Project Garuda Glass — Bagian 1: Negeri yang Dijual Murah
Serial Fiksi Thriller Politik-Ekonomi Warkasa1919.com
Hujan turun sejak sore di Kota Banyuarta.
Air mengalir di sepanjang jalan, membawa sampah plastik, daun kering, dan puntung rokok menuju selokan yang sudah hampir penuh.
Di depan sebuah warung kecil, seorang lelaki bernama Jaka duduk sendirian.
Tangannya menggenggam sebungkus rokok.
Bukan karena ia ingin merokok.
Ia hanya sedang memandangi tulisan harga di etalase.
Harga rokok produksi dalam negeri kembali naik.
"Naik lagi?" tanyanya.
Pemilik warung mengangguk.
"Katanya pajak dan cukai naik."
Jaka tertawa kecil.
Tawa yang lebih mirip keputusasaan.
"Kalau begini terus, yang bisa beli cuma orang kaya."
Pemilik warung tidak menjawab.
Di sebelahnya terdapat beberapa bungkus rokok tanpa pita cukai yang dijual dengan harga jauh lebih murah.
Jaka menunjuknya.
"Itu?"
"Rokok ilegal."
"Kenapa dijual di sini?"
Pemilik warung mengangkat bahu.
"Kalau tidak saya jual, warung saya tidak laku."
Jaka terdiam.
Di kejauhan, suara sirene terdengar.
Sebuah mobil patroli melintas.
Beberapa detik kemudian, kendaraan itu menghilang di tikungan.
Pemilik warung tersenyum getir.
"Besok mungkin ada razia."
"Bagus dong."
"Bagus di televisi."
Jaka menatapnya.
"Maksudnya?"
"Setelah kamera pergi, barangnya biasanya kembali."
Hujan semakin deras.
Jaka tidak lagi bertanya.
Namun malam itu, sebuah pertanyaan mulai tumbuh di kepalanya.
Siapa sebenarnya yang sedang menang dalam permainan ini?
Pabrik yang Mematikan Mesin
Tiga minggu kemudian, pabrik tempat Jaka bekerja selama hampir dua puluh tahun berhenti beroperasi.
Pagi itu, ribuan pekerja berdiri di halaman pabrik.
Tidak ada suara mesin.
Tidak ada asap dari cerobong.
Tidak ada truk keluar masuk.
Hanya suara pengumuman dari pengeras suara.
"Perusahaan melakukan penghentian produksi sementara karena tekanan biaya dan kondisi pasar."
Sementara.
Itulah kata yang digunakan manajemen.
Tetapi para pekerja memahami maknanya.
Pabrik mungkin tidak akan pernah kembali.
Jaka menerima surat pemutusan hubungan kerja dengan tangan gemetar.
Di perjalanan pulang, ia melewati toko-toko yang dipenuhi produk murah dari luar negeri.
Ironisnya, produk-produk tersebut semakin mudah ditemukan justru ketika produk buatan dalam negeri semakin mahal.
Jaka berhenti di depan sebuah toko.
Ia melihat rak penuh barang.
"Bagaimana bisa?"
Ia bergumam.
Biaya produksi perusahaan lokal meningkat.
Pajak meningkat.
Distribusi meningkat.
Namun barang yang masuk dari luar justru tetap murah.
Jaka bukan ekonom.
Ia tidak mengerti teori perdagangan internasional.
Tetapi sebagai rakyat biasa, ia tahu satu hal:
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Wartawan yang Tidak Mau Berhenti Bertanya
Nama perempuan itu Aruna.
Usianya tiga puluh dua tahun.
Seorang wartawan investigasi yang bekerja untuk sebuah media independen di ibu kota Arkapura.
Aruna awalnya hanya mendapat tugas menulis mengenai gelombang PHK di industri dalam negeri.
Namun setelah melakukan wawancara dengan beberapa perusahaan, ia menemukan pola yang sama.
Hampir semua perusahaan mengatakan hal serupa.
"Biaya produksi meningkat."
"Permintaan turun."
"Barang ilegal semakin banyak."
"Persaingan tidak sehat."
"Penegakan hukum tidak konsisten."
Aruna mulai membuat tabel.
Di kolom kiri ia menulis nama perusahaan lokal.
Di kolom kanan ia menulis harga produk ilegal yang bersaing dengannya.
Semakin lama ia menyusun data, semakin aneh hasilnya.
Pola itu muncul di berbagai kota.
Bukan hanya rokok.
Produk makanan.
Tekstil.
Elektronik.
Kosmetik.
Bahkan beberapa barang kebutuhan sehari-hari.
Aruna membuka peta digital.
Ia memberi tanda merah pada lokasi-lokasi tempat produk ilegal ditemukan.
Kemudian ia menarik garis.
Pelabuhan.
Gudang.
Distributor.
Pasar.
Garis-garis tersebut perlahan membentuk pola.
Aruna membeku.
Sebagian besar jalur berakhir pada kawasan industri yang memiliki hubungan dengan perusahaan asing tertentu.
Namun ia belum memiliki bukti.
Ia membutuhkan sumber.
Dan malam itu, sumber tersebut datang sendiri.
Telepon Pukul 23.17
Pukul 23.17.
Telepon Aruna berdering.
Nomor tidak dikenal.
"Hallo?"
Tidak ada jawaban.
"Siapa?"
Suara laki-laki terdengar sangat pelan.
"Kalau Anda ingin tahu mengapa industri negeri ini sedang dihancurkan, jangan cari di pasar."
Aruna berdiri.
"Siapa Anda?"
"Carilah di pelabuhan."
"Pelabuhan mana?"
Suara itu diam beberapa detik.
"Pelabuhan Merah."
Klik.
Telepon terputus.
Aruna memandangi layar.
Tidak ada nama.
Tidak ada nomor yang bisa dihubungi kembali.
Ia mengambil jaket.
Pelabuhan Merah
Pelabuhan Merah adalah kawasan yang selalu ramai pada siang hari.
Namun pukul dua dini hari, tempat itu berubah menjadi dunia lain.
Kontainer berjajar seperti dinding raksasa.
Lampu-lampu kuning menerangi jalan.
Truk keluar masuk tanpa henti.
Aruna berdiri dari kejauhan.
Ia membawa kamera kecil dan buku catatan.
Tidak lama kemudian, sebuah truk berhenti.
Beberapa pekerja memindahkan kardus.
Aruna memperbesar kameranya.
Ia melihat tulisan pada kardus.
Tidak ada tanda cukai.
Tidak ada dokumen yang terlihat.
Kemudian sebuah mobil hitam datang.
Seorang pria turun.
Ia berbicara dengan kepala gudang.
Beberapa menit kemudian, truk kembali bergerak.
Aruna memotret.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tiba-tiba seseorang berdiri di belakangnya.
"Jangan ambil foto lagi."
Aruna membalikkan badan.
Seorang pria berjaket hitam menatapnya.
"Anda siapa?"
"Orang yang sedang menyelamatkan Anda dari masalah."
Aruna mundur.
Pria itu menunjuk kameranya.
"Hapus."
"Tidak."
"Anda tidak tahu siapa yang Anda lawan."
Aruna tersenyum tipis.
"Mungkin saya memang tidak tahu."
Ia menatap pria tersebut.
"Tapi saya ingin tahu."
Pria itu pergi.
Aruna menunggu beberapa menit sebelum meninggalkan tempat itu.
Namun ia tidak menyadari bahwa seseorang telah mengikutinya.
Flash Drive Hitam
Pagi berikutnya, Aruna menerima paket kecil di kantor.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada alamat.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah flash drive berwarna hitam.
Sebuah kertas kecil menyertainya.
Hanya ada satu kalimat:
Jangan buka menggunakan komputer kantor.
Aruna membawa flash drive tersebut pulang.
Ia menggunakan laptop pribadi yang tidak terhubung ke jaringan kantor.
Di dalamnya terdapat satu folder.
Namanya:
GG-01
Ia membukanya.
Puluhan dokumen muncul.
Kontrak.
Foto.
Rekening.
Peta distribusi.
Daftar perusahaan.
Dan satu file PDF yang diberi nama:
GARUDA GLASS — PHASE I
Aruna membukanya.
Halaman pertama membuatnya terdiam.
Dokumen tersebut bukan laporan biasa.
Itu adalah rancangan operasi ekonomi.
Tujuannya tertulis jelas:
Mengubah struktur konsumsi domestik melalui tekanan harga, gangguan distribusi, penetrasi barang nonformal, dan pelemahan kapasitas produksi lokal.
Aruna membaca berulang kali.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia membuka halaman berikutnya.
Ada tabel.
Kolom pertama berisi sektor industri.
Kolom kedua berisi tingkat tekanan yang diperlukan.
Kolom ketiga berisi proyeksi perusahaan lokal yang akan kehilangan pangsa pasar.
Kolom terakhir berisi target penguasaan pasar.
Aruna menutup mulutnya.
"Ini bukan penyelundupan biasa."
Ia membuka dokumen berikutnya.
Daftar perusahaan asing.
Kemudian perusahaan lokal.
Kemudian nama-nama perantara.
Lalu...
nama pejabat.
Aruna berhenti.
Salah satu nama tersebut sangat terkenal.
Seorang pejabat tinggi yang selama ini sering berbicara tentang kemandirian ekonomi dan pentingnya industri nasional.
Aruna mengenal wajahnya.
Hampir setiap hari wajah itu muncul di televisi.
Tetapi sebelum ia sempat membaca seluruh dokumen, layar laptop tiba-tiba mati.
Bukan mati listrik.
Laptopnya mati secara paksa.
Kemudian terdengar suara ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Aruna membeku.
Ketukan terdengar lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia tidak bergerak.
Kemudian ponselnya menyala.
Satu pesan masuk.
KAMI TAHU ANDA SUDAH MEMBUKANYA.
Aruna mematikan lampu.
Ia mengambil flash drive.
Kemudian bersembunyi di balik pintu.
Beberapa detik kemudian...
gagang pintu bergerak.
Orang yang Tidak Seharusnya Ada
Pintu terbuka perlahan.
Seorang lelaki masuk.
Aruna bersiap berteriak.
Namun lelaki itu justru mengangkat kedua tangannya.
"Jangan takut."
Aruna menyalakan lampu.
Wajah lelaki tersebut terlihat.
Usianya sekitar enam puluh tahun.
Rambutnya putih.
Aruna mengenalinya.
"Darma?"
Lelaki itu adalah Darma Wiratama.
Mantan pejabat negara yang pernah menjadi salah satu pengambil kebijakan ekonomi penting Arkapura.
Orang yang selama beberapa tahun terakhir hampir tidak pernah muncul di media.
Darma memandang flash drive di tangan Aruna.
"Anda sudah melihat Project Garuda Glass."
"Anda yang mengirimnya?"
Darma menggeleng.
"Bukan."
"Lalu siapa?"
Darma berjalan mendekat.
"Orang yang mengirim itu ingin Anda menemukan sesuatu."
"Apa?"
Darma menatap Aruna dengan serius.
"Bahwa kehancuran industri negeri ini bukan tujuan akhirnya."
Aruna terdiam.
"Lalu apa tujuan akhirnya?"
Darma menjawab pelan.
"Mereka tidak ingin menguasai pasar Arkapura."
Ia berhenti.
"Mereka ingin menguasai keputusan Arkapura."
Aruna merasa tubuhnya dingin.
Darma kemudian mengeluarkan sebuah amplop tua.
"Ini bagian kedua."
Aruna mengambilnya.
Pada bagian depan amplop tertulis:
PROJECT GARUDA GLASS — PHASE II
Namun sebelum Aruna membukanya, Darma berkata:
"Setelah Anda membaca ini, Anda tidak akan bisa kembali menjadi wartawan biasa."
Aruna menatap amplop tersebut.
Kemudian melihat Darma.
"Kenapa Anda membantu saya?"
Darma tersenyum.
"Saya tidak membantu Anda."
"Terus?"
"Saya sedang menebus sesuatu."
Ia berbalik menuju pintu.
Sebelum pergi, Darma berhenti.
"Dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Jangan percaya siapa pun yang terlalu keras mengaku sebagai penyelamat negeri."
Pintu tertutup.
Aruna berdiri sendirian.
Amplop hitam masih berada di tangannya.
Di luar, suara kendaraan mulai terdengar.
Kota Banyuarta kembali hidup.
Tetapi sejak malam itu, Aruna tahu bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di balik kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sebuah perang tanpa tentara.
Perang tanpa peluru.
Perang yang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang.
Kedaulatan sebuah bangsa.
Aruna membuka amplop itu.
Dan di halaman pertama tertulis sebuah kalimat:
"Phase II dimulai ketika rakyat tidak lagi percaya bahwa produk negerinya sendiri layak dibeli."
Di bawah kalimat tersebut terdapat satu daftar nama.
Aruna membaca nama pertama.
Kemudian nama kedua.
Nama ketiga.
Lalu ia menemukan sebuah nama yang membuat tangannya gemetar.
Darma Wiratama.
Aruna membeku.
"Mustahil..."
Jika Darma adalah bagian dari Project Garuda Glass...
mengapa ia justru datang untuk memperingatkannya?
Bersambung — Bagian 2: Pasar Bayangan
Disclaimer: Cerita ini sepenuhnya merupakan karya fiksi thriller politik-ekonomi. Negara, tokoh, perusahaan, pejabat, organisasi, proyek, peristiwa, serta jaringan yang muncul dalam cerita merupakan rekaan. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menuduh individu, perusahaan, pejabat, aparat, atau negara tertentu melakukan tindakan sebagaimana digambarkan dalam narasi.
