aruna mendekat ke layar.

“Karena orang pertama yang membawa uang dari luar...”

Darma menatap kamera.

“...bukan Rangga.”

“Bukan saya.”

“Bukan Surya.”

Ia mengambil sebuah dokumen.

“Orang pertama yang meminta uang itu adalah seseorang yang dipercaya menjaga kepentingan Arkapura.”

Rekaman tiba-tiba terganggu.

Layar menjadi hitam.

Beberapa detik kemudian muncul satu kalimat:

CARI RUANG RAPAT NOL.

Aruna segera berdiri.

Bima yang berada di ujung telepon bertanya,

“Ruang Rapat Nol?”

Aruna mengangguk.

“Kalau dokumen GG-00 adalah awal Project Garuda...”

“Lalu?”

“Berarti sebelum GG-00 ada sesuatu yang lebih tua.”

“Di mana?”

Aruna melihat arsip lama parlemen.

Kemudian ia menemukan denah gedung lama.

Ada sebuah ruangan yang sudah tidak tercatat dalam denah baru.

RUANG RAPAT 0.

Lokasinya berada tepat di bawah gedung parlemen lama.

Tempat yang secara resmi dinyatakan tidak lagi digunakan.

Aruna menatap Bima.

“Kita ke sana malam ini.”

“Aruna, ini bisa berbahaya.”

“Aku tahu.”

“Kita tidak tahu siapa yang menunggu.”

Aruna memasukkan dokumen GG-00 ke dalam tas.

“Justru itu masalahnya.”

Ia mematikan lampu.

Di luar, kota Arkapura masih hidup.

Orang-orang berjalan.

Toko-toko buka.

Mobil melintas.

Pabrik-pabrik bekerja.

Bursa terus bergerak.

Negeri itu terlihat baik-baik saja.

Tetapi di bawah permukaannya, sebuah sistem lama sedang membuka kembali rahasianya.

Dan untuk pertama kalinya Aruna memahami makna sebenarnya dari kalimat yang tertulis di dokumen GG-00:

Sebuah negeri tidak selalu dijual dalam satu transaksi.

Kadang-kadang ia dijual sedikit demi sedikit, sampai rakyatnya lupa bahwa sesuatu pernah menjadi milik mereka.


Ketika Aruna dan Bima tiba di gedung parlemen lama, hujan kembali turun.

Lorong bawah tanah gelap.

Mereka menemukan pintu besi dengan angka:

0

Bima memasukkan kunci dari Vault 19.

Klik.

Pintu terbuka.

Di dalam ruangan terdapat meja panjang.

Lima kursi.

Lima nama.

Darma.

Surya.

Rangga.

Mahendra Karsa.

Dan satu kursi terakhir.

Tidak ada nama.

Hanya sebuah simbol.

Garuda dari kaca.

Di atas meja terdapat sebuah amplop merah.

Aruna membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Tulisan tangan.

Kalian mencari pengkhianat pertama.

Kalian salah.

Pengkhianat pertama sudah mati.

Tetapi orang yang mengajarinya masih hidup.

Bima memandang Aruna.

“Siapa yang menulis ini?”

Aruna tidak menjawab.

Karena dari sudut ruangan terdengar suara langkah kaki.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Kemudian suara seseorang berkata:

“Kalau kalian ingin tahu siapa yang memulai semuanya...”

Siluet seorang pria muncul di balik pintu.

“...kalian harus bertanya kepada orang yang selama ini kalian anggap sebagai penyelamat.”

Lampu ruangan menyala.

Aruna melihat wajah pria itu.

Dan untuk beberapa detik, ia tidak mampu berkata apa-apa.

Karena orang yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang selama bertahun-tahun dikenal seluruh Arkapura sebagai simbol perjuangan ekonomi nasional.

Mahendra Karsa.

Pria itu tersenyum.

“Selamat datang di ruang yang seharusnya tidak pernah kalian temukan.”

Pintu besi di belakang mereka tertutup.

BRAK!

Dan dari balik dinding terdengar suara mekanisme pengunci.

Aruna sadar.

Mereka bukan lagi sedang menyelidiki Project Garuda.

Mereka telah masuk ke dalamnya.

Bersambung ke Bagian 5 — Tangan yang Tidak Terlihat.


Disclaimer

Cerita Project Garuda Glass merupakan karya fiksi thriller politik-ekonomi. Negeri Arkapura, tokoh, organisasi, perusahaan, dokumen, dan rangkaian peristiwa dalam cerita adalah bagian dari dunia fiktif dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap individu, perusahaan, lembaga, atau negara nyata. Cerita ini dibuat sebagai karya sastra untuk hiburan sekaligus refleksi mengenai kekuasaan, ekonomi, integritas, dan kemandirian sebuah bangsa.

Posting Komentar
● TOP 9 POPULAR POSTS
CORE: ACTIVE
Memuat 9 artikel terpopuler...
AI PROMO COPIED! ⚡

Warkasa1919 Premium

Dukungan Anda membantu kami menyajikan konten digital & layanan website berkualitas.

Mungkin Nanti
ALL
NEWS
TECH

Memuat...