Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jangan Putus Sekolah Nak!


Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919
Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919


Pengalaman adalah guru terbaik, oleh karena itu saya ingin sekali berbagi pengalaman yang pernah saya alami, yaitu selama menjadi Kepala Sekolah di beberapa Sekolah Dasar (SD).

Semoga pengalaman saya ini bisa bermanfaat bagi para pembaca yang membaca tulisan sederhana ini. 

Seperti kita ketahui, pemerintah telah mewajibkan sekolah bukan bukan lagi 9 tahun, tapi 12 tahun. Artinya, pemerintah berharap agar para penerus bangsa ini minimal bisa sekolah sampai di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas(SLTA), ini adalah salah satu cara pemerintah untuk menekan pernikahan dini. 

Oleh karena itu tugas Kepala Sekolah dan stakeholder internal adalah mendukung program pemerintah tersebut.

Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919
Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919


Memotivasi peserta didik untuk  bisa sampai lulus di Sekolah Dasar (SD) bisa dibilang mudah  tapi juga lumayan sulit. Terlihat mudah, tapi sulit dilaksanakan. 

Saya bisa mengatakan seperti ini karena pengalaman yang pernah saya alami, yaitu ketika membujuk peserta didik agar tidak drop out. 


Saya selalu mendatangi peserta didik yang sering tidak masuk sekolah, memang ada yang berhasil saya bujuk dan ada juga ada beberapa yang tidak berhasil. Tapi setidaknya saya sudah berusaha.

Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919
Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919

Pengalaman pertama saya ketika ditempatkan di sekolah A. Mayoritas sekolah A itu adalah menengah ke bawah, pekerjaan orangtua sebagian besar adalah tenaga buruh dan pedagang keliling, wali murid yang bekerja kantoran hanya bisa dihitung dengan jari. Ketika saya awal bertugas disana, saya sudah disodorkan PR mengenai beberapa peserta didik yang tidak pernah masuk sekolah.

Saat itu saya bersama guru kelas mengunjungi rumah-rumah peserta didik. Ada peserta didik tidak sekolah karena harus menjaga adiknya yang masih kecil karena ibunya pergi entah kemana, dan bapaknya yang seorang buruh bangunan juga tidak mungkin membawa anaknya yang masih kecil ketika bekerja.

Waktu itu, panjang lebar saya coba memberikan penjelasan pada sang bapak, agar tetap menyekolahkan anaknya, saat itu saya sampai memberikan keringanan agar anaknya bisa tetap bersekolah, salah satunya saya mengijinkan anaknya untuk tetap membawa adiknya ke sekolah juga, dan bila tidak ada uang jajan, tinggal bilang pada saya. 

Saya memberi keringanan dengan harapan peserta didik itu tetap bisa bersekolah, dan tidak ada alasan untuk berhenti sekolah. Saat itu peserta didik yang saya datangi masih kelas IV. 

Keesokan paginya saya pantau kelas IV, dan peserta didik itu datang ke sekolah, saya memberinya uang jajan dan adiknya di titipkan di tetangga. 


Sampai akhirnya peserta didik itu ceria, ternyata ibunya sudah kembali dan berkumpul lagi dengan mereka, dan Alhamdulillah peserta didik itu sampai lulus SD. 

Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919
Ilustrasi gambar: Jangan Putus Sekolah Nak!_Dokpri ADSN1919


Masih di Sekolah A, saya mendapat laporan ada peserta didik yang sudah tiga bulan tidak ke sekolah, padahal sudah kelas VI dan masuk semester dua. Guru kelas mendatangi rumah peserta didik, Ternyata peserta didik dan keluarga nya itu tidak ada di rumah, rumahnya kosong, hari berikutnya saya beserta guru pergi ke rumahnya, dan memang tidak ada siapa-siapa di rumah itu, usut punya usut, ternyata menurut tetangga peserta didik saya itu pergi mengamen. 

Karena sulit ditemui dan dihubungi, akhirnya saya menitip surat panggilan  pada adiknya yang kebetulan sekolah di tempat yang sama, untuk disampaikan pada orangtuanya. 


Esok paginya saya kedatangan seorang perempuan dengan rambut pirang dan kuku yang diberi kutek warna cerah, menemui saya dengan wajah cerah. Ternyata perempuan itu adalah orangtua yang saya datangi rumahnya, perempuan ini adalah ibu dari peserta didik yang lebih memilih mengamen daripada sekolah.

Jujur saja saat itu saya emosi sekaligus sedih saat mendengar ibu dari peserta didik saya itu berkata "Anak saya bandel, susah dinasehati!" katanya sambil cengar-cengir.

Saya  kesal mendengar jawaban itu hingga sempat berkata "Anak ibu itu seorang perempuan, sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah dan ibu malah menganggap hal seperti ini adalah biasa."

Saya tekankan kepada ibu dari peserta didik saya itu bahwa anaknya harus terus sekolah, setidaknya sampai ujian sekolah dan mendapat ijasah SD. Eh si ibu anak didik saya itu malah memilih agar anaknya tidak sekolah. 


Saat itu saya sampai meminta tanda tangan-nya dan membuat surat pernyataan, bahwa anaknya tidak mengikuti ujian. 

Ketika ibu itu pergi, saya menangis kare merasa gagal, padahal sekolah tinggal beberapa bulan lagi tapi peserta didik harus terhenti karena lingkungan pergaulan yang tidak ramah untuk anak-anak seusianya. 


Ketika mutasi ke sekolah B, kejadian terulang lagi, ada peserta didik kelas VI yang sudah enam bulan tidak sekolah, padahal menurut informasi dari guru peserta didik tersebut, si peserta didik ini termasuk anak yang pintar.

Kami kehilangan jejak karena mereka pindah rumah dan dari kabar yang kami terima, orangtuanya bercerai, peserta didik itu ikut bapaknya dan tidak punya handphone, sehingga kami dari pihak sekolah sama sekali tidak bisa menghubungi. 

Saat itu saya mengumpulkan orangtua murid kelas VI, meminta informasi, manatau ada yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan peserta didik tersebut. Alhamdulillah ada angin segar, ada orangtua yang menginformasikan bahwa peserta didik tersebut tinggal bersama ayahnya di Kabupaten Cirebon. 

Setelah bertemu dengan para orangtua, saya tugaskan guru olahraga untuk mencari alamat peserta didik tersebut.


Keesokan harinya saya mendapat kabar dari guru olahraga tersebut, bahwa rumah peserta didik sudah ditemukan dan sudah bertemu dengan mereka, dan akan ke sekolah untuk ikut ujian sekolah. 

Alhamdulillah saya sangat senang mendengarnya, disaat genting dan Ujian Sekolah tinggal enam  hari lagi, Allah memberi jalan. 

Ketika peserta didik itu ke sekolah, saya memberi motivasi kepadanya dan Alhamdulillah peserta didik tersebut ikut ujian dan tidak pernah datang telat.


Mutasi di sekolah C saya mendapat kabar yang sama, ada peserta didik kelas VI yang sering bolos dan kakaknya juga seperti itu ketika SD. Ketika saya mengecek ke kelas-kelas, saya selalu memotivasi para peserta didik yang ada, bahwa perjalanan di SD tinggal beberapa langkah lagi menuju sekolah yang lebih tinggi, jadi  jangan sampai bolos apalagi ketika Ujian Sekolah.

Saya meminta pada peserta didik untuk saling mendukung dan saling memotivasi antara satu dengan yang lain, dan yang bolos akan saya datangi ke rumahnya. 


Peserta didik yang sering bolos keesokan harinya berangkat ke sekolah, saya panggil ke ruang saya dan saya beri nasehat. 

Menurut laporan guru kelas peserta didik tersebut, setelah saya nasehati, si peserta didik tersebut setiap hari masuk sekolah dan ikut ujian praktek.

Semoga pas Ujian Sekolah nanti, peserta didik tersebut hadir kembali. Aamiin


Setiap peserta didik kelas VI ujian, saya selalu menugaskan satu atau dua orang guru sebagai tim penjemput bagi peserta didik yang bermasalah. 


Kesimpulan

1. Sekolah tanpa dukungan orangtua tidak akan berjalan dengan baik. 

2. Masalah orangtua sangat berpengaruh pada perkembangan anak. 

3. Perhatian Kepala Sekolah dan guru sangat dibutuhkan oleh peserta didik sebagai penyemangat mereka.

4. Perhatian dan rasa peduli antar teman pengaruhnya sangat besar pada peserta didik yang mempunyai masalah, baik dari keluarga atau masalah dari dirinya sendiri. 


Salam,

ADSN1919





 Kontibutor

© Warkasa1919.com, All rights reserved.

Mau donasi lewat mana?

Paypal
Bank BNI - An.warkasa / Rek - 0223432494
Traktir creator minum kopi dengan cara memberi sedikit donasi. klik icon panah di atas

4 komentar untuk "Jangan Putus Sekolah Nak!"

  1. Terimakasih untuk artikelnya Mbak Din, inspiratif 😊👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas, dan terimakasih sudah mau menerima artikel ini 😁☺️

      Hapus
  2. Dedikasi pendidik menyelamatkan murid, sementara karena berbagai keadaan keputusan orang tua yang tidak sejalan program wajib sekolah mengancam masa depan anak.

    Terima kasih Bu Dini telah mengungkap realita dan tantangan bidang pendidikan.
    Hormat saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama pak puji, terimakasih sudah mampir 🙏🙏

      Hapus