Project Garuda Glass — Bagian 5: Tangan yang Tidak Terlihat
Pintu besi itu tertutup di belakang Aruna dan Bima.
Suara penguncinya terdengar seperti palu yang menghantam peti mati.
BRAK!
Mahendra Karsa berdiri beberapa meter di depan mereka.
Pria tua itu tidak membawa senjata.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada ancaman yang terlihat.
Justru itulah yang membuat suasana semakin menakutkan.
Ia hanya berdiri dengan jas abu-abu, kedua tangannya berada di belakang punggung.
Seperti seseorang yang sudah mengetahui bagaimana percakapan ini akan berakhir.
Aruna menatapnya.
“Buka pintunya.”
Mahendra tersenyum.
“Kalau saya ingin menyakiti kalian, kalian tidak akan pernah sampai ke ruangan ini.”
“Lalu kenapa kami dikunci?”
“Supaya tidak ada orang lain yang masuk.”
Bima melangkah maju.
“Siapa Anda sebenarnya?”
Mahendra menatapnya.
“Pertanyaan yang menarik.”
Ia berjalan menuju meja panjang di tengah ruangan.
Di atas meja terdapat lima kursi.
Empat nama.
Darma.
Surya.
Rangga.
Mahendra.
Dan satu kursi tanpa nama.
Mahendra menyentuh kursi terakhir itu.
“Ini kursi yang paling penting.”
Aruna memperhatikan simbol Garuda dari kaca yang terukir di sandarannya.
“Siapa yang duduk di sini?”
Mahendra tidak menjawab.
Ia membuka laci meja.
Sebuah map hitam dikeluarkan.
Di sampulnya hanya terdapat tulisan:
GG-00 — ORIGIN
Aruna terdiam.
“Dokumen itu seharusnya ada di Vault 19.”
“Yang kalian temukan di sana hanyalah salinannya.”
Mahendra meletakkan map itu di meja.
“Dokumen aslinya ada di sini.”
Aruna membuka halaman pertama.
Berbeda dengan dokumen yang mereka temukan sebelumnya, berkas ini jauh lebih tua.
Kertasnya menguning.
Beberapa halaman bahkan sudah rapuh.
Tetapi satu hal membuat Aruna terpaku.
Nama Project Garuda ternyata belum digunakan ketika dokumen tersebut dibuat.
Judul aslinya:
PROGRAM KEMANDIRIAN ARKAPURA.
“Jadi Project Garuda bukan nama pertama,” kata Bima.
“Bukan,” jawab Mahendra.
“Lalu kenapa berubah?”
Mahendra menarik kursi.
Ia duduk.
“Karena manusia sering memberi nama indah pada sesuatu yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang berbeda.”
Aruna membalik halaman.
Di sana terdapat rancangan industri nasional.
Pabrik.
Pelabuhan.
Energi.
Pertanian.
Teknologi.
Pendidikan.
Semuanya saling terhubung.
Pada awalnya, program tersebut terlihat seperti impian besar.
Arkapura ingin berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Namun kemudian muncul halaman yang diberi tanda merah.
SUMBER PEMBIAYAAN EKSTERNAL.
Bima membaca dengan cepat.
“Di sinilah semuanya dimulai.”
Mahendra mengangguk.
“Tidak.”
Aruna menatapnya.
“Bukan?”
“Kesalahan kalian adalah menganggap uang sebagai awal.”
Ia menunjuk halaman tersebut.
“Uang hanya alat.”
“Lalu apa awalnya?”
Mahendra menjawab pelan.
“Ketakutan.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Mahendra menjelaskan bahwa pada masa awal Program Kemandirian Arkapura, pemerintah menghadapi persoalan besar.
Industri membutuhkan modal.
Pembangunan membutuhkan teknologi.
Pelabuhan membutuhkan investasi.
Energi membutuhkan peralatan.
Sementara anggaran negara terbatas.
Para pengambil keputusan berada di persimpangan.
Mereka bisa membangun perlahan dengan kemampuan sendiri.
Atau menggunakan modal luar untuk mempercepat pembangunan.
Pilihan kedua terlihat lebih mudah.
Dan lebih cepat.
“Siapa yang pertama menawarkan uang?” tanya Aruna.
Mahendra menatapnya.
“Saya.”
Bima terkejut.
“Anda?”
Mahendra mengangguk.
“Saya yang pertama meminta pemerintah mencari modal asing.”
Aruna merasakan semua potongan teka-teki mulai bergerak.
“Jadi Anda pengkhianat pertama?”
Mahendra tersenyum pahit.
“Kalau sejarah membutuhkan satu nama, mungkin saya.”
Ia membuka halaman lain.
“Tetapi saya tidak pernah bermaksud menjual Arkapura.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Setelah uang masuk, kekuasaan ikut masuk.”
Investasi pertama berjalan baik.
Pabrik dibangun.
Pelabuhan diperluas.
Lapangan pekerjaan meningkat.
Teknologi baru masuk.
Pemerintah merasa keputusan mereka benar.
Kemudian datang investasi kedua.
Ketiga.
Keempat.
Setiap investasi membawa syarat kecil.
Hak pengelolaan.
Hak distribusi.
Hak pembelian saham.
Konsesi.
Perlindungan tertentu.
Semua terlihat masuk akal jika dilihat sendiri-sendiri.
Namun jika disatukan...
Muncullah sebuah jaringan.
Bukan jaringan yang terlihat.
Bukan pasukan.
Bukan pemerintahan bayangan.
Tetapi jaringan kepemilikan, utang, distribusi, teknologi, dan informasi.
Aruna membuka sebuah diagram.
Di tengahnya terdapat tulisan:
GARUDA GLASS.
“Siapa yang membuat sistem ini?”
Mahendra memandang diagram itu.
“Kami semua.”
“Darma?”
“Ya.”
“Surya?”
“Ya.”
“Rangga?”
“Ya.”
“Dan Anda?”
“Terutama saya.”
Aruna menghela napas.
“Kalau begitu Darma benar. Anda memang ada di awal.”
“Darma benar tentang sebagian hal.”
“Sebagian?”
Mahendra menatapnya.
“Darma juga membuat kesalahan.”
Ponsel Aruna tiba-tiba bergetar.
Satu pesan masuk.
JANGAN PERCAYA MAHENDRA.
Aruna menunjukkan layar kepada Bima.
Mahendra melihatnya.
Ia justru tertawa kecil.
“Dia masih melakukan itu.”
“Siapa?”
“Darma.”
Aruna terkejut.
“Darma masih hidup?”
Mahendra tidak langsung menjawab.
“Orang seperti Darma tidak mudah menghilang.”
Bima bertanya,
“Di mana dia?”
Mahendra menunjuk layar komputer tua di sudut ruangan.
“Di tempat yang seharusnya kalian cari sejak awal.”
Layar menyala.
Sebuah rekaman muncul.
Darma duduk sendirian di sebuah ruangan.
“Aruna,” katanya.
“Kalau kamu melihat rekaman ini, berarti Mahendra sudah membuka Ruang Rapat 0.”
Aruna mendekati layar.
Darma melanjutkan.
“Jangan percaya siapa pun di ruangan itu.”
Rekaman berhenti.
Kemudian muncul rekaman lain.
Surya.
Lalu Rangga.
Kemudian Mahendra.
Keempat orang tersebut ternyata pernah membuat rekaman terpisah.
Mereka semua mengatakan hal yang hampir sama.
Jangan percaya yang lain.
Aruna mundur beberapa langkah.
“Ini gila.”
Bima memandangnya.
“Tidak.”
“Apa?”
“Justru ini yang paling masuk akal.”
Ia menunjuk layar.
“Mereka semua mungkin berbohong.”
Mahendra berdiri.
“Sekarang kalian mulai memahami.”
Ia membuka laci terakhir.
Di dalamnya terdapat sebuah perangkat penyimpanan kecil.
“Ini adalah bagian terakhir dari GG-00.”
Aruna mengambilnya.
“Apa isinya?”
“Nama.”
“Nama siapa?”
“Orang-orang yang mengambil keputusan.”
Aruna membuka file tersebut.
Daftarnya panjang.
Puluhan nama.
Pejabat.
Pengusaha.
Konsultan.
Bankir.
Perantara.
Akademisi.
Direktur perusahaan.
Tetapi di bagian paling bawah terdapat satu kategori yang berbeda.
PEMEGANG KENDALI AKHIR.
Di bawahnya tidak ada nama.
Hanya sebuah kode:
THE HAND.
Aruna menatap layar.
“Siapa The Hand?”
Mahendra menggeleng.
“Saya tidak tahu.”
Aruna terdiam.
“Bagaimana mungkin Anda tidak tahu?”
“Karena itulah kesalahan terbesar kami.”
Ia menarik napas.
“Kami membangun sebuah sistem yang semakin lama semakin kompleks. Kami tahu siapa yang menerima uang. Kami tahu siapa yang menandatangani kontrak. Kami tahu siapa yang menjalankan perusahaan.”
Mahendra menunjuk kode tersebut.
“Tetapi kami tidak pernah tahu siapa yang berada di atas semuanya.”
Bima menatapnya.
“Jadi ada organisasi?”
“Belum tentu.”
“Individu?”
“Belum tentu.”
“Lalu apa?”
Mahendra menjawab:
“Bisa jadi hanya sebuah jaringan kepentingan yang tidak membutuhkan satu pemimpin.”
Kalimat itu membuat Aruna terdiam.
Ternyata musuh terbesar bukan seseorang.
Mungkin sebuah sistem.
Sebuah sistem yang mampu terus hidup meskipun orang-orang di dalamnya berganti.
Tiba-tiba terdengar alarm.
Mahendra menoleh.
“Sudah terlambat.”
“Apa?”
“Orang-orang di luar sudah menemukan kita.”
Lampu ruangan berkedip.
Bima berlari menuju pintu.
Dari balik dinding terdengar suara langkah kaki.
Banyak.
Aruna memasukkan perangkat penyimpanan ke sakunya.
Mahendra mengambil dokumen GG-00.
“Kita harus pergi.”
“Lewat mana?”
Mahendra membuka panel tersembunyi di belakang rak.
Sebuah lorong gelap muncul.
Mereka berlari.
Lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan bawah tanah yang jauh lebih tua.
Di dinding terdapat tulisan yang hampir pudar:
NEGARA BUKAN MILIK PEMERINTAH.
Aruna berhenti.
Di bawahnya terdapat kalimat lain:
NEGARA BUKAN MILIK PENGUSAHA.
Dan kalimat terakhir:
NEGARA ADALAH MILIK MEREKA YANG MENJAGANYA.
Aruna memandang Mahendra.
“Siapa yang menulis ini?”
Mahendra tersenyum.
“Orang-orang yang masih percaya.”
“Lalu kenapa semuanya gagal?”
Mahendra menatap dinding.
“Karena percaya saja tidak cukup.”
Ia menunjuk kepala Aruna.
“Negara juga membutuhkan warga yang mau bertanya.”
Mereka keluar melalui terowongan tua yang mengarah ke sebuah gudang kosong.
Hujan masih turun.
Bima segera menghubungi beberapa sumber terpercaya untuk mengamankan salinan dokumen.
Aruna membuka perangkat penyimpanan.
Namun tiba-tiba seluruh file terhapus.
FILE DELETED.
Aruna membeku.
“Tidak!”
Bima memeriksa perangkat.
“Mustahil.”
Mahendra melihat layar.
“Bukan mustahil.”
“Ada seseorang yang mengendalikan perangkat ini.”
“Siapa?”
Mahendra tidak menjawab.
Ponsel Aruna kembali bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Tidak ada nomor.
Tidak ada alamat.
Hanya tulisan:
KALIAN TERLALU LAMBAT.
Pesan kedua muncul.
PROJECT GARUDA SUDAH BERAKHIR.
Kemudian pesan ketiga.
TETAPI PROJECT GLASS BARU DIMULAI.
Aruna menatap layar.
Bima berkata pelan,
“Ini bukan akhir.”
Aruna menggeleng.
“Bukan.”
Ia melihat ke arah kota.
Lampu-lampu Arkapura masih menyala.
Orang-orang masih bekerja.
Pedagang masih membuka toko.
Anak-anak masih berangkat sekolah.
Pabrik-pabrik masih mengeluarkan asap.
Kapal-kapal masih masuk ke pelabuhan.
Tidak ada yang mengetahui apa yang baru saja mereka temukan.
Dan mungkin itulah bagian paling berbahaya.
Sebuah sistem tidak harus menguasai semua orang.
Ia hanya perlu membuat sebagian besar orang tidak menyadari bahwa sistem itu ada.
Beberapa minggu kemudian, dokumen yang berhasil diselamatkan Aruna dan Bima mulai dipublikasikan.
Bukan sebagai tuduhan.
Bukan sebagai hukuman.
Tetapi sebagai pertanyaan.
Bagaimana sebuah kebijakan dibuat?
Siapa yang memperoleh keuntungan?
Dari mana modal berasal?
Siapa yang memiliki perusahaan?
Bagaimana rantai distribusi bekerja?
Siapa yang mengawasi?
Dan yang paling penting:
Siapa yang bertanggung jawab ketika sebuah keputusan ternyata merugikan masyarakat?
Publik mulai memperdebatkannya.
Sebagian percaya.
Sebagian menyangkal.
Sebagian menganggap semua itu hanya teori.
Namun untuk pertama kalinya, pertanyaan-pertanyaan tersebut berada di ruang publik.
Darma muncul kembali melalui sebuah wawancara singkat.
Surya menyerahkan sebagian arsip kepada lembaga independen.
Rangga diperiksa dalam sejumlah perkara ekonomi.
Mahendra menghilang.
Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Sementara Aruna tetap menulis.
Ia menyadari bahwa kebenaran tidak selalu datang seperti petir.
Kadang-kadang ia datang seperti hujan.
Sedikit demi sedikit.
Menetes.
Membasahi tanah.
Lalu suatu hari, orang sadar bahwa seluruh permukaan telah berubah.
Setahun setelah peristiwa Ruang Rapat 0, Aruna kembali ke pelabuhan.
Tempat semuanya bermula.
Ia berdiri di depan laut.
Bima datang membawa dua gelas kopi.
“Masih mencari The Hand?” tanyanya.
Aruna tersenyum.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku mengerti.”
“Mengerti apa?”
Aruna memandang kapal-kapal yang bergerak di kejauhan.
“Tangan yang tidak terlihat tidak selalu berada di atas kita.”
Bima mengerutkan dahi.
“Lalu?”
“Kadang-kadang tangan itu ada di dalam keputusan kita sendiri.”
Bima diam.
Aruna melanjutkan.
“Ketika kita memilih sesuatu hanya karena murah tanpa bertanya dari mana asalnya.”
“Ketika kita menerima sebuah kebijakan tanpa membaca dampaknya.”
“Ketika kita membiarkan kepentingan pribadi lebih besar daripada kepentingan bersama.”
“Dan ketika kita berhenti bertanya karena merasa semuanya bukan urusan kita.”
Ia menatap pelabuhan.
“Di situlah sebuah negeri mulai kehilangan kendali atas dirinya.”
Bima menyerahkan kopi.
“Jadi siapa yang menang?”
Aruna tersenyum.
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Karena ini bukan permainan yang punya pemenang.”
Ia memandang bendera Arkapura yang berkibar di kejauhan.
“Yang penting bukan siapa yang menang.”
“Lalu?”
“Yang penting adalah apakah kita masih mampu menjaga sesuatu yang bukan hanya milik kita.”
Malam itu, Aruna kembali ke apartemennya.
Ia membuka laptop.
Ada satu email baru.
Pengirimnya tidak dikenal.
Subjeknya:
PHASE IV
Aruna membukanya.
Hanya ada satu kalimat.
Jika kau pikir Project Garuda sudah selesai, lihat apa yang terjadi di luar Arkapura.
Di bawahnya terdapat sebuah peta dunia.
Beberapa titik merah menyala.
Bukan satu.
Bukan lima.
Puluhan.
Aruna menatap layar cukup lama.
Kemudian sebuah file otomatis terbuka.
Nama filenya:
GARUDA GLASS — GLOBAL.
Aruna tersenyum tipis.
Bukan karena bahagia.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia akhirnya mengerti bahwa beberapa pertanyaan memang tidak pernah selesai.
Ia menutup laptop.
Di luar jendela, matahari perlahan muncul.
Negeri Arkapura memasuki pagi baru.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna menyadari:
Sebuah negeri tidak menjadi kuat karena tidak pernah dikhianati.
Sebuah negeri menjadi kuat ketika rakyatnya mampu mengenali pengkhianatan, mempertanyakan kekuasaan, menjaga hukum, dan tidak menyerahkan masa depan kepada siapa pun tanpa pengawasan.
Project Garuda mungkin telah berakhir.
Tetapi pertanyaannya baru saja dimulai.
Siapa sebenarnya The Hand?
Dan mengapa titik-titik merah itu berada di seluruh dunia?
BERSAMBUNG...
Epilog
Tidak semua rahasia harus segera memiliki jawaban.
Sebab terkadang, nilai sebuah cerita bukan terletak pada siapa penjahatnya.
Melainkan pada keberanian untuk bertanya sebelum terlambat.
Project Garuda Glass adalah kisah fiksi tentang ekonomi, kekuasaan, pengkhianatan, dan kemandirian. Di balik semua itu terdapat satu gagasan sederhana:
Kedaulatan bukan hanya tentang siapa yang memimpin sebuah negeri, tetapi juga tentang seberapa sadar masyarakat mengawasi arah negerinya.
Disclaimer
Cerita Project Garuda Glass sepenuhnya merupakan karya fiksi thriller politik-ekonomi. Negeri Arkapura, tokoh, organisasi, perusahaan, dokumen, serta seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita merupakan bagian dari dunia fiktif dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap individu, perusahaan, lembaga, atau negara nyata. Cerita ini dibuat sebagai karya sastra, hiburan, dan refleksi filosofis mengenai kekuasaan, ekonomi, integritas, tanggung jawab, dan kemandirian sebuah bangsa.
