Project Garuda Glass — Bagian 3: Dokumen GG-00
Serial Fiksi Thriller Politik-Ekonomi Warkasa1919.com
Pagi datang tanpa membawa jawaban.
Aruna justru merasa pertanyaan di kepalanya semakin banyak.
Siapa pengkhianat pertama?
Mengapa Darma tercatat sebagai pendiri Asterion Holdings?
Dan siapa orang yang selama ini berada di atas semuanya?
Ia mencetak foto lima orang dari dokumen GG-00.
Empat wajah disamarkan.
Satu wajah terlihat jelas.
Rangga Pradipta.
Pengusaha yang mereka lihat keluar dari Gudang Nomor 19.
Tetapi kali ini Aruna tidak terburu-buru menyimpulkan.
Ia sudah belajar satu hal:
Dalam perang bayangan, orang yang terlihat paling bersalah belum tentu merupakan orang yang paling berkuasa.
Arsip yang Tidak Pernah Hilang
Bima datang membawa kabar.
"Aku menemukan sesuatu."
Aruna menoleh.
"Apa?"
"Arsip lama."
"Arsip apa?"
"Dokumen pendirian sebuah lembaga ekonomi yang dibentuk dua belas tahun lalu."
Bima menyerahkan map.
Nama lembaga tersebut:
Forum Strategi Kemandirian Industri Arkapura.
Aruna membaca daftar pendirinya.
Darma Wiratama.
Rangga Pradipta.
Beberapa akademisi.
Beberapa pengusaha.
Dan satu nama yang dicetak tebal.
Surya Adinata.
Aruna mengernyit.
"Siapa dia?"
Bima menjawab:
"Ekonom."
"Terkenal?"
"Dulu."
Bima membuka laptop.
"Dia pernah menjadi penasihat ekonomi pemerintah."
Aruna membaca profilnya.
Surya Adinata dikenal sebagai arsitek kebijakan industrialisasi Arkapura pada masa awal.
Ia pernah menulis banyak artikel mengenai pentingnya kedaulatan ekonomi.
Namun dua belas tahun lalu, ia menghilang dari kehidupan publik.
Tidak ada skandal.
Tidak ada kasus hukum.
Tidak ada konferensi pers.
Ia hanya berhenti muncul.
"Kenapa orang seperti ini menghilang?" tanya Aruna.
Bima menjawab:
"Mungkin karena dia sudah tidak ingin ditemukan."
Pertemuan di Perpustakaan Tua
Alamat terakhir Surya ditemukan di sebuah perpustakaan tua di pinggir Kota Banyuarta.
Bangunannya hampir roboh.
Rak-rak kayu dipenuhi buku lama.
Aruna bertanya kepada penjaga.
"Pak, apakah Anda mengenal Surya Adinata?"
Lelaki tua itu memandang Aruna lama.
Kemudian menunjuk sebuah ruangan.
"Dia kadang datang."
"Kapan?"
"Kalau hujan."
Aruna menatap keluar.
Langit mendung.
Mereka menunggu hampir satu jam.
Kemudian pintu terbuka.
Seorang lelaki tua masuk membawa payung hitam.
Aruna langsung mengenalinya dari foto.
Surya Adinata.
Ia tidak terkejut ketika melihat Aruna.
"Kalian akhirnya datang."
Aruna terdiam.
"Anda tahu kami?"
Surya tersenyum.
"Darma bilang suatu hari seseorang akan datang membawa pertanyaan."
"Darma?"
"Dia tidak pernah benar-benar meninggalkan proyek itu."
Aruna duduk.
"Apa Project Garuda Glass?"
Surya tidak langsung menjawab.
Ia berjalan menuju rak buku.
Mengambil sebuah buku ekonomi lama.
Kemudian berkata:
"Awalnya bukan operasi untuk menghancurkan industri."
"Terus?"
"Awalnya adalah proyek untuk melindungi industri."
Aruna mengerutkan kening.
"Melindungi?"
Surya mengangguk.
"Arkapura dulu menghadapi ancaman besar. Perusahaan lokal kalah modal. Teknologi tertinggal. Produk asing membanjiri pasar."
Ia membuka buku.
"Para pengusaha dan pemerintah kemudian membuat sebuah strategi."
"Garuda Glass?"
"Belum."
"Nama awalnya?"
Surya menatapnya.
"Proyek Garuda."
Dari Perlindungan Menjadi Senjata
Menurut Surya, Proyek Garuda pada awalnya bertujuan membangun industri nasional yang mampu bersaing secara global.
Ada pusat riset.
Ada program pembiayaan.
Ada perlindungan sementara untuk perusahaan lokal.
Ada kerja sama teknologi.
Dan ada strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Namun kemudian terjadi perubahan.
Perusahaan asing mulai menawarkan investasi besar.
Sebagian pengusaha melihat peluang.
Sebagian pejabat melihat keuntungan.
Strategi pertahanan ekonomi perlahan berubah menjadi permainan kepentingan.
"Siapa yang mengubahnya?" tanya Aruna.
Surya diam.
"Anda?"
Surya menatapnya.
"Saya salah satu orang yang terlambat menyadarinya."
"Siapa orang pertama yang mengubah proyek itu?"
Surya menarik napas.
"Rangga."
Aruna terdiam.
"Rangga Pradipta?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena dia menyadari sesuatu yang tidak dipahami orang lain."
Surya berjalan menuju jendela.
"Bahwa menguasai perusahaan tidak selalu diperlukan untuk menguasai industri."
Aruna mendengarkan.
"Anda cukup mengendalikan biaya."
"Bagaimana?"
"Pajak, distribusi, pembiayaan, bahan baku, logistik, akses pasar."
Surya berbalik.
"Jika semua titik itu dapat dipengaruhi, perusahaan bisa dipaksa mengikuti permainan."
Aruna mulai memahami.
Bukan pabrik yang menjadi sasaran pertama.
Melainkan ekosistem di sekelilingnya.
Lahirnya Garuda Glass
"Kenapa namanya Garuda Glass?" tanya Aruna.
Surya tersenyum pahit.
"Karena kaca terlihat kuat."
Ia berhenti.
"Tetapi sebenarnya rapuh."
Aruna merinding.
"Industri nasional dibuat seperti kaca?"
"Ya."
"Dibuat tampak kokoh dari luar, tetapi bisa pecah jika tekanan datang dari banyak arah."
Surya kemudian mengeluarkan dokumen tua.
Tanggalnya dua belas tahun lalu.
Di bagian atas tertulis:
GARUDA GLASS — ECONOMIC INFLUENCE FRAMEWORK
Aruna membacanya.
Dokumen tersebut menjelaskan bagaimana pengaruh ekonomi dapat dibangun tanpa mengambil alih pemerintahan secara langsung.
Cukup dengan membangun jaringan.
Perusahaan investasi.
Media.
Konsultan.
Distributor.
Lembaga riset.
Perusahaan logistik.
Dan orang-orang yang memiliki akses terhadap kebijakan.
Aruna menatap Surya.
"Ini bukan sekadar bisnis."
"Benar."
"Ini politik?"
Surya menggeleng.
"Lebih besar."
"Apa?"
"Ini tentang ketergantungan."
Nama yang Hilang
Aruna membalik halaman terakhir.
Terdapat daftar lima orang.
Rangga Pradipta.
Darma Wiratama.
Surya Adinata.
Dua nama lainnya dicoret.
"Siapa dua orang ini?"
Surya tidak menjawab.
Aruna melihat bekas tulisan.
Nama pertama masih dapat dibaca sebagian.
A... S...
Nama kedua hanya tersisa:
M...
"Siapa mereka?"
Surya menatap lantai.
"Orang yang pertama kali membawa uang."
"Uang dari mana?"
"Dari luar."
Aruna terdiam.
"Berapa?"
Surya menggeleng.
"Bukan jumlahnya yang penting."
"Lalu?"
"Komitmennya."
Ia menjelaskan bahwa uang tersebut pada awalnya diberikan sebagai investasi untuk membantu perusahaan nasional melakukan ekspansi.
Namun sebagian dana kemudian digunakan untuk membeli perusahaan-perusahaan yang sedang mengalami kesulitan.
Setelah itu perusahaan-perusahaan tersebut diarahkan ke struktur kepemilikan yang lebih kompleks.
Hingga akhirnya...
pemilik sebenarnya tidak terlihat.
Aruna bertanya:
"Apakah Darma ikut?"
Surya menghela napas.
"Ya."
"Rangga?"
"Ya."
"Anda?"
Surya menatap Aruna.
"Saya keluar."
"Kenapa?"
"Karena saya sadar proyek itu sudah berubah."
Pengkhianat Pertama
Aruna berdiri.
"Siapa pengkhianat pertama?"
Surya tidak menjawab.
Ia justru memberikan sebuah kunci kecil.
"Ini milik Darma."
"Untuk apa?"
"Brankas."
"Di mana?"
Surya menunjuk sebuah foto lama.
Foto gedung parlemen Arkapura.
"Di bawah gedung itu terdapat arsip lama."
Aruna menatapnya.
"Anda serius?"
"Sangat."
"Kenapa Darma tidak mengambilnya sendiri?"
"Karena dia diawasi."
"Siapa yang mengawasinya?"
Surya tersenyum.
"Itulah pertanyaan yang seharusnya Anda tanyakan sejak awal."
Brankas Nomor 19
Malam berikutnya Aruna dan Bima menyusup ke ruang arsip lama.
Bukan secara ilegal.
Mereka mendapat akses melalui seorang mantan pegawai yang bersedia membantu membuka arsip yang secara resmi telah dinyatakan tidak aktif.
Di lantai bawah, mereka menemukan deretan brankas.
Nomor 1.
Nomor 2.
Nomor 3.
Sampai akhirnya...
19.
Aruna memasukkan kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Di dalamnya terdapat satu map merah.
Sebuah foto.
Dan sebuah rekaman suara.
Aruna menyalakan alat pemutar.
Suara Darma terdengar.
"Jika rekaman ini ditemukan, berarti semuanya sudah terlambat."
Aruna dan Bima saling memandang.
Suara Darma berlanjut.
"Saya ikut membangun sistem ini."
Hening.
"Saya pikir kami sedang menyelamatkan industri nasional."
Aruna menahan napas.
"Tetapi kami tidak sadar bahwa orang yang memberi uang tidak pernah benar-benar ingin menyelamatkan Arkapura."
Rekaman berhenti beberapa detik.
Kemudian suara Darma kembali.
"Mereka ingin memastikan Arkapura tidak pernah mampu berdiri sendiri."
Bima berbisik:
"Jadi Darma memang terlibat."
Aruna mengangguk.
Tetapi rekaman belum selesai.
Suara Darma terdengar lebih pelan.
"Namun Rangga bukan orang yang paling berbahaya."
Aruna membeku.
"Orang yang paling berbahaya adalah seseorang yang sampai hari ini masih dianggap sebagai penyelamat industri nasional."
Rekaman berakhir.
Foto Terakhir
Aruna mengambil foto di dalam brankas.
Lima orang berdiri di sebuah ruang rapat.
Rangga.
Darma.
Surya.
Dan dua orang lainnya.
Wajah keempat terlihat samar.
Wajah kelima ditutup bayangan.
Namun di meja terdapat sebuah dokumen.
Di atasnya ada tanda tangan.
Aruna memperbesar foto.
Ia melihat nama tersebut.
Kemudian wajahnya berubah.
Bima melihatnya.
"Siapa?"
Aruna tidak menjawab.
Ia hanya menyerahkan foto itu.
Bima membacanya.
Menteri Perdagangan Arkapura pada masa tersebut.
Tetapi itu bukan bagian yang paling mengejutkan.
Di balik foto terdapat tulisan tangan:
"Jangan cari siapa yang menerima uang."
"Cari siapa yang pertama kali meminta uang."
Aruna menatap Bima.
Untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa mereka mungkin selama ini mengejar akibat.
Bukan penyebab.
Dan seseorang telah mengatur agar seluruh penyelidikan selalu berhenti pada orang-orang lapis kedua.
Rangga.
Darma.
Perusahaan asing.
Distributor.
Oknum aparat.
Semua mungkin hanya bagian dari rantai.
Tetapi siapa yang menciptakan rantai itu?
Telepon Terakhir
Pukul 01.46.
Telepon Aruna berdering.
Kali ini nomor Darma.
"Hallo?"
Suara Darma terdengar terburu-buru.
"Jangan percaya Surya."
Aruna terdiam.
"Maksud Anda?"
"Dia tidak menceritakan semuanya."
"Apa yang dia sembunyikan?"
Darma menarik napas.
"Dia bukan orang yang meninggalkan Project Garuda."
Aruna merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Lalu?"
"Dia adalah orang yang menciptakannya."
Klik.
Telepon terputus.
Aruna menatap Bima.
"Surya?"
Bima mengangguk pelan.
"Berarti kita kembali ke titik nol."
Aruna menggeleng.
"Tidak."
Ia mengambil foto lima orang tersebut.
"Kita baru saja menemukan titik awal."
Di luar gedung, suara sirene terdengar.
Kemudian listrik seluruh kawasan padam.
Dalam kegelapan, ponsel Aruna menyala.
Satu pesan masuk.
PHASE III HAS BEGUN.
Pesan kedua menyusul.
THE FIRST TRAITOR IS NOT THE ONE YOU THINK.
Kemudian pesan terakhir:
AND HE IS STILL ALIVE.
Aruna menatap layar.
Malam itu ia menyadari bahwa Project Garuda Glass bukan sekadar konspirasi ekonomi.
Ada sejarah yang sengaja dikubur.
Ada orang-orang yang selama bertahun-tahun memainkan peran sebagai pahlawan.
Dan ada seseorang yang mungkin telah menunggu lebih dari satu dekade untuk menyelesaikan rencana terakhirnya.
Bagian berikutnya akan menentukan siapa yang benar-benar mengkhianati negeri Arkapura—dan siapa yang selama ini hanya dijadikan kambing hitam.
Bersambung — Bagian 4: Para Pengkhianat
Disclaimer: Cerita ini sepenuhnya merupakan karya fiksi thriller politik-ekonomi untuk hiburan, sastra, dan refleksi. Negara, tokoh, perusahaan, pejabat, organisasi, proyek, peristiwa, serta jaringan yang muncul dalam cerita merupakan rekaan. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menuduh individu, perusahaan, pejabat, aparat, atau negara tertentu melakukan tindakan sebagaimana digambarkan dalam narasi.
